Kegigihan Sutopo Informasikan Bencana Dalam Sorotan Media Internasional

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 07 Jul 2019 10:32 WIB
Sutopo Purwo Nugroho (Foto: Ari Saputra)
Sutopo Purwo Nugroho (Foto: Ari Saputra)
Jakarta - Semasa hidup, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho pernah beberapa kali mendapat sorotan dari beberapa media internasional. Perjuangannya kala mengabarkan informasi bencana alam di Indonesia dalam keadaan sakit kanker, menarik minat media asing untuk menuliskan ceritanya.

Salah satu media internasional yang tertarik menulis tentang sosok Sutopo adalah media asal Amerika Serikat, New York Times. Sosok Sutopo tersebut, ditulis untuk edisi The Saturday Profile New York Times.


Sutopo sempat mengatakan wartawan New York Times bernama Richard C Paddock datang ke Indonesia untuk meminta wawancara khusus dan foto. Paddock menilai Sutopo menginspirasi lantaran tetap sigap memberikan informasi seputar bencana di Tanah Air di tengah penyakit kanker yang dideritanya.

"Saat saya tanya, 'Apa yang menarik dari saya sehingga Pak Paddock datang ke sini?'. Dia mengatakan, 'Apa yang kamu lakukan sangat menarik diberitakan. Dari sisi kemanusiaan sangat menarik. Indonesia ditimpa banyak bencana yang menimbulkan ribuan korban jiwa. Di saat bersamaan, Pak Topo yang sakit kanker paru stadium 4b. Sakit kritis yang pasti menyakitkan. Tapi terus-menerus memberikan informasi bencana tanpa menyerah dan mengenal lelah. Ini sangat menginspirasi. Media internasional juga banyak memberitakanmu. Merujuk semua informasimu. Penjelasan yang kamu berikan cepat, akurat, dan menenangkan banyak pihak'," ujar Sutopo dalam keterangannya kepada wartawan, Minggu (30/12/2018).

"Umumnya survivor kanker, apalagi sudah level kritis, dia banyak di rumah atau di rumah sakit. Tapi kamu masih bekerja melayani media dan publik. Saya follower Twitter kamu. Sangat cepat sekali kamu memberikan informasi bencana. Di USA tidak secepat itu. Media sulit mendapatkan data dan informasi yang cepat saat ada bencana di Amerika. Twitter kamu juga ada sering memuat hal-hal yang lucu dan tentang kehidupan, kesehatan, hoax, dan lainnya. Kita orang Amerika banyak yang simpati, respek, dan memberikan apresiasi apa yang Pak Topo lakukan. Itulah alasan saya datang ke sini'," terang Sutopo, mengulangi perkataan Paddock.


Video: Mengenang Sutopo: Kanker, Kucing, dan Raisa

[Gambas:Video 20detik]



Wawancara pada saat itu berlangsung dan Sutopo dimuat New York Times pada Sabtu (29/12) dengan artikel berjudul 'Helping Indonesia Through a 'Year of Disasters' While Facing His Own'. Sutopo pun tidak menyangka dia dimuat New York Times.

Dalam artikel tersebut, Sutopo digambarkan sebagai orang yang tiada lelah mengabarkan kabar bencana di Indonesia. Namun, di satu sisi, Sutopo juga harus menghadapi bencananya sendiri berupa penyakit kanker.

"Pada saat yang sama, ia telah berhadapan dengan musibahnya sendiri," tulis artikel tersebut.

Selain New York Times, sosoknya juga pernah diulas oleh ABC Australia. Tulisan itu berjudul 'Sutopo Purwo Nugroho: Berjuang di Tengah Bencana, Dicintai Wartawan'.


Dalam tulisan tersebut, Sutopo digambarkan sebagai sosok humas yang kerap menyampaikan informasi dengan menggebu-gebu. Padahal, di satu sisi Sutopo sedang berjuang melawan kanker paru stadium 4B.

"Tiap hari, Pak Topo -begitu ia akrab disapa, menyampaikan perkembangan terkini dari situasi di lapangan. Sekilas, ia nampak baik-baik saja. Apalagi, jika melihat gayanya menyampaikan informasi yang begitu menggebu-gebu, tak akan ada yang menyangka pria 49 tahun ini tengah berjuang melawan kanker paru stadium 4B," bunyi tulisan yang dimuat di media Australia itu.

Kepada media itu, Sutopo juga mengakui stamina fisiknya tak lagi sama usai terserang kanker. Dia juga bercerita kerap duduk ketika menyampaikan informasi saat konpers.

"Sekarang saya nggak bisa turun ke lapangan. Ya bagaimana, kondisinya tidak memungkinkan, saya juga harus berobat." tutur Sutopo kepada ABC Australia.

"Saya juga jadi gampang capek. Terkadang saya terpaksa duduk di tengah-tengah konpers (konferensi pers)," sambungya.

Sutopo juga pernah diangkat profilnya oleh The Sidney Morning Herald. Cerita Sutopo itu ditulis dalam artikel berjudul 'The crisis manager handling Bali's Mt Agung eruption one tweet at a time'.

Dalam tulisan tersebut, Sutopo digambarkan sebagai Humas yang terus kerap mengabarkan informasi bencana tanpa mengenal waktu. Salah satunya, ketika Sutopo mencuitkan informasi meletusnya gunung agung pada pukul 4.52 pagi.

"Pada pukul 4.52 pagi hari Rabu, Dr. Sutopo Purwo Nugroho mentweet sebuah foto hitam putih Bali yang dramatis meletus gunung berapi Gunung Agung bermandikan cahaya bulan purnama," tulis media itu, Rabu (6/12/2017).

"Alam menceritakan kisahnya: gunung, bulan purnama dan manusia. Ada harmoni antara manusia dan alam. Bali aman," diposting Sutopo, kepala hubungan masyarakat di Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia.

Selain itu, dalam artikel tersebut juga dikutip komentar salah satu ahli vulkanologi Selandia Baru. Sang ahli mengaku sangat menghargai kerja Sutopo dalam melakukan update harian terkait berita bencana.

"Saya sangat menghargai pembaruan harian Sutopo, memberikan komentar, video, dan foto yang menunjukkan perkembangan Gunung Agung dan bahaya terkait," kata ahli vulkanologi Selandia Baru, Dr Janine Krippner.

Namun, kini Sutopo telah tiada. Dia meninggal dini hari tadi pada pukul 02.00 waktu setempat di sebuah rumah sakit di Guangzhou, China. Sutopo meninggal dalam perjuangannya melawan kanker paru-paru. Dunia akan tetap mengenangnya sebagai salah satu Humas yang tiada lelah mengabarkan informasi bencana. (rdp/imk)