detikNews
Senin 10 Juni 2019, 14:32 WIB

KLHK Sebut Ada 16 Kontainer Impor yang Disusupi Sampah Plastik

Lisye Sri Rahayu - detikNews
KLHK Sebut Ada 16 Kontainer Impor yang Disusupi Sampah Plastik Foto: Dirjen PLSB3 KLHK, Rosa Vivien Ratnawati (Lisye/detikcom)
Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan setidaknya ada 16 kontainer barang impor yang disusupi sampah plastik masuk ke Indonesia. Sebanyak 11 kontainer ada di Batam dan 5 lainnya di Surabaya.

"Jadi di Batam ada 11 kontainer kalau di Surabaya yang masih dalam kontainer itu ada 5 kontainer itu yang punya prospek untuk bisa dikembalikan," ujar Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PLSB3) KLHK, Rosa Vivien Ratnawati di Gedung KLHK, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Senin (10/6/2019).



Vivien mengatakan, di Batam sampah plastik disusupkan pada impor scrap plastik. Impor scrap plastik, menurut Vivien, memang diizinkan namun pihak perusahaan harus memenuhi beberapa ketentuan seperti kualitas scrap plastik dan standar pengolahan oleh pihak perusahaan.

"Kalau yang di Batam itu kan dia impor limbah scrap plastik, itukan memang diperbolehkan tapi kan bentuknya scrap harus bersih dan kemudian pihak perusahaan yang mengimpor itu punya alat pengolahnya. Jadi dia tidak boleh menjual kembali scrap plastiknya tadi," kata Vivien.

Namun, saat kontainer itu dibuka, petugas Bea Cukai menemukan scrap plastik tercampur dengan sampah dan terkontaminasi limbah B3. Saat ini 11 kontainer itu sedang diamankan oleh Bea Cukai Batam.

"Jadi tidak hanya scrap plastik saja tapi juga tercampur sampah dan juga ada terkontaminasi limbah B3 jadi ada hasil lab yang dibuat Bea Cukai. Sekarang lagi disegel di Bea Cukai," kata dia.



Sedangkan untuk kasus di Surabaya, Vivien menjelaskan penyelundupan sampah terdapat pada importasi limbah non B3 yaitu kertas. Scrap kertas yang diimpor ternyata telah tercampur dengan sampah plastik dan sampah domestik lainnya.

"Yang di Surabaya itu importasi limbah non B3, kertas. Dia di dalamnya ditemukan scrap kertas tercampur plastik dari sampah domestik, ada pempers, ada sepatu, ada kayu, ada bekas kemasan bahan kimia dan bekas kemasan oli. Dan ini belum dicek untuk limbah B3-nya," lanjutnya.

Vivien menjelaskan untuk mengembalikan sampah plastik itu harus mengacu pada Peraturan Kementerian Perdagangan (Permendag) 31/2016 tentang Ketentuan Impor Limbah Non Bahan Berbahaya (B3) dan Beracun dan hasil Konvensi Basel tentang B3. Namun, saat ini KLHK sedang berkoordinasi dengan beberapa kementerian dan negara pengimpor untuk proses pengiriman kembali atau re-ekspor.

"Untuk mengembalikan memang yang pertama dia harus mengacu pada Permendag 31/2016 pasal 6, ada di Konvensi Basel juga Pasal 9. Dalam hal ini Dirjen PSLB3 KLHK harus kerjasama dengan Kementerian Perdagangan, dengan Bea Cukai, Kementerian Luar Negeri dan harus dilakukan memang notifikasi ke negara yang mengimpor untuk menerima dan sebagainya," kata dia.



Lebih lanjut, Vivien menambahkan KLHK dalam waktu dekat akan melakukan koordinasi dengan pihak terkait. Sehingga proses pengembalian sampah plastik ke negara asal akan terlaksana dalam waktu dekat.

"Nah sekarang minggu-minggu ini kami memang sedang mengkoordinasikan untuk hal itu. Sedang dalam proses untuk melakukan pengembalian kembali," tutupnya.



Lihat video Ancol Beri Edukasi soal Bahaya Sampah Plastik Lewat Botol Bekas:

[Gambas:Video 20detik]


(lir/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed