detikNews
Senin 24 Juni 2019, 20:25 WIB

Di Tempat Ini, Disabilitas Diajari Kerajinan yang Asah Kreativitas

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Di Tempat Ini, Disabilitas Diajari Kerajinan yang Asah Kreativitas Foto: Faidah Umu Sofuroh/detikcom
Jakarta - Dengan perlahan jemari Fatimah mulai menjahit di atas kain putih itu. Kain perca yang telah dipotong dengan berbagai bentuk ditata sedemikian rupa sehingga menampakkan sebuah lukisan lucu berwarna-warni.

Fatimah merupakan satu dari 7 orang tuna wicara yang dibina oleh Lembaga Dharma Daya-Keuskupan Agung Jakarta (LDD-KAJ). Meski memiliki keterbatasan berbicara, dia tetap semangat mengungkapkan rasa senangnya mengikuti kegiatan ini.

"Senang walaupun susah. Saya mau belajar dan mau membantu teman-teman yang lain yang kurang mengerti dalam segi teknik maupun pola karena tekniknya lumayan susah," ucap Fatimah sambil terbata-terbata, Senin (24/6/2019).


Teknik menjahit kerajinan kain perca bisa dibilang tidak mudah. Selain menjahit lurus, ada juga teknik menjahit timbul dan melengkung. Tak hanya menjahit, Fatimah dan kawan-kawannya juga harus belajar pemilihan warna yang tepat untuk menghasilkan gambar yang bagus.

Untuk membuat satu tas, Fatimah mengaku butuh waktu dua hingga tiga bulan. "Belajarnya 3 bulan, soalnya kadang disuruh bongkar kalau hasilnya kurang bagus, buat yang warna dan motifnya sesuai," imbuh Fatimah.

Sejauh ini, hasil tas yang dibuat oleh penyandang disabilitas dipamerkan di berbagai event atau ditawarkan kepada para tamu yang datang ke LDD-KAJ.

Tiarlin Apridawati Agatha selaku instruktur kerajinan kain perca mengungkapkan bahwa dia sudah melatih selama 10 tahun meski sempat berhenti karena sakit. Menurutnya, mengajar tuna wicara ini lumayan sulit karena dia tidak memiliki kemampuan bahasa isyarat.


"Senang ya, walaupun susah karena saya enggak bisa bahasa isyarat. Tapi saya ingin belajar dan membantu teman-teman yang lain. Kadang sulit juga mengajarkan mereka teknik menjahit maupun memilih motif dan warna yang tepat. Tapi menyenangkan," ungkapnya.

Selama ini Tiarlin mengira dunia tuna wicara merupakan dunia yang sunyi. Namun pendapatnya terbantahkan ketika dia mengenal Fatimah dan kawan-kawan yang lain.

"Selama ini saya kira dunia mereka dunia hening sepi. Tapi ternyata sama mereka juga bisa bercanda, ramai dan seru. Cuma mereka ini memang sangat semangat ya, semangatnya itu," ungkapnya kagum sembari memandang para pengrajin disabilitas itu.
(prf/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed