Kasus Novel Belum Terungkap, Koalisi Antikorupsi Aksi Teatrikal 'Polisi Tidur'

Kasus Novel Belum Terungkap, Koalisi Antikorupsi Aksi Teatrikal 'Polisi Tidur'

Audrey Santoso - detikNews
Senin, 15 Jul 2019 17:24 WIB
Koalisi masyarakat antikorupsi menggelar aksi teatrikal bertajuk Melaporkan Kasus Penyerangan Novel Baswedan ke Polisi Tidur.  (Foto: Audrey/detikcom)
Koalisi masyarakat antikorupsi menggelar aksi teatrikal bertajuk 'Melaporkan Kasus Penyerangan Novel Baswedan ke Polisi Tidur'. (Foto: Audrey/detikcom)
Jakarta - Koalisi masyarakat antikorupsi menggelar aksi teatrikal bertajuk 'Melaporkan Kasus Penyerangan Novel Baswedan ke Polisi Tidur'. Aksi tersebut ditujukan untuk menyinggung aparat yang belum mampu mengusut tuntas kasus penyerangan terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

"Di sini ICW, Kontras, Amnesty Internasional dan LBH Jakarta, kami di sini mendesak dan mendorong ke penegak hukum yang mana kita ketahui bahwa laporan tersebut sudah dilaporkan kepada Polri dan Polri harus menuntaskan kasus Novel. Karena kami menganggap ketika ini tidak diselesaikan, maka akan jadi preseden buruk ke depan," kata aktivis antikorupsi dari ICW, Wana Alamsyah di lokasi, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (15/7/2019).



Aksi digelar di samping gedung Bareskrim, Polri. Para peserta aksi berdiri di depan gulungan seperti polisi tidur.

Gulungan mirip polisi tidur itu diibaratkan sebagai polisi yang 'tidur' dalam menangani kasus Novel. Selain itu, ada juga tulisan agar pegiat antikorupsi dilindungi.



Wana mengaku pesimistis atas kerja polisi dalam mengungkap kasus Novel. Sudah dua tahun berlalu, pelaku penyerangan Novel belum juga terungkap.

"Polisi tidur itu cerminan bahwa ketika TGPF itu selesai dan Polri tidak mengumumkan, kami pesimis dengan kerja-kerja yang dilakukan kepolisian. Seharusnya selama dua tahun kasus Novel ditangani, itu harusnya menemukan titik terang atau tersangka," ungkap Wana.

Wana juga mengungkit kasus teror bom di rumah pimpinan KPK yang hingga kini belum terungkap. Menurut Wana, negara harus hadir untuk menyelesaikan kasus-kasus tersebut agar tak terulang kejadian serupa.

"Pimpinan KPK juga pernah diintimidasi dan teror bom. Dengan adanya indikasi semacam itu, negara harus hadir dalam menuntaskan kasus yang dialami pejabat negara," tutur Wana.

Wana juga membeberkan mengenai sejumlah kasus ancaman tindak pidana atau intimidasi yang dialami pegiat antikorupsi. Berdasarkan data yang dihimpun, Wana menyebut ada 91 kasus yang dilaporkan ke kepolisian.

"Dari data yang dikumpulkan, ada 91 kasus ancaman tindak pidana atau intimidasi yang terjadi dan dialami aktivis antikorupsi, yang mana pada saat bersamaan sedang melaporkan kasus-kasus korupsi," ujar Wana.




Tonton Video Menanti Titik Terang Kasus Novel Baswedan:

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Kasus Novel Baswedan Masih Buntu?"
[Gambas:Video 20detik]
(aud/knv)