detikNews
Senin 03 Juni 2019, 11:17 WIB

Cerita Berkesan Ramadhan

Jejak Peradaban Islam di Hungaria

Rachma Dessidianti - detikNews
Jejak Peradaban Islam di Hungaria Foto: (Rachma Dessidianti/Istimewa)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Budapest - Hungaria adalah sebuah negeri yang ada di Eropa Timur. Siapa sangka ada jejak peradaban Islam di sana.

Hungaria, salah satu negara yang berada di kawasan Eropa Timur ini, sejak tahun 2013 membuka kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi di jenjang master (S2) dan doktor (S3) melalui beasiswa Stipendium Hungaricum Scholarship dari pemerintah Hungaria.

Kali pertama menunaikan ibadah puasa di Budapest, Hungaria, rasanya sangat menggembirakan. Bukan hanya merasakan perbedaan waktu berpuasa yang signifikan apabila dibandingkan dengan berpuasa di Indonesia, dimana durasi berpuasa di Budapest yaitu selama 17-18 jam, namun juga rasa penasaran terhadap aktivitas warga muslim di Budapest.

Jejak Peradaban Islam di HungariaFoto: (Rachma Dessidianti/Istimewa)
Jejak Islam tidak terlalu asing bagi Hungaria, dimana pada abad ke-16 wilayah negara ini sempat berada di bawah kekuasaan Ottoman Turki. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya restoran Turki yang tersedia di Hungaria ini, khususnya di Kota Budapest.

Menurut sensus 2011 oleh Central Statistical Office (KSH) Hungaria, ada 5.579 warga negara Hungaria yang memeluk agama Islam, sekitar 0.057% dari total populasi. Perinciannya yaitu 3.567 aki-laki dan 2.012 perempuan. Namun, 10 tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2001, hanya 3.201 orang Islam di Hungaria. Artinya naik hampir 2 kali lipat dalam 10 tahun. Mayoritas Muslim di Hungaria berasal dari Turki, Arab dan warga negara Hungaria sendiri.

Tidak susah untuk menemukan toko yang menjual daging halal di Budapest. Terdapat beberapa toko lokal yang dimiliki oleh muslim keturunan Turki di Hungaria.

Makam penyair muslim Gül Baba

Jejak Peradaban Islam di HungariaFoto: (Rachma Dessidianti/Istimewa)
Gül Baba merupakan penyair dari dinasti Ottoman Turki yang datang bersama tentara Turki ke daerah Buda, sisi utara Kota Budapest dan berhasil menduduki daerah tersebut. Gül Baba meninggal pada tahun 1541 dan dimakamkan di Mecset Utca 14 daerah Buda di Kota Budapest. Pada tahun 1885, pemerintah Ottoman Turki menugaskan seorang insinyur Hungaria untuk merenovasi makam Gül Baba dan ketika renovasi selesai pada tahun 1914, makam penyair berjuluk Father of Roses ini dinyatakan sebagai monumen nasional. Saat ini, salah satu tempat ziarah umat muslim di Eropa Timur ini dimiliki oleh Republik Turki.

Masjid Budapest Mecset

Jejak Peradaban Islam di HungariaFoto: (Rachma Dessidianti/Istimewa)
Masjid Budapest Mescet yang kerap disebut dengan Masjid Fehervari ini merupakan masjid terbesar di Hungaria. Berlokasi di Fehérvári út 41, Budapest, Hungaria, Masjid ini kerap menjadi rujukan untuk menunaikan ibadah salat, Salat Jumat serta Salat Ied bagi warga muslim di Hungaria, khususnya di Budapest.

Selain itu, terdapat komunitas Muslimah yang mengadakan kajian di setiap hari Jumat siang. Komunitas Muslimah yang berasal dari berbagai negara ini digagas oleh Muslimah asal Hungaria. Berkenalan serta menjalin silaturahmi dengan Muslimah dari berbagai negara tentunya hal yang menarik. Melalui percakapan serta bertukar pikiran, banyak informasi terkait keragaman budaya yang dapat diperoleh.

Kota Budapest mungkin belum sefamiliar Kota Paris, Amsterdam ataupun Berlin, namun kota cantik ini dapat menjadi destinasi studi ataupun travelling di Kawasan Eropa Timur yang kaya akan nilai histori serta bangunan yang ikonik. Selamat datang di Budapest, Hungaria!

*) Rachma Dessidianti adalah mahasiswa Master Degree in Chemistry, Eotvos Lorand (ELTE) University, Budapest, Hungaria, alumni Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia dan anggota PPI Dunia
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

***

Para pembaca detikcom, bila Anda juga mahasiswa Indonesia di luar negeri dan mempunyai cerita berkesan saat Ramadhan, silakan berbagi cerita Anda 300-1.000 kata ke email: ramadan@detik.com cc artika@ppidunia.org dengan subjek: Cerita PPI Dunia. Sertakan minimal 5 foto berukuran besar karya sendiri yang mendukung cerita dan data diri singkat, kuliah dan posisi di PPI.
(fay/fay)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed