detikNews
Jumat 19 Juli 2019, 10:16 WIB

Kisah Tunanetra di Polman Sulbar yang Hidup di Gubuk Reyot

Abdy Febriady - detikNews
Kisah Tunanetra di Polman Sulbar yang Hidup di Gubuk Reyot Irfan tinggal di gubuk reyot. (Abdy/detikcom)
Polewali Mandar - Kisah hidup ini dijalani Irfan (46 tahun), warga Dusun 5, Desa Bonde, Kecamatan Campalagian , Kabupaten Polewali Mandar. Dengan kondisi kedua mata yang tidak dapat melihat, Irfan harus berjuang menghidupi sang istri, Masrida (26 tahun), serta kedua buah hatinya, Masrullah (7 tahun) dan Nahda Alsida (1 tahun).

Sehari-hari, Irfan, yang bekerja sebagai tukang pijit panggilan, tinggal di gubuk reyot berukuran 2 x 4 meter yang dibangun secara swadaya oleh warga setempat. Gubuk yang berada di tengah area perkebunan yang jauh dari permukiman warga ini tidak memiliki sambungan listrik.

"Sebenarnya pihak keluarga pernah menawarkan untuk tinggal bersama mereka, namun saya tolak karena ingin hidup mandiri bersama istri dan anak," kata Irfan kepada wartawan yang berkunjung ke rumahnya, Jumat (12/7/2019).



Selain menjadi hunian bagi keluarga kecilnya, gubuk tersebut kerap dimanfaatkan Irfan sebagai tempat melayani warga yang ingin memanfaatkan jasanya sebagai tukang pijit. Upahnya tidak seberapa, bahkan tidak jarang Irfan hanya diberi ucapan terima kasih dari warga yang memanfaatkan jasanya.

"Seikhlasnya saja Pak, kadang diberi Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu, kadang juga hanya diberi ucapan terima kasih," cerita Irfan sembari tertawa.



Irfan juga mengaku tidak jarang harus meninggalkan istri dan kedua buah hati yang dicintainya lantaran dijemput warga yang ingin dipijit.

"Biasanya dibawa ke daerah Mamuju, menginap di sana untuk memijit, setelah itu diantar kembali ke sini," katanya.

Kendati pendapatan yang diperoleh dari hasil memijit tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Irfan mengaku tetap bersyukur karena Tuhan masih senantiasa memberi kesehatan baginya untuk terus berusaha.

Kisah Tuna Netra di Polman Sulbar yang Hidup di Gubuk Reot Irfan tinggal di gubuk reyot. (Abdy/detikcom)


"Alhamdulillah, Pak, walau penghasilan tidak pernah cukup, apalagi pekerjaan sebagai tukang pijit juga tidak rutin dilakukan tiap hari, selalu saja ada jalan setiap kali saya merasa ada kesulitan, biasanya ada warga berkunjung dan memberi sedikit bantuan, termasuk bantuan raskin dari pemerintah desa," ungkapnya haru.

Untuk membantu menopang ekonomi keluarga, sang istri mengaku pernah bekerja sebagai penenun kain sarung. Satu sarung yang ditenun selama seminggu dijual seharga Rp 80-100 ribu.

"Namun sejak beberapa tahun terakhir, pekerjaan itu tidak saya lakukan lagi lantaran harus mengurusi anak," kenang Marsida.

Kebutaan pada kedua mata Irfan diakui telah terjadi saat usianya baru 6 tahun. Berawal dari penyakit cacar yang dideritanya dan tak kunjung terobati. Walau sempat merasakan kesedihan, Irfan mengaku tidak ingin larut, sehingga ketika usianya memasuki 20 tahun, tidak jarang ada warga yang memintanya memijit, yang menjadi profesinya saat ini. Semangat Irfan untuk terus bekerja menjalani hidup kian menggelora setelah menikah dan dikaruniai dua anak.

Simak Video "Penyandang Tuna Netra Belajar Berhias, Surabaya "
[Gambas:Video 20detik]

(rvk/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com