detikNews
Senin 08 Juli 2019, 17:38 WIB

Amnesty International Apresiasi Keterbukaan Polri soal Kerusuhan 22 Mei

Audrey Santoso - detikNews
Amnesty International Apresiasi Keterbukaan Polri soal Kerusuhan 22 Mei Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid (Audrey/detikcom)
Jakarta - Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengatakan kepolisian bersikap terbuka saat pihaknya menyodorkan informasi terkait adanya beberapa kasus tindak kekerasan yang dilakukan oknum Polri saat kerusuhan 21 dan 22 Mei. Usman juga mengapresiasi sikap Polri yang langsung memberi sanksi terhadap oknum anggotanya.

"Kami mengapresiasi apa yang dilakukan pihak kepolisian terkait dengan insiden kekerasan di Kampung Bali (Tanah Abang, Jakarta Pusat), dengan pemberian hukuman disiplin kepada 10 anggota Brimob yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Namun kami sampaikan pula ada insiden kekerasan yang dilakukan oleh anggota Brimob di sejumlah lokasi lainnya, termasuk beberapa insiden di area yang sama di dekat Kampung Bali," kata Usman setelah bertemu dengan para penyidik Bareskrim, yang dipimpin oleh Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (8/7/2019).

"Atas penyampaian tersebut, Tim Supervisi Mabes Polri membuka diri dan menjelaskan kepada kami bahwa peristiwa-peristiwa kekerasan lainnya, di luar dari insiden Kampung Bali yang menurut kepolisian dialami oleh Andriansyah (Andri Bibir), itu akan diselidiki," sambung dia.



Usman mengatakan kepada pihaknya, polisi menyampaikan akan terus menginvestigasi kekerasan lain yang dialami korban rusuh 21-22 Mei 2019. Termasuk perihal korban tewas saat kerusuhan di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Polri, kata Usman, juga telah mengirim tim untuk melakukan investigasi di sana.

"Ada dua kasus (korban tewas) lagi yang harus dijelaskan. Pertama adalah kasus Farhan dan kedua itu saya lupa. Itu juga dari pihak kepolisian akan dilanjutkan proses investigasi yang berikutnya tentang siapa yang melakukan penembakan terhadap tujuh orang lainnya di luar dari Abdul Aziz dan Harun Al Rasyid. Termasuk yang Pontianak, Tim Mabes Polri juga sudah ke Pontianak," ucap Usman.

Dalam audiensi itu, Usman mengatakan polisi juga menjelaskan sejauh ini telah berhasil mengidentifikasi empat korban tewas. Sedangkan peristiwa kematian korban yang lainnya belum menemukan titik terang karena minimnya saksi. Selain itu, Polri berhasil menginvestigasi beberapa satuan yang anggotanya diduga terlibat dalam aksi kekerasan terhadap massa.

"Memang seluruh kasus kematian itu baru bisa diidentifikasi kurang-lebih empat kasus. Nah, tetapi memang ada sejumlah kematian lainnya yang memang belum bisa diproses lebih jauh karena kekurangan saksi. Tapi itu akan tetap dilanjutkan, sampai bisa ditemukan siapa pelaku kekerasan atau pelaku penembakan terhadap mereka yang tewas itu," tutur Usman.

"Ada beberapa satuan yang sudah mulai diidentifikasi, yang mungkin anggotanya terlibat di dalam kekerasan," katanya.

Usman, yang mengaku semula ragu dengan investigasi yang dilakukan aparat, kini berbalik memberi kesan positif. Usman menilai desakan berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) agar Polri menyampaikan perkembangan investigasi dengan terbuka dinilai efektif.

"Hasilnya lumayan positif. Dengan kata lain, pendekatan itu juga mendapat respons yang cukup cepat. 25 Juni kita umumkan, 26 Juni sudah mulai ada tindakan, 28 ada tindakan kembali sampai dengan tanggal 1 Juli," ungkap Usman.



Lebih lanjut Usman menuturkan, untuk menindaklanjuti perihal dugaan dugaan tindak kekerasan yang dilakukan oknum kepolisian ini, pihaknya juga akan bertemu dengan Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy. Rencananya pertemuan akan digelar besok, Selasa (9/7), pukul 11.00 WIB.

"Jadi besok kami juga akan menemui Kapolda Pak Gatot, untuk bertemu dan membicarakan tindak lanjut dari pertemuan hari ini. Jadi insiden-insiden yang terjadi juga akan diusut sampai tuntas, termasuk siapa anggota Brimob yang terlibat di dalam insiden-insiden kekerasan tersebut," ujar Usman.

Usman mengungkapkan, besok pihaknya akan membawa bukti video yang berisi adegan dugaan kekerasan yang dimaksud. Video yang dikatakannya telah diverifikasi oleh pihaknya itu akan ditunjukkan langsung ke Kapolda.

"Besok kami mungkin akan sekaligus membawa video yang berhasil kami verifikasi. Juga tadi Pak Fadil mempersilahkan kalau besok misalnya ada semacam pertukaran informasi, saling mendengarkan, saling memberi masukan apa yang ada di dalam penyelidikan kepolisian dan apa yang kami temukan di luar dari investigasi kepolisian," pungkas dia.



Simak Juga 'Temuan Sederet Dugaan Pelanggaran HAM di Penanganan Aksi 21-22 Mei':

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Temuan Sederet Dugaan Pelanggaran HAM di Penanganan Aksi 21-22 Mei"
[Gambas:Video 20detik]

(aud/mae)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com