detikNews
Rabu 19 Juni 2019, 13:02 WIB

Miris! Perlakuan terhadap Penyu di Konservasi di Tanjung Benoa Jadi Sorotan

Aditya Mardiastuti - detikNews
Miris! Perlakuan terhadap Penyu di Konservasi di Tanjung Benoa Jadi Sorotan Kondisi penyu-penyu di salah satu pusat konservasi di Tanjung Benoa. (Aditya Mardiastuti/detikcom)
Badung - Pulau Penyu di Tanjung Benoa, Bali, dikenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit wisatawan untuk berfoto bersama penyu. Namun perlakuan terhadap penyu di pusat konservasi di sana menuai sorotan.

Salah satu yang menyorotinya adalah fotografer Aaron Gekoski. Lewat akun Facebook-nya, Aaron menyoroti kotornya habitat para penyu serta ulah wisatawan, seperti mengangkat dan memegang untuk berfoto bersama penyu tersebut.

"Di pusat konservasi ini para penyu tinggal di area tertentu, di mana para turis membayar untuk berinteraksi dengan mereka. Hal ini juga meliputi melewati sejumlah penyu, mengangkat mereka dari air, dan sebagaimana yang kulihat sejumlah kesempatan--sering kali menjatuhkan penyu itu dari ketinggian tertentu," kata Aaron dalam akun Facebook-nya seperti dikutip detikcom, Rabu (19/6/2019).


Aaron juga menyoroti penyu-penyu itu 'dianiaya' oleh para turis, tinggal di air yang keruh dan terlalu dangkal, serta tempat yang terlalu sempit untuk mereka hidup. Sedangkan di alam liar, penyu dikenal sebagai satwa yang hidup secara soliter.

"Tempat-tempat ini tidak mempunyai hubungan dengan konservasi," ucap Aaron.

"Ditanya tentang program rehabilitasi di pusat ini salah seorang petugas mengatakan penyu-penyu ini di sini karena turis menyukainya," ujar Aaron.

detikcom kemudian menyambangi salah satu pusat konservasi penyu di Tanjung Benoa. Saat didatangi pusat konservasi itu tak hanya merawat penyu, tapi juga aneka satwa, seperti ular, iguana, kelelawar, burung rangkong, burung dara, serta burung hantu.

Ada sekitar enam kolam penangkaran penyu di lokasi tersebut. Setiap kolam berisi penyu dengan ukuran yang berbeda dan rata-rata berwarna keruh bahkan beberapa penyu ditempeli lumut di bagian cangkangnya.

Tak hanya kolam, penangkaran ini juga memiliki 'ruangan' yang dibangun dari bambu sebagai habitat para penyu yang berukuran besar. Salah seorang petugas bahkan menginjak cangkang penyu tersebut untuk menunjukkan besarnya penyu itu.

"Nggak apa-apa, injak saja kuat kok. Kalau mau foto juga bisa," kata petugas tersebut.


Petugas di penangkaran itu juga mempersilakan pengunjung untuk menyentuh atau mengangkat penyu-penyu itu. Mereka juga mempersilakan penyu itu untuk difoto-foto.

"Kami sudah ada izinnya, nggak apa-apa," kata petugas bernama Agus ketika ditanya soal pengetahuan tentang prosedur soal penyu tersebut.

Kepala BKSDA Provinsi Bali Budhy Kurniawan mengatakan pihaknya belum menerima laporan langsung terkait perlakuan petugas tersebut. Dia mengatakan untuk kelompok pelestari penyu berada di bawah Dinas Perikanan Badung.

"Laporan langsung tidak, laporan melalui PSDKP. Mungkin bukan penganiayaan, tetapi memperlakukan satwa yang kurang beretika. Kelompok pelestari penyunya di SK-kan Dinas Perikanan Badung, mungkin bisa konfirmasi juga ke dinas tersebut," ujar Budhy.

Meski begitu, dia mengatakan pengawasan rutin tetap dilakukan BKSDA. "Tentu ada pola pengawasan bisa sidak atau rutin yang ada kerja samanya dengan kita, mereka selalu report kondisi kegiatannya. Kaitan dengan Tanjung Benoa di atas bisa kontak PSDKP karena laporannya ke mereka," terangnya.

Sementara itu, Kepala Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Benoa Ndaru Ismiarto mengatakan pihaknya juga sudah pernah memberikan pembinaan. Namun, untuk evaluasi soal perizinan ada di ranah Balai KSDA Bali.

"Dia memelihara penyu kan dari BKSDA, kalau kami dari pemeliharaannya. Kalau binatang itu dianiaya itu kami bisa menindaknya, tapi kewenangan itu ada di BKSDA karena mereka yang membuat kesepakatan untuk memelihara penyu-penyu itu, jumlah penyunya berapa, tukik yang dilepasnya berapa itu," terangnya.


Ndaru mengatakan pusat konservasi di Pulau Penyu itu juga tengah mengajukan perizinan ekowisata. Dia mengatakan tindak lanjut juga harus dipikirkan matang karena penangkaran itu dikelola oleh masyarakat.

"Baiknya seperti apa, karena regulasi diikuti, secara ekonomi sudah berjalan untuk desa, aspek sosial tinggi sekali banyak tenaga kerja yang terlibat di sana bahkan ada ribuan, kalau itu ditutup bagi PSDKP nggak masalah tapi warganya gimana. Itu dikelola warga," terangnya.

Ndaru menyebut dirinya juga sudah menyarankan para pengelola konservasi penyu di Tanjung Benoa untuk belajar dari tempat ekowisata di daerah lainnya. Sehingga diharapkan benar-benar siap memberikan pemeliharaan ke penyu.

"Sebenarnya bukan habitat penyu ada di daerah pesisir tidak banyak manusia. Di situ riskan sekali ketemu manusia, di sana sudah dipegang manusia, dipelihara sebagai objek, cuma pengawasannya harus kontinu megang itu apakah sudah dapat izin karena binatang dilindungi dari KSDA bagaimana eksplorasinya, pergerakan itu terukur bertelurnya di mana, berapa yang ditetaskan, lokasi telurnya di mana,harus ada tempatnya, harus ada ini juga kan secara pemeliharaannya juga ada," urainya.

Dia berharap segera ada pembenahan di lokasi tersebut. Misalnya saja dengan papan-papan larangan.

"Iya, karena mereka tahunya satu sisi wisatawan datang pakai speed mana penyu-penyu, harusnya ada larang-laranganlah. Hanya pegang saja itu harusnya ada tulisan-tulisan gitu," harapnya.


Simak Juga "Cuaca Buruk, Ratusan Telur Penyu di Polewali Gagal Menetas":

[Gambas:Video 20detik]


(ams/gbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com