6 Fakta Tentang Boris Johnson, Perdana Menteri Baru Inggris

6 Fakta Tentang Boris Johnson, Perdana Menteri Baru Inggris

Virgina Maulita Putri - detikNews
Rabu, 24 Jul 2019 12:40 WIB
6 Fakta Tentang Boris Johnson, Perdana Menteri Baru Inggris Foto: Reuters
6 Fakta Tentang Boris Johnson, Perdana Menteri Baru Inggris Foto: Reuters
Jakarta - Boris Johnson terpilih menjadi Perdana Menteri Inggris baru menggantikan Theresa May yang mengundurkan diri di tengah kebuntuan akibat Brexit pada 7 Juni lalu.

Dalam pemungutan suara internal di kalangan Partai Konservatif, Johnson meraih 92.153 suara dan mengungguli rivalnya, Jeremy Hunt yang saat ini menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Inggris, yang meraih 46.656 suara.

Rupanya, pria bernama lengkap Alexander Boris de Pfeffel Johnson ini merupakan sosok yang ambisius. Salah satu ambisinya saat masih anak-anak adalah untuk menjadi penguasa dunia.



Lantas bagaimana sepak terjang Johnson sebelum menjabat posisi tertinggi di pemerintahan Inggris Raya? Berikut enam fakta tentang Boris Johnson yang dirangkum dari berbagai sumber.

1. Memiliki Dua Kewarganegaraan

Johnson merupakan anak dari pasangan Stanley Johnson, seorang mantan politisi, dan Charlotte Johnson Wahl, seorang seniman. Pria bernama lengkap Alexander Boris de Pfeffel Johnson ini lahir pada tanggal 19 Juni 1964 di New York, AS.

Kelahirannya didaftarkan di otoritas Amerika Serikat dan juga Konsulat Inggris di New York, sehingga ia mendapatkan kewarganegaraan AS dan Inggris.

2. Lulusan Sekolah Elit

Lahir di keluarga berada memberikan Johnson kesempatan untuk menempuh pendidikan di sekolah elit. Ia berhasil masuk ke sekolah asrama elit Eton College berkat beasiswa King's Scholarship. Saat berada di Eton, Johnson mulai memperlihatkan personanya sebagai orang Inggris kelas atas yang eksentrik.

Walau ia sering dilaporkan karena malas dan sering terlambat, Johnson merupakan murid yang populer di Eton. Di sana ia berteman dengan murid-murid yang berasal dari keluarga kaya.

Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Oxford, tepatnya Balliol College. Selama di Oxford ia mempelajari Latin dan Yunani Kuno. Johnson hanya satu dari sekian banyak lulusan Oxford yang kemudian menguasai politik Inggris, sebut saja David Cameron, Theresa May, Michael Gove, William Hague, Jeremy Hunt dan masih banyak lagi.



3. Memulai Karir Sebagai Jurnalis

Setelah pendidikannya selesai, Johnson memulai karirnya sebagai jurnalis untuk harian The Times berkat koneksi keluarga. Tapi, karirnya di The Times tidak bertahan lama karena Johnson ketahuan merekayasa kutipan narasumber dan kemudian dipecat.

Tapi, ia melanjutkan karirnya sebagai jurnalis di harian The Daily Telegraph dan berhasil menjadi koresponden di Brussels, Belgia. Lagi-lagi Johnson membuat kontroversi karena artikelnya sering memuat informasi palsu yang dibuat untuk mendiskreditkan Komisi Eropa.

Setelah itu, pada tahun 1999, Johnson didapuk sebagai editor harian sayap kanan The Spectator yang masih merupakan publikasi saudara dari The Daily Telegraph.

4. Karir Politik

Karir politik Johnson dimulai pada tahun 2001 ketika ia terpilih sebagai anggota parlemen untuk Partai Konservatif mewakili Henley. Ia kemudian terpilih lagi pada tahun 2005 dan menjabat sebagai anggota parlemen hingga tahun 2008.

Pada tahun 2008 ia terpilih menjadi Walikota London menggantikan Ken Livingstone dari Partai Buruh. Johson kemudian terpilih lagi untuk periode kedua pada tahun 2012 dan menjabat hingga tahun 2016. Selama masa kepemimpinannya, ia membanggakan pencapaiannya yang berhasil mengurangi angka kejahatan.

Tapi, ia tetap tidak lepas dari beberapa kebijakan yang kontroversial. Sebut saja proyek water cannon dan garden bridge yang berbiaya mahal dan dibiayai menggunakan uang publik.



5. Kembali ke Parlemen

Setelah jabatannya sebagai Walikota London berakhir, Johnson memutuskan kembali ke Parlemen dan terpilih sebagai perwakilan dari Uxbridge dan South Ruislip pada tahun 2015. Setahun kemudian ia ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri oleh Perdana Menteri Theresa May.

Saat menjadi diplomat tertinggi Inggris, Johnson melakukan sejumlah blunder, seperti saat ia menyebut seorang wanita keturunan Inggris-Iran yang ditahan di Iran atas dakwaan penghasutan sebagai seorang jurnalis.

Padahal wanita bernama Nazanin Zaghari-Ratcliffe tersebut sebelumnya mengaku bahwa ia hanya liburan di Iran. Hingga saat ini, Zaghari-Ratcliffe masih ditahan di Iran.

6. Pendukung Brexit

Sebagai politisi, Johnson mendukung keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau yang biasa disebut Brexit. Bersama Michael Gove, ia merupakan pemimpin dari kampanye Vote Leave saat referendum tahun 2016.

Untuk mengampanyekan gerakan pro-Brexit di seluruh Inggris, ia bahkan mengelilingi negara tersebut menggunakan bus merah yang ditempeli klaim kontroversial. Sisi bus tersebut memuat tulisan yang mengklaim bahwa Inggris mengirimkan uang sebesar 350 juta Euro per minggu kepada Uni Eropa. Padahal figur tersebut telah dibuktikan tidak benar oleh beberapa kritik.

Hingga saat ini pun, Johnson termasuk salah satu pendukung Brexit garis keras. Ia menekankan bahwa Inggris harus keluar dari Uni Eropa pada batas waktu yang ditentukan yaitu tanggal 31 Oktober 2019, dengan atau tanpa kesepakatan. (vmp/lus)