detikNews
Rabu 19 Juni 2019, 13:54 WIB

Polri Uji Balistik Peluru di Tubuh Korban Penembakan 22 Mei, Ini Hasilnya

Jeffrie Nandy Satria - detikNews
Polri Uji Balistik Peluru di Tubuh Korban Penembakan 22 Mei, Ini Hasilnya Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo (Foto: Nur Azizah Rizki/detikcom)
Jakarta - Polri telah selesai melakukan uji balistik terhadap peluru-peluru yang bersarang di tubuh korban penembakan saat kerusuhan 22 Mei 2019. Berdasarkan hasil pemeriksaan, peluru berjenis kaliber 556 dan kaliber 9 milimeter.

"Untuk uji balistik sudah dilakukan. Dari hasil laboratorium forensik menyebutkan bahwa 3 proyektil yang didapat di tubuh dugaan adalah sebagai pelaku perusuh, itu kaliber 556, dan kaliber 9 milimeter. Namun demikian yang kaliber 9 milimiter itu tingkat kerusakan proyektilnya cukup parah karena pecah sehingga untuk menguji alur senjata itu ada sedikit kendala," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (19/6/2019).



Dedi menjelaskan tim masih melakukan pemeriksaan komprehensif karena proyektil peluru di tubuh korban penembakan itu rusak. Tim juga, menurut Dedi, akan mencari bukti lain untuk memeriksa senjata dan peluru yang digunakan saat rusuh 22 Mei.

"Kemudian yang 556 juga sudah diketahui untuk kalibernya. Cuma senjata yang digunakan masih di dalami. Karena senjata ini kan sulit. Siapa yang gunakan senjata ini untuk menembakkan dengan gunakan kaliber 556 dan kaliber 5 milimeter. Itu juga penyidik sedang lakukan analisa secara komprehensif terhadap TKP. TKP di mana para korban yang diduga adalah sebagai pelaku perusuh ditemukan. Dari berbagai aspek akan dilihat, termasuk penyidik dari Polda Metro Jaya sedang mencoba mencari CCTV, di sekitar lokasi di beberapa TKP itu," imbuh dia.



Kaliber peluru yang bersarang di tubuh korban penembakan rusuh 22 Mei, menurut Dedi, biasa digunakan oleh senjata milik TNI dan Polri. Namun, Dedi menjelaskan kaliber peluru tersebut lebih banyak digunakan untuk senjata rakitan.

"Kaliber itu bisa digunakan baik senjata standar milik Polri dan TNI, juga bisa digunakan senjata rakitan. Contoh seperti kejadian-kejadian konflik di Papua, kemudian yang ada di Maluku, termasuk tersangka teroris Mujadid Indonesia Timur. Itu kan dia mendapat peluru organik. Cuma senjata yang digunakan sebagian besar adalah senjata-senjata rakitan. Senjata rakitan tersebut, yang terakhir berhasil diungkap oleh Mabes Polri, terkait masalah Pak KZ itu senjata yang dibuat oleh Pak J. Senjata-senjata rakitan yang lain yang dimiliki oleh pelaku terorisme juga bisa didapat dari penyelundupan senjata dari Filipina Selatan. Bisa juga senjata rakitan itu menggunakan amunisi-amunisi standar," papar Dedi.



Dedi menyebut alur senjata rakitan itu sulit diidentifikasi sebab berbeda dengan alur senjata standar.

"Cuma ciri khasnya kalau senjata rakitan lebih sulit untuk mengidentifikasi alur-alur senjatanya, dari uji balistik akan kesulitan, senjata rakitan itu ada yang memiliki alur, ada yang tidak memiliki alur. Kalo senjata standar jelas alurnya, alur ke kanan atau alur kiri," imbuh dia.

Terlepas dari itu, Dedi belum bisa memastikan asal usul senjata yang dipakai untuk menembak korban rusuh 22 Mei. Tim, menurut Dedi, harus melakukan pemeriksaan lanjutan untuk menentukan pemilik senjata itu.

"Ya masih didalami dulu. Ya karena untuk menguji balistik senjata apa yang digunakan untuk menembakan kaliber 556 dan 6 milimeter, itu kan masih harus ada pembanding senjatanya. Oke ketemu jenis senjatanya, ketemu pembandingnya, cuman senjata untuk menembak itu senjata siapa, itu perlu pembuktian dan perlu analisa cukup dalam," ujarnya.


Empat Korban Kerusuhan 22 Mei Tewas Kena Peluru Tajam! Simak Videonya:

[Gambas:Video 20detik]


(knv/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed