"HTH umumnya terjadi dalam kategori menengah, yakni 11-20 hari untuk Lombok bagian tengah hingga selatan. Sedangkan wilayah Lombok di bagian utara umumnya dalam kategori sangat panjang, diprediksi 31-60 hari," kata Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Luhur Tri Uji Prayitno, dalam keterangan tertulis, Minggu (30/6/2019).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demikian juga yang terjadi di wilayah Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat serta Alas Barat dan Lape di Kabupaten Sumbawa. Sedangkan di Kabupaten Bima, kekeringan terjadi di wilayah Sape, Lambu, Palibelo Teke, dan Parado, serta wilayah Raba di Kota Bima Raba.
"HTH terpanjang tercatat di Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat, dengan HTH 77 hari," ujar Luhur.
Kondisi dinamika atmosfer saat ini berada pada kondisi El Nino lemah. Sementara itu, kondisi suhu muka laut di sekitar perairan NTB menunjukkan kondisi lebih dingin dibandingkan seperti yang terjadi biasanya.
Peluang terjadinya hujan pada dasarian I Juli 2019 sangat kecil, kurang dari 10 persen di seluruh wilayah NTB.
BMKG mengimbau masyarakat waspada terhadap dampak yang dapat ditimbulkan ketika memasuki puncak musim kemarau. Dampak itu bisa jadi seperti kekeringan, kekurangan air bersih, dan potensi kebakaran lahan yang dapat terjadi di sebagian besar wilayah NTB.
(mae/mae)