detikNews
Jumat 31 Mei 2019, 21:38 WIB

Eks Anak Buah Tak Yakin M4 yang Ditemukan Polisi Senjata Soenarko

Arief Ikhsanudin - detikNews
Eks Anak Buah Tak Yakin M4 yang Ditemukan Polisi Senjata Soenarko Mayjen (Purn) Soenarko (berbaju kelabu). (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta - Mantan anak buah Mayjen (Purn) Soenarko menyebut Soenarko memiliki niat untuk mengirim senjata eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ke Museum Kopassus. Namun senjata itu berjenis M16A1, bukan M4 Carbine seperti yang disita Polri.

Berdasarkan informasi yang didapat detikcom, senjata ilegal yang disita dari Soenarko adalah senjata laras panjang M4 Carbine buatan Amerika Serikat (AS). Senjata M4 ini biasa digunakan oleh tentara angkatan darat dan Korps Marinir AS.

Keinginan Soenarko, disampaikan saat dia menjadi Panglima Kodam Iskandar Muda (IM) pada 2008/2009 kepada Sri Radjasa Chandra yang menjadi Perwira Pembantu Madya (Pabandya) bidang Pengamanan Kodam.


Pada 2009, Kodam IM menerima penyerahan tiga senjata dari mantan kombatan GAM: dua pucuk senapan AK47 dan satu pucuk M16A1.

"Kondisi senjata tersebut saya lihat sendiri tidak layak untuk pertempuran. Itu tidak layak. Saya laporkan ke Pangdam IM Mayjen Soenarko. Arahan Pak Narko, bahwa dua pucuk (AK47) masukkan gudang, satu pucuk M16A1, simpan di kantor sebentar, nanti disimpan di Museum Kopassus," ucap Sri Radjasa dalam konferensi pers di Hotel Century Park, Jakarta Pusat, Jumat (29/4/2019).

Sri RadjasaSri Radjasa (Foto: Arief Ikhsanudin/detikcom)

Setelah Soenarko pensiun pun, senjata M16A1 tidak dikirim ke Jakarta sehingga Soenarko bertanya kepada Sri Radjasa pada 2018.


"Pada 2018, ketika saya berakhir masa penugasan di sana, Pak Narko sempat memerintahkan saja untuk mengirim senjata ke Jakarta. Tapi kebetulan saya sudah pindah ke Jakarta perintah tidak sempat saya kerjakan," ucap Sri.

Sri kemudian meminta Heriansyah untuk mengirim senjata yang diminta Soenarko. Namun, dengan catatan sudah dilengkapi surat-surat dari Kodam IM.

"Perintah mengirim senjata saya sampaikan kepada Heri, ini sipil, yang sehari-hari membantu Pak Narko di sana. Dengan catatan, kalau dikirim ke Jakarta, tolong dikirim ke Kasdam IM Brigjen Daniel, agar mendapat surat pengantar dari Pak Daniel," ucap Sri.


Namun, setelah ada proses pengiriman, surat diakui tidak ditandatangani oleh Kasdam IM. Selain itu, surat dinyatakan palsu.

Ferry Firman Nurwahyu, pengacara SoenarkoFerry Firman Nurwahyu, pengacara Soenarko. (Foto: Arief Ikhsanudin/detikcom)

"Kemudian yang menjadi aneh pada 15 Mei 2019, senjata M16 dikirim ke Jakarta. Pengirimannya menggunakan standar. Garuda dari Aceh. Dengan dilengkapi surat pengantar Brigjen Purnawirawan Sunardi. Beliau ini penugasan di Aceh dari BIN. Setiba di bandara, muncul permasalahan karena surat pengantar diakui palsu. Pengirim dari Kodam, tidak pernah mengaku membawa senjata tersebut. Ini aneh," ucap Sri.

Namun kemudian polisi menyebut menyita senjata M4 Carbine yang dikirim ke Soenarko. Sri Radjasa mengaku tidak yakin itu senjata yang sama dengan yang diinginkan oleh Soenarko.


"Saya nggak tahu persis, tapi saya nggak yakin itu senjatanya," ucap Sri Radjasa.

Rencana pengiriman itu diakui oleh kuasa hukum Soenarko, Ferry Firman Nurwahyu, namun senjata yang awal dan ditemukan oleh Polri berbeda.

"Kan sudah kita bantah, senjata awal seperti ini. Senjata ini diketemukan saat operasi 2009," ucap Ferry di lokasi yang sama.
(aik/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed