Cerita Wali Murid Sabar Antre demi Daftar PPDB Siswa Miskin di Denpasar

Aditya Mardiastuti - detikNews
Senin, 24 Jun 2019 12:23 WIB
Ilustrasi PPDB (Foto: Andhika Akbarayansyah/detikcom)
Denpasar - Sejak pagi antrean para wali murid yang ingin mendaftarkan anak melalui jalur kurang mampu dan inklusi memadati Rumah Pintar Denpasar, Bali. Beberapa di antaranya menggantungkan bantuan petugas di Rumah Pintar Denpasar untuk menginput data.

Salah satunya Ketut Ardani (39), seorang buruh cuci, yang mengaku gagap teknologi alias gaptek. Dia kebingungan untuk melakukan input data menggunakan sistem online.

"Saya gantungin rumah pintar saja, mau nyuruh keponakan nggak enak karena harus kerja, saya nggak bisa (internet)," kata Ardani di Rumah Pintar Denpasar, Jl Kamboja, Denpasar, Bali, Senin (24/6/2019).

Ardani mengaku sudah mengantre sejak pukul 07.30 Wita. Namun dia masih menunggu antrean karena sistem pendaftaran eror. Dari jatah sekolah terdekat dari rumahnya di Jl Nangka Utara, anaknya, Komang Aryaputra, bisa mendaftar di SMPN 10.

"Pukul 07.30 Wita sudah di sini, biasanya pukul 08.00 Wita sudah mulai terus tadi dikasih tahu eror. Kecewa sih tapi harus diperjuangkan daftarin anak ke SMPN 10 lumayan deket dari rumah, kalau jalan kaki paling 30 menit ke sekolah," kata ibu empat anak ini.


Hal senada disampaikan Ernawati (37). Dia juga kesulitan melakukan pendaftaran melalui online. Beruntung anak tertuanya bisa dia andalkan.

"Ini tumben nyari negeri, karena barengan sama kakaknya masuk SMA. Kali ini susah karena harus pakai online-online, harus punya e-mail kemarin kakaknya yang bikinin. Sudah-sudah nanti lihat pengumuman juga online," tutur warga Jl Nusa Kambangan, Denpasar, itu.

Untuk mendaftar melalui jalur siswa miskin dan inklusi ini, wali murid diminta membawa Kartu Indonesia Pintar (KIP), Program Indonesia Pintar (PIP), Program Keluarga Harapan (PKH), atau Kartu Denpasar Cemerlang. Para wali murid juga diminta membawa fotokopi KTP dan KK.

Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Denpasar I Wayan Gunawan mengatakan pendaftaran melalui jalur siswa miskin dan inklusi dijatah sebanyak 10 persen dari kuota 3.740 siswa SMPN se-Denpasar. Hingga saat ini, baru 164 orang yang mendaftar melalui jalur ini.

"Kami bantu (input) pendaftarannya, tapi untuk pendaftarannya masih diperbaiki Telkom. Ini pun kami suruh nunggu dulu, start pukul 12.00 Wita, setelah itu kami mulai supaya sistemnya tidak terganggu. Kurang-lebih tidak mampu (terdaftar) 164-an orang," kata Gunawan.

"Kuotanya (siswa miskin) saya lupa tapi saya perkirakan 10 persen, itu kalau merata harusnya kuotanya 300-an lebih," sambungnya.

Dia mengatakan saat ini proses input data pendaftaran pun masih menunggu perbaikan sistem. Dia mengatakan untuk siswa miskin dan inklusi pilihan sekolah sudah ditentukan dinas.

"Pilihannya sudah kami tentukan, nanti pertimbangan kawasan dulu, masing-masing disiapkan tiga sekolah kalau lebih dipindah ke sekolah lain di kawasan itu. Kalau berlebih, kami lakukan pergeseran juga. Mereka sudah tanda tangan pernyataan siap digeser, harapannya lebih dekat dari rumah," jelasnya.

"Misal kalau KK-nya di Kreneng, kita arahkan ke SMPN 3, asumsinya kalau mereka miskin sekadar transport mereka kesulitan jadi kita arahkan. Sesuai Permendikbud (siswa miskin dan inklusi), ini jadi prioritas," terang Gunawan.

Pantauan di lokasi, hingga pukul 13.00 Wita, sistem PPDB masih belum bisa digunakan. Makin siang, jumlah orang tua yang masih menunggu di Rumah Pintar juga bertambah. (ams/aan)