detikNews
Rabu 19 Juni 2019, 15:58 WIB

Tahanan Diduga Gila Makan Kotoran Sendiri, Polisi: Waktu BAP Biasa Saja

Aditya Mardiastuti - detikNews
Tahanan Diduga Gila Makan Kotoran Sendiri, Polisi: Waktu BAP Biasa Saja Tahanan curanmor di Jembrana yang memakan kotoran sendiri (Foto: Dok. Istimewa)
Jembrana - Tahanan kasus curanmor di Rutan Negara, Jembrana, Bali, Putu Suastika, bikin geger karena makan kotorannya sendiri. Selama menjalani pemeriksaan polisi Putu memang diakui sempat diperiksakan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Bali di Bangli.

"Memang itu ada indikasi ke sana, kemarin sudah diperiksa ke Bangli juga sudah, cuma terkesan biasa saja dilanjutkan proses hukumnya," kata Kabag Ops Polres Jembrana Kompol M Didik Wiratmoko ketika dihubungi via telepon, Rabu (19/6/2019).

Didik mengakui mendapatkan informasi dari masyarakat Putu mengalami gangguan kejiwaan. Namun, setelah dicek di RSJ Bangli hasil tes Putu baik.


"Mungkin informasi masyarakat sekitar oh ini orang gila makanya dari informasi itu polres sekaligus mengecek kejiwaannya ternyata yang bersangkutan tidak dinyatakan gila terus dilanjutkan perkaranya," terangnya.

"Sempat dirawat di sana (RSJ Bangli), tapi nggak. Saya lupa detailnya dirawat dalam rangka konsultasi apa pengecekan kejiwaannya gitu loh," sambungnya.

Didik mengatakan kala itu Putu juga bisa mengikuti proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dengan lancar. Dia menduga Putu mengalami depresi di dalam rutan.

"Nggak tahu di LP depresi apa gimana, waktu BAP biasa aja, bisa jawab, cuma antara pelaku dengan kita berdasarkan informasi masyarakat gila tapi setelah diperiksa nggak apa-apa," terangnya.


Untuk diketahui Putu ditahan di Rutan Negara sejak 19 Februari 2019. Selama tiga bulan ditahan, Putu dikenal suka menyendiri, murung, dan kurang berkomunikasi dengan teman sesama tahanan lainnya.

Belakangan Putu ketahuan makan kotorannya sendiri dan sempat membalurkan kotorannya ke kamarnya. Saat ini di tahanan, Putu tinggal bersama dua tahanan lainnya.

Terpisah, Direktur RSJ Bangli dr I Dewa Gede Basudewa mengatakan tak bisa memberikan keterangan. Secara umum Dewa mengatakan hasil pemeriksaan kejiwaan pasien tentu sudah melalui proses observasi dan analisis.


"Data kasus dipegang dokter yang bertanggung jawab. Supaya publik itu paham, bahwa gangguan jiwa itu akan ditegakkan dokter yang memiliki kewenangan untuk menegakkan kewenangan dokter spesialis jiwa yang berkaitan dengan kasus-kasus kriminal, forensik, maka yang dibuktikan oleh dokter apakah keadaan gangguan jiwa itu sebenarnya memiliki sifat kehendak bebas," kata Dewa.

"Kehendak bebas itu si penderita bisa memutuskan makan dan tidak, melakukan atau tidak, kalau berdasarkan pertimbangan-pertimbangan logis meski gangguan jiwa perilaku yg dipertanggungjawabkan itu tidak ada hubungan dengan gangguan jiwanya. Jadi tidak semua gangguan jiwa itu bebas, tapi detail kasus ini saya tidak tahu," ucapnya.
(ams/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed