Melihat Lebih Dekat Kondisi Korban Kebakaran Tebet di Tenda Pengungsian

Elmy Tasya Khairally - detikNews
Kamis, 11 Jul 2019 16:00 WIB
Pengungsi kebakaran Tebet di SDN 05 Manggarai. (Elmy Tasya Khairally/detikcom)
Jakarta - Siang hari di tenda biru, orang-orang mengipasi tubuhnya dengan topi. Pengap tetap sulit diusir dari tenda pengungsian ini. Meski tak nyaman namun Pena Sukarti tetap bersyukur, yang penting nyawa keluarga selamat dari amukan si jago merah Rabu (10/7) kemarin.

"Udah lah, yang penting nyawa aja, yang penting anak-anak saya aja (bisa selamat)," kata Pena Sukarti, ibu dua anak korban kebakaran Tebet di tenda pengungsian, SDN 05 Manggarai, Jl Swadaya 1, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (11/7/2019).

Pena adalah salah satu korban kebakaran permukiman di Jl Swadaya 1. Ada 150 rumah yang hangus dilalap api. 778 Warga mengungsi. Halaman SDN 05 ini adalah salah satu dari tiga titik pengungsian keluarga korban kebakaran.



Di sini, empat tenda setinggi sekitar 2 meter dari Dinas Sosial DKI berdiri. Satu tenda masing-masing diisi sekitar enam hingga tujuh kepala keluarga. Di sini ada anak-anak dan balita.

Namun karena gerah, banyak yang memilih nongkrong di luar tenda. Terlihat anak-anak kecil rebahan di atas tikar. Orang-orang dewasa berbincang satu sama lain di sana-sini berbagi pengalaman tentang bagaimana mereka menyelamatkan diri dari kebakaran.

Melihat Lebih Dekat Kondisi Korban Kebakaran Tebet di Tenda PengungsianPena Sukart. (Elmy Tasya Khairally/detikcom)

"Saya lagi di lantai dua rumah saya, udah gitu ada yang teriak, 'Kebakaran!' Langsung, saya turun ke bawah, apinya sudah gede! Ternyata (kebakaran) sudah sampai di samping rumah saya," kata Pena Sukarti.



Di rumahnya, RT 13 RW 07, dia tinggal bersama suami dan anaknya. Beruntung, Pena sudah mengenali lingkungan ini. Dia paham bahwa deretan rumah yang dia tinggali rentan kebakaran. Maka surat-surat penting dia kumpulkan di satu tempat yang mudah diakses dan diselamatkan.

"Udah, saya lari sama anak saya, mau balik lagi udah nggak ada. Suami saya ikut bantu menghadapi (api) tapi nggak bisa. Terlambat," kata Pena.



Surat-surat penting berhasil diselamatkan, namun barang-barang elektronik bahkan pakaian sehari-hari ludes terbakar. Rapor hingga seragam sekolah anaknya yang baru saja dibeli juga ikut terbakar. Seragam itu sedianya dipakai untuk anaknya yang mau masuk kelas 1 SD, Zahra (6). Kakak Zahra bernama Abu Bakar (9) kelas 3 SD juga kehilangan seragam sekolah.

Melihat Lebih Dekat Kondisi Korban Kebakaran Tebet di Tenda PengungsianZahra dan Abu Bakar (Elmy Tasya Khairally/detikcom)

"Saya beli seragam baru buat adiknya Abu Bakar juga, baru kemarin saya nyobain seragam baru ke dia. Eh... tadi nyobain pakai seragam bekas. Alhamdulillah sih dapat banyak," tutur Pena.

Dia memunguti pakaian hasil bantuan yang digelar di pelataran sekolah ini. Para pengungsi lain juga memilah baju-baju bantuan itu.

Melihat Lebih Dekat Kondisi Korban Kebakaran Tebet di Tenda PengungsianPakaian bantuan. (Elmy Tasya Khairally/detikcom)

Senin (15/7) pekan depan, anak-anak mulai masuk sekolah. SD tempat mereka mengungsi juga akan menjadi lokasi belajar-mengajar. Pena sekeluarga sudah ancang-ancang beranjak dari tenda Dinas Sosial.

"Mau ngontrak di daerah sini saja," kata Pena.

Di sudut tenda lainnya, ada Misri yang juga pengungsi kebakaran Tebet. Pikirannya kini terbagi, antara hendak ke mana setelah di pengungsian dan berkonsentrasi pada operasi ginjal yang akan dia jalani besok malam. Setelah operasi ginjal, dia berencana pulang kampung saja ketimbang mengontrak.

Melihat Lebih Dekat Kondisi Korban Kebakaran Tebet di Tenda PengungsianMisri (Elmy Tasya Khairally/detikcom)

"Mau pulang kampung aja. Kalau di sini kan kita harus mikirin istilahnya duitnya. Makanya mau pulang kampung aja, mau menenangkan diri dulu," kata Misri.

Fatya dari RT 12 paham bahwa mengontrak di daerah Tebet butuh uang yang cukup. Dia berharap pemerintah membantu para pengungsi mendapat tempat tinggal yang layak. Soalnya, rumah mereka sudah gosong dan tak bisa ditinggali.

"Ya kalau semua pada ngontrak di sini kan emang susah. Kita juga usaha sih nyari kontrakan," kata Fatya.



Simak Video "Jajanan Tempo Dulu Tebet Jakarta Selatan"
[Gambas:Video 20detik]
(dnu/hri)