Kasus Alvi Jadi Operasi Gagal Pertama Basarnas Solo Sejak 2013

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Rabu, 09 Jan 2019 17:30 WIB
Alvi Kurniawan (Foto: Istimewa)
Karanganyar - Pencarian pendaki asal Magelang yang hilang di Gunung Lawu, Alvi Kurniawan, telah ditutup pada hari ketujuh tanpa hasil. Operasi tersebut ialah kegagalan pertama Basarnas Surakarta dalam operasi pencarian orang hilang.

"Sejak berdiri Pos Basarnas Surakarta pada 2013, ini kasus pertama pendaki yang tidak dapat ditemukan," kata Humas Basarnas Surakarta, Yohan Tri Anggoro, Rabu (9/1/2019).

Pada kasus-kasus sebelumnya, pendaki yang hilang di Lawu dapat ditemukan kurang dari tujuh hari. Namun pada kasus Alvi ini, Basarnas dan tim gabungan sama sekali tidak menemukan petunjuk keberadaan pemuda 20 tahun itu.


Alvi dilaporkan hilang pada 1 Januari 2019. Pencarian hari pertama pun dilakukan keesokan harinya, 2 Januari 2019. Selama tujuh hari pencarian, Basarnas sudah menerapkan berbagai cara dan metode.

"Kita cari mulai dari sekitar puncak, Pasar Dieng, sampai Kayangan, Mbok Yem, Puncak Tiling, Sendang Drajat. Semua jalur pendakian dan nonpendakian sudah disisir sampai klir, tapi tetap nihil," ujar Yohan.

Meski pencarian dihentikan, tim tetap melakukan pemantauan. Pencarian akan kembali dilakukan jika ada penemuan petunjuk mengenai keberadaan Alvi. "Kalau pendaki ada yang menemukan petunjuk maka bisa dilakukan pencarian kembali," ujarnya.


Sementara itu, anggota relawan Anak Gunung Lawu (AGL), Bibit Suyono, mengatakan kejadian serupa pernah terjadi di Lawu. Pendaki juga tidak dapat ditemukan oleh tim pencari. "Setahu saya pernah sekali tapi sudah sangat lama, mungkin tahun 1990-an," kata Bibit.

Dia menjelaskan, sebenarnya jalur Candi Cetho yang dilewati Alvi merupakan jalur yang cenderung mudah. Jalannya mirip dengan Cemoro Kandang, lebih landai dibandingkan Cemoro Sewu yang berbatu dan curam.

"Di sana melewati sabana, jalurnya cenderung landai. Namun memang jaraknya lebih jauh," katanya.


Terlepas dari kasus Alvi, Bibit mengingatkan agar pendaki selalu menyiapkan fisik dan mental. Selain itu, pendaki harus mematuhi peraturan di gunung. "Mendaki harus siap peralatan yang memadai. Aturan juga harus ditaati, dilarang membuat api unggun, buang sampah sembarangan, sampai tidak boleh berbicara kotor," pungkasnya.



Simak juga video 'Fashion Show Batik Muslim dengan Latar Gunung Bromo':

[Gambas:Video 20detik]

(bai/mbr)