detikNews
Kamis 13 Juni 2019, 06:20 WIB

Round-Up

Fahri vs Gerindra Soal Permintaan Agar Prabowo Bicara Tim Mawar

Tim detikcom - detikNews
Fahri vs Gerindra Soal Permintaan Agar Prabowo Bicara Tim Mawar Foto: Prabowo Subianto (Agung Pambudhy)
Jakarta - Tim Mawar kembali menjadi atensi publik setelah dikaitkan dengan kerusuhan 22 Mei dalam pemberitaan majalah Tempo. Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah meminta Prabowo Subianto mengungkap kisah Tim Mawar. Usul itu ditentang para pengurus Partai Gerindra, partai besutan Prabowo.

Tujuan Fahri Hamzah meminta Prabowo mengungkap kisah Tim Mawar karena dia ingin eks Danjen Kopassus itu meluruskan sejumlah isu terkait masa lalu. Dia memandang itu merupakan pekerjaan rumah bagi capres nomor urut 02 tersebut, terlebih menjelang sidang gugatan Pilpres 2019 di MK.


"Kalau saya jadi Pak Prabowo, ini waktunya bicara. Sudah cukup 21 tahun diam soal-soal yang dituduhkan kepadanya. Undang media, buka semua kejadian di masa lalu, agar publik mendapat pencerahan dari prinsip liput kedua sisi (cover both side). Ini PR Pak Prabowo," kata Fahri lewat akun Instagram-nya, seperti dikutip pada Rabu (12/6/2019).

"Sebab, kisah Tim Mawar yang kembali diangkat oleh media menjelang sidang MK itu membuat publik tidak dapat membaca semua sisi dari Prabowo, padahal beliau figur yang penting dan menentukan perjalanan bangsa ke depan. Sebaiknya dibuka sekarang. Undang seluruh media dalam dan luar," imbuh Fahri.

Fahri Hamzah menyebut para saksi kejadian masa lalu--yang dianggap korban--juga boleh memberikan keterangan. Namun, yang terpenting, Fahri menegaskan Prabowo harus berbicara.

Politikus asal NTB itu menganggap Prabowo telah menunaikan tugas mulia andai berbicara tentang kejadian sebenarnya di masa lalu. Dia ingin bangsa ini punya sejarah yang jelas.


"Jika terlalu banyak misteri yang tersimpan dari masa lalu, beban bangsa ini makin banyak. Maka adalah tugas mulia Pak Prabowo untuk mengurangi beban bagi generasi yang akan datang. Biar sejarah kita lebih bersih. Biar sejarah TNI lebih terang. Ini semua demi bangsa," tutur Fahri Hamzah.

Desmond J Mahesa, politikus Partai Gerindra yang juga mantan aktivis '98 menanggapi usulan Fahri. Apa kata Desmond yang termasuk dianggap korban penculikan?



Ketua DPP Partai Gerindra itu menyebut suatu usulan boleh ditanggapi ataupun tidak ditanggapi. Dia menerka andai Prabowo berbicara kisah Tim Mawar, ada pihak-pihak yang tak akan percaya.

"Yang jadi soal, kalau Prabowo mengungkap misalnya, usul ini Pak Prabowo oke, itu kan pengakuan sepihak oleh Pak Prabowo. Pihak sebelah percaya nggak? Ya kalau pihak sebelah nggak percaya ya akhirnya kayak pengakuan Agum Gumelar, yang penculikan. Ya tapi dia tidak memberikan testimoni," kata Desmond saat dihubungi.


Pria yang kini duduk di Senayan itu lebih memilih pemerintah membentuk peradilan HAM. Sebagai salah satu tokoh yang dianggap korban masa lalu, Desmond sendiri tidak percaya atas testimoni-testimoni pribadi mengenai kejadian 1998.

Anggota Komisi III DPR itu lebih ingin negara bertindak untuk memperjelas sejarah. Menurutnya, negara bertanggung jawab. "Dikembalikan ke peradilan HAM atau dicarikan solusi kebenaran yang terbaik bagi bangsa ini. Jadi jangan sampai seolah-olah pelanggaran HAM ini cuma karena korban, itu kesalahan besar. Pelanggaran HAM ini adalah ketidakmampuan negara melindungi warga negaranya. Ini kan di situ inti persoalannya, itu baru HAM, gitu lo," ucap Desmond.

Kolega Desmond di partai, Habiburokhman, menyatakan pendapat serupa soal usul Prabowo berbicara kisah Tim Mawar. Menurutnya, kasus Tim Mawar tak melibatkan Prabowo dan semuanya sudah selesai lewat pengadilan.

"Saya kurang sependapat. Soal Tim Mawar itu sudah selesai dengan putusan pengadilan 1999. Orang-orang yang bersalah sudah dihukum dan clear nggak ada hubungan dengan Pak Prabowo sama sekali, case closed," sebut Habiburokhman.


Habiburokhman sendiri mengaku punya pengalaman dikejar aparat saat menjadi aktivis mahasiswa pada 1998. Kini, dia mengaku bersahabat dengan eks Tim Mawar.

"Saat ini sudah era yang berbeda. Sebagai contoh, saya yang dahulu aktivis mahasiswa '98 dikejar-kejar aparat, sekarang bersahabat dengan mantan komandan Tim Mawar, Mas Bambang Kristiono, dan kami sama-sama memenangkan Pak Prabowo di dapil kami masing-masing," ucapnya.
(gbr/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed