Kerja Rodi di Mata Pram

Kerja Rodi di Mata Pram

- detikNews
Kamis, 06 Okt 2005 03:26 WIB
Jakarta - Jalan Raya Pos dari Anyer menuju Panarukan yang dibangun Belanda adalah lambang kebiadaban penjajahan di masa pendudukan Belanda. Ribuan anak bangsa harus melakukan Kerja Rodi untuk merealisasikan jalan yang panjangnya 1000 kilometer ini.Dalam buku terbaru Pramoedya Ananta Toer yang berjudul "Jalan Raya Pos", dia mencoba menceritakan penderitaan rakyat Indonesia ini. "Penduduk desa harus bekerja rodi membuat jalan itu dan bila menolak maka mereka akan digantung," kata Prama di Pusat Kebudayaan Prancis, Jalan Salemba Raya, Rabu (5/10/2005).Pembuatan jalan itu adalah perintah dari Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811). Jalan ini digunakan untuk kelancaran menjalankan tugasnya di Pulau Jawa. Ribuan orang tewas dalam pembuatan jalan ini. Di mata Pramoedya, salah satu persamaan zaman Daendels dan zaman orde baru (Orba). Di zaman ini penguasa bisa melakukan penangkapan dan pembunuhan seenaknya. "Saya sendiri pada zaman Orba dijemput dari rumah dan dipukul oleh popor senjata sehingga kuping saya tuli sebelah. Rumah saya mereka kuasai dan anak dan istri saya diusir dari situ," kenang Pram.Pram sendiri mengaku tidak mengerti mengapa dirinya tidak disukai dan harus ditangkap oleh rezim orde baru. "Ada yang menuduh saya komunis tetapi saya bukan komunis," katanya.Hidup Pramoedya memang tak lepas dari dinginya lantai penjara. Tak hanya dalam rezim Orde Baru, pada pemerintahan Belanda pun dia pernah ditahan pada tahun 1947β€”1949. Tahun 1965 hingga 1979, dia pun kembali ditahan di beberapa tempat seperti di penjara Jakarta, Tangerang, Nusakambangan, Magelang, Semarang dan Pulau Buru. (mar/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads