detikNews
Senin 22 Juli 2019, 07:12 WIB

Pelebaran Trotoar Cikini Diprotes Ferdinand, Pakar: Pejalan Kaki Nomor 1

Audrey Santoso - detikNews
Pelebaran Trotoar Cikini Diprotes Ferdinand, Pakar: Pejalan Kaki Nomor 1 Foto: Pakar tata kota Universitas Trisakti, Yayat Supriatna (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Pakar tata kota Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, mendukung proyek pelebaran trotoar di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Yayat menjelaskan dalam konteks sosiologi, pelayanan terhadap pejalan kaki adalah nomor satu.

"Saya setuju adanya pelebaran pedestrian, sambil memperbaiki angkutan umum yang lebih bagus. Kalau dari hierarki, struktur pelayanan, harusnya pejalan kaki itu nomor satu. Pejalan kaki nomor satu, kedua pengguna angkutan umum, baru ketiga adalah pesepeda motor atau angkutan lain, baru kendaraan pribadi itu paling bawah. Hierarki yang saya maksud dalam konteks pelayanan. Itu secara sosiologisnya," jelas Yayat kepada detikcom, Senin (22/7/2019).

"Pejalan kaki itu di mana-mana harus nomor satu, yang dilayani oleh angkutan publik yang layak dan manusiawi," imbuh Yayat.


Pelebaran trotoar di Cikini menjadi sorotan lantaran dikritik oleh Kadiv Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean, yang menilai pekerjaan itu membuat jalan untuk kendaraan bermotor jadi sempit dan macet. Terkait protes itu, Yayat menyebut selama ini masyarakat mendukung 'kemerdekaan' kendaraan pribadi.

"Sekarang ini yang komplain kan mereka yang menikmati ruang jalan semerdeka mungkin. Selama ini kita lebih banyak mendukung kemerdekaan, kepuasan para pengguna kendaraan bermotor pribadi. Sekarang ini kalau visi gubernur ingin wajah baru, dengan pelayanan transportasi yang lebih manusiawi," ujar Yayat.

"Memang pejalan kaki harus mendapat prioritas. Sekarang ini kan ibaratnya struktur harus membangun kultur. Sekarang ini, struktur itu dalam arti pembangunan pedestrian. Bagi kelompok yang mapan akan tersiksa karena selama ini mereka nyaman-nyaman saja. Jadi para pengguna kendaraan pribadi selama ini merasa dilayani begitu prima, mereka merdeka, merasa puas," sambung Yayat.


Yayat menerangkan untuk solusi untuk menyelesaikan pro dan kontra terkait pelebaran trotoar yang berimbas pada sempitnya ruas jalan adalah Pemprov DKI perlu mmenyediakan angkutan umum yang memadai dan layak. Semisal, tambah Yayat, diadakannya shutlle bus.

"Harusnya nanti Pak Gubernur, setelah melebarkan pedestrian adalah mempercepat dan memperbaiki angkutan umum untuk kawasan Cikini. Jadi mungkin harus ada shuttle bus dengan rute mengelilingi kawasan Cikini," kata Yayat.

Selain itu, Yayat juga merasa perlu diberlakukannya strategi traffic demand management. "Yaitu pengendalian pemanfaatan penggunaan kendaraan pribadi. Jadi keinginan untuk menggunakan kendaraan pribadi itu dikendalikan, bukan dilarang. Penyempitan yang terjadi di kawasan Cikini itu adalah upaya untuk pengendalian sebetulnya, bukan melarang," tutur Yayat.



Simak Video "Momen Kocak BPN Prabowo Serahkan Ferdinand Hutahaean ke TKN Jokowi"

[Gambas:Video 20detik]


(aud/knv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com