detikNews
Senin 08 Juli 2019, 16:56 WIB

Cerita Hantu yang Sesatkan Pendaki Gunung, Halusinasi atau Nyata?

Danu Damarjati - detikNews
Cerita Hantu yang Sesatkan Pendaki Gunung, Halusinasi atau Nyata? Gunung Argopuro, atau kini populer disebut Bukit Piramid. (Chuk Shatu Widarsha/detikcom)
Jakarta - Jenazah Toriq Rizky Maulidan (16) telah ditemukan setelah hampir dua pekan hilang di Pegunungan Argopuro atau populer disebut Bukit Piramid, Jawa Timur. Hilangnya Toriq sempat memantik cerita-cerita hantu yang melingkupi aktivitas pendakian.

Sering terdengar cerita yang sulit diverifikasi kebenarannya: pendaki gunung disesatkan oleh hantu atau pendaki gunung dikerjai makhluk halus sehingga berputar-putar di kawasan yang sama. Pengalaman semacam itu tidak hanya berasal dari satu lokasi pendakian. Misalnya, Harley B Sastha, penulis seri buku Mountain Climbing for Everybody, pernah beberapa kali mengalami kisah misterius saat naik gunung.


Saat mendaki Gunung Prau, rombongan Harley, yang lelaki semua, bernyanyi bersama. Namun Harley mendengar ada suara perempuan yang ikut bernyanyi bersama mereka. Dia juga pernah berhalusinasi di Gunung Agung melihat rumah yang lengkap dengan pekarangan cantik, padahal di situ adalah jurang yang dia tatap dalam kondisi badan lelah dan kena badai.

Cerita Hantu yang Sesatkan Pendaki Gunung, Halusinasi atau Nyata?Ilustrasi Gunung Semeru (Foto Nur Hadi Wicaksono)

Halusinasi massal juga menyergap rombongannya yang sedang mendaki Gunung Kerinci. Mereka bersama-sama melihat beberapa rumah di tengah hutan dan ditertawakan oleh perempuan. Di Gunung Gede, pendaki bernama Bagus punya pengalaman tendanya digerayangi bayangan tangan. Ada juga Rozy, yang mengatakan lima kali berpapasan dengan sosok yang sama saat menempuh jalur pendakian di Gunung Gede.


Diberitakan detikcom, pada Februari 2018, Zaki Putra Andika hilang di Gunung Raung, Banyuwangi. Rekannya bernama Muhammad Solahudin Qoyyim mengaku rekannya sudah mengalami hipotermia sebelum hilang. Zaki, menurut Solahudin, sempat bermimpi di tenda bahwa dia melihat perkampungan di atas bukit. Mimpi itu membuat Zaki ngotot jalan terus dan akhirnya hilang.

Ragil Tresna dan rekan-rekan punya pengalaman saat naik Gunung Merbabu pada pertengahan 2013. Mereka disergap badai, semuanya basah dan kelelahan. Rekan Ragil bernama Fajar pucat, menggigil, dan meracau. Dia kena hipotermia. Fajar mengaku melihat nenek-nenek.

Cerita Hantu yang Sesatkan Pendaki Gunung, Halusinasi atau Nyata?Gunung Raung (Avicenna M/d'Traveler)

Fajar masih mampu berjalan, tapi hipotermianya beranjak parah. Fajar berjalan ke arah jurang lantaran ia berhalusinasi jurang itu sebagai jalan. Beruntung, teman-temannya masih mampu menyelamatkan Fajar.


Halusinasi atau nyata?

Anggota Dewan Etik Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Bima Saskuandra, sudah banyak makan asam garam pendakian di Indonesia. Dia juga tak asing mendengar cerita-cerita hantu yang melingkupi aktivitas pendakian. Dia juga percaya bahwa dunia gaib itu ada.

"Saya percaya bahwa 'dunia sebelah' itu ada, tapi jangan dicampuradukkan," kata Bima kepada wartawan, Senin (8/7).


Bagi dia, yang lebih penting untuk menjamin keselamatan pendakian adalah mematuhi prosedur keselamatan. Persiapan harus matang sebelum mendaki, meliputi persiapan fisik, mental, peralatan, dan pengetahuan.

Koordinator Bidang Penelitian Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) ini kemudian menjelaskan perihal halusinasi. Faktor ini bisa membuat seorang pendaki melihat, mendengar, dan bermimpi apa saja. Halusinasi dipicu oleh banyak hal. Yang paling umum, pendaki berhalusinasi karena hipotermia, keadaan suhu tubuh turun hingga di bawah 35 derajat Celsius.

"Ketika panas tubuh turun, dia akan mengigau. Kadang-kadang orang bilang orang itu sedang kesetanan, padahal dia mengalami hipotermia dan memasuki tahap halusinasi," kata Bima.


Dia menjelaskan, pendaki harus mencukupi kebutuhan kalorinya untuk menghindari hipotermia. Apalagi saat ini kawasan pegunungan di Jawa sedang memasuki masa bediding, yakni udara di pegunungan banyak yang membeku. Hipotermia lebih pun mudah terjadi. Selain itu, ada sebab lain yang bisa memicu halusinasi.

"Acute mountain sickness (AMS), meski sebenarnya bila masih di bawah ketinggian 3.000 meter seharusnya tidak kena AMS. Namun ini juga dipengaruhi kondisi fisik masing-masing. AMS juga menyebabkan halusinasi," kata Bima.

Cerita Hantu yang Sesatkan Pendaki Gunung, Halusinasi atau Nyata?Ilustrasi Halusinasi (Foto: iStock)

Maka para pendaki perlu mengukur kemampuan diri dan mengakui kondisi tubuhnya sendiri, apakah mampu atau tidak. Pendaki juga perlu secara terukur memprediksi cuaca. Bila kondisi tubuh dan prediksi cuaca sudah tak memungkinkan untuk mendukung pendakian, pendaki harus berani dan rela hati membatalkan misinya.

Selain hipotermia dan AMS, temperatur udara yang terlalu dingin bisa memicu halusinasi, serta kondisi dehidrasi dan badan kelewat panas (overheat) juga bisa mengakibatkan halusinasi.

Jangan terpisah dari rombongan

Demi keamanan, para pendaki perlu selalu berada dalam rombongan. Belajar dari kasus yang sudah-sudah, termasuk kasus hilangnya Toriq, terpisahnya pendaki dari rombongan sering berakibat fatal.

"Kejadian terpisah dengan kelompok sudah terjadi di mana-mana, akhirnya hilang dan meninggal," kata Bima.


Alvi Kurniawan, pendaki asal Magelang yang hilang di Gunung Lawu pada Januari lalu, juga disebutnya terpisah dari rombongan. Ada pula Faiqus Syamsi, pelajar pendaki yang hilang di Gunung Arjuno, yang berawal dari langkah memisahkan diri dari rombongan.

"Jadi hal-hal yang seperti itu (terpisah atau memisahkan diri dari rombongan) secara teknis sudah salah. Kalau dihubung-hubungkan dengan 'dunia sebelah', menurut saya, cari ilmiahnya dulu deh," kata Bimo.



Simak Juga 'Medan Berat Membawa Pulang Jenazah Toriq':

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Medan Berat Membawa Pulang Jenazah Toriq"
[Gambas:Video 20detik]

(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com