detikNews
Rabu 12 Juni 2019, 21:31 WIB

PDIP Kecam Rencana Pembunuhan 4 Tokoh: Ada Upaya Mainkan Politik Kekerasan

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
PDIP Kecam Rencana Pembunuhan 4 Tokoh: Ada Upaya Mainkan Politik Kekerasan Charles Honoris (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - PDIP mengecam adanya rencana pembunuhan terhadap 4 pejabat negara pada kerusuhan 21-22 Mei 2019. PDIP menilai rencana pembunuhan tersebut menunjukkan adanya upaya memainkan politik kekerasan di Indonesia.

"Rencana pembunuhan terhadap tokoh-tokoh politik nasional sebagaimana diungkap kepolisian, menunjukkan ada upaya memainkan politik kekerasan oleh segelintir elite ala pembunuhan tokoh-tokoh politik di Timur Tengah atau Amerika Latin, sebagai ekspresi ketidakpuasan terhadap proses elektoral yang sudah berjalan. Negara tidak boleh membiarkan aksi kekerasan tersebut sebelum terlanjur menjadi 'lingkaran setan kekerasan' dalam perpolitikan Indonesia," kata politikus PDIP, Charles Honoris, kepada wartawan, Kamis (12/6/2019).

"Dalam beberapa dekade terakhir, ratusan tokoh politik di Amerika Latin menjadi korban pembunuhan dari lawan politik, kartel narkotika, dan kekuatan militer. Tidak sedikit juga tokoh politik di Timur Tengah yang meninggal dunia karena dibunuh, sebut saja pembunuhan mantan PM Lebanon Rafik Hariri, yang membawa negara tersebut kepada tradisi kekerasan yang seakan tak berkesudahan," imbuh Charles.


Empat tokoh yang menjadi target pembunuhan adalah Menko Polhukam Wiranto, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Kepala BIN Jenderal Budi Gunawan, serta Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan Gories Mere.

Charles mengatakan Indonesia sendiri tak memiliki tradisi perebutan kekuasaan dengan cara demikian. Karena itu, dia meminta semua elite politik menjunjung tinggi kedamaian dan demokrasi di Indonesia.

"Indonesia tidak memiliki 'tradisi' perebutan kekuasaan dengan cara-cara pembunuhan tokoh politik seperti itu. Oleh karenanya, kita sebagai anak bangsa hendaknya bersatu untuk menentang dan tidak memberi ruang sedikit pun terhadap segala bentuk politik kekerasan. Perebutan kekuasaan dalam negara demokratis seperti Indonesia haruslah melalui pemilu, bukan dengan desing mesiu," katanya.

Di sisi lain, anggota Komisi I DPR itu mengapresiasi kinerja TNI dan Polri yang bergerak cepat dalam menggagalkan rencana pembunuhan terhadap empat tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei. PDIP berharap kasus ini dapat menjadi pembelajaran bagi elite Indonesia untuk tidak memainkan politik kekerasan.

"Apresiasi setinggi-tingginya kepada TNI dan Polri yang telah mencegah terjadinya pembunuhan tokoh-tokoh politik, dan menjadi benteng terdepan NKRI. Kesiapsiagaan TNI-Polri dalam menjaga NKRI ini hendaknya juga diikuti dengan sikap elite yang antikekerasan dan mengedepankan cara-cara bermartabat dalam berpolitik. Elite politik seharusnya menyadari bahwa kekuasaan bukanlah segalanya, sehingga tidak perlu cara-cara jalanan untuk merebutnya. Sebaliknya, sekeras apa pun pemilu, sebagai mekanisme perebutan kekuasaan yang sah dalam negara demokratis, tidak boleh membawa Indonesia pada sebuah lingkaran setan kekerasan," tutur Charles.


Sebelumnya, polisi dan TNI menggelar jumpa pers dengan memutar video testimoni Tajudin. Dalam video yang diputar, Tajudin bicara sambil berdiri dengan mengenakan kaus hitam dan putih.

"Nama Tajudin, tempat tanggal lahir Bogor, 11 Januari 1979. Saya mendapatkan perintah dari Bapak Mayjen Purnawirawan Kivlan Zen melalui Bapak Haji Kurniawan alias Iwan untuk menjadi eksekutor penembakan target atas nama: satu, Wiranto; dua, Luhut Pandjaitan; tiga, Budi Gunawan; empat, Gories Mere," ucap Tajudin dalam video testimoni yang diputar saat jumpa pers di kantor Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (11/6).
(mae/zak)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed