detikNews
Selasa 28 Mei 2019, 19:31 WIB

Wiranto Jelaskan Isi Pertemuan dengan Mahfud Md Cs soal Rusuh 21-22 Mei

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Wiranto Jelaskan Isi Pertemuan dengan Mahfud Md Cs soal Rusuh 21-22 Mei Foto: Wiranto (Azizah/detikcom)
Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto hari ini menerima sejumlah tokoh Gerakan Suluh Kebangsaan (GSK) di kantornya. Pertemuan tersebut membahas seputar kerusuhan 21-22 Mei 2019.

"Dari dialog yang kita lakukan, kita mempunyai satu pemahaman yang sama bagaimana memahami kondisi negeri yang kita cintai ini. Dan khusus untuk kita mendiskusikan aksi tanggal 21-22 Mei yang baru lalu dengan semua pelibatannya juga telah kita bahas satu demi satu," ujar Wiranto di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (28/5/2019).

Wiranto menyebut ada yang merencanakan dan mengkondisikan pengumpulan massa demo di Jakarta. Tujuan demo akbar tersebut antara lain untuk menolak hasil pemilu, mendelegitimasi penyelenggara pemilu, mendiskualifikasi paslon 01, dan menetapkan paslon 02 sebagai pemenang pemilu.




"Tahap awal demo berjalan damai, sesuai aturan. Tahap berikutnya berlangsung brutal, lewat waktu yang diizinkan, menyerang petugas dengan berbagai alat (batu, bambu runcing, petasan besar, dan bom molotov)," jelas Wiranto.

"Ada dugaan kuat bahwa demo anarkis sengaja dilakukan untuk memancing aparat bertindak over reaktif, sehingga menimbulkan korban dari pendemo," imbuhnya.

Wiranto menduga adanya korban sengaja diciptakan sebagai martir, sehingga menyulut emosi massa untuk bertindak lebih beringas. Dengan adanya martir, menurut Wiranto, akan memperbesar aksi untuk melawan pemerintah.

"Dengan adanya martir, akan memperbesar aksi melawan pemerintah dengan menduduki KPU, Bawaslu, DPR dan Istana. Tujuan akhir akan memakzulkan Presiden Jokowi sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan," ungkapnya.

Korban yang berjatuhan akibat rusuh tersebut tak hanya dari pendemo, tapi juga aparat. Wiranto menuding tindakan massa yang beringas menjadi penyebab jatuhnya korban.

"Korban Iuka-Iuka di kalangan massa pendemo maupun aparat keamanan memang ada, akibat benturan yang cukup keras yang disulut oleh massa beringas dari pihak pendemo," ucap Wiranto.




Wiranto melanjutkan, dari penyelidikan sementara diduga jatuhnya korban bukan karena tembakan polisi. Pihak kepolisian juga telah membentuk tim pencari fakta untuk mengungkap.

"Dari fakta awal yang ditemukan, bekas tembakan, selongsong peluru, arah peluru, arah tembakan dan perkenaan ada kecenderungan bukan dari senjata organik Polri. Namun saat ini Polri sedang membentuk TPF (Tim Pecari Fakta) guna mencari kebenaran," tuturnya.

Selain aksi 21-22 Mei, Wiranto juga mengungkap adanya aksi lain yang harus dihadapi aparat. Aksi tersebut antara lain serangan teror dari pelaku terorisme yang sudah berhasil dinetralisir oleh aparat keamanan, serangan hoax dan kampanye hitam, ancaman pembunuhan pejabat negara melalui pembunuh bayaran yang dipasok senjata oleh sponsor, serta aksi untuk membakar dan menjarah pusat-pusat perbelanjaan dan pemukiman Tionghoa yang juga gagal karena pengetatan penjagaan oleh TNI dan Polri.




Wiranto juga meminta masyarakat untuk tenang. Ia menegaskan TNI dan Polri akan terus bersiaga menjaga keamanan nasional.

"Tentu kita mengharapkan masyarakat tenang, masyarakat juga tidak perlu lagi mendengarkan penjelasan-penjelasan yang tidak jelas, yang tidak bertanggung jawab, yang hanya membuat kekacauan, itu nggak usah didengarkan," kata Wiranto.

"Kita juga terus melakukan satu kesiapan penuh ya. TNI Polri saat ini terus bersiaga lebih untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi yang mengganggu keamanan nasional," pungkasnya.


Simak Juga 'Jadi Target Pembunuhan 22 Mei, Wiranto: Nyawa di Tangan Tuhan':

[Gambas:Video 20detik]


(azr/zak)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed