DetikNews
Senin 13 Mei 2019, 14:46 WIB

Kisah Kivlan Zen: Dulu Ingin Lindas People Power, Kini Kesandung Makar

Rakhmad Permana - detikNews
Kisah Kivlan Zen: Dulu Ingin Lindas People Power, Kini Kesandung Makar Kivlan Zen (Foto: Lamhot Aritonang)
FOKUS BERITA: Kasus Makar Jilid II
Jakarta - Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen merupakan salah satu tokoh militer yang seringkali mendapat sorotan. Kivlan Zen pernah menuai sejumlah kontroversi, seperti rencananya yang ingin melindas para demonstran pada tahun 1998 hingga tuduhan terkait tindakan makar. Walaupun begitu, dia juga pernah menuai prestasi. Lantas, bagaimana rekam jejaknya?


Pernah Jadi Aktivis dan Masuk Akmil


Kivlan Zen lahir di Langsa, Aceh pada 24 Desember 1946. Dia menghabiskan masa kecilnya di Medan. Usai lulus SMAN 2 Medan, dia mengambil kuliah di jurusan Kedokteran di Universitas Islam Sumatera dan sempat menjadi aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) pada tahun 1962. Namun, kuliahnya drop out usai dia masuk ke sekolah militer di Akmil (Akademi Militer) Magelang.

Setelah lulus Akmil angkatan 1971, dia langsung masuk ke satuan Infanteri, Kostrad, Angkatan Darat. Dia pun sempat menimba ilmu kemiliteran di Advance Georgia USA (1982), Seskoad Bandung (1990) dan Lemhanas Jakarta (2000). Karir Kivlan Zen dimulai saat menjadi Komandan Peleton pada usia 27 tahun. Kemudian, dia menjabat berbagai posisi di militer yang sebagian besar sebagai komandan tempur.



Mulai dari Danton Akabri, Danden Banmin Linud-18, Dnunonif-303 Brigif-13/Kostrad sampai Kaskostrad (Kepala Kostrad). Dia juga ikut menumpas gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada 1974 dan bertugas di Timor-Timur. Keberhasilannya dalam tugas membuat karirnya menanjak. Dari menjadi Staf Brigade Infanteri Linud 1/Cilodong/Kostrad (Kasdivif I Kostrad) sampai menjadi Panglima Divisi Infanteri 2/Kostrad, berpangkat Mayor Jendral dan terakhir menjadi Kepala Staf Kostrad pada tahun 1998. Pada tahun yang sama, Prabowo Subianto menjabat sebagai Panglima Kostrad.


Pernah Ingin Melindas 'People Power'


Kivlan Zen pun sempat menuai kontroversi ketika ingin mengamankan stabilitas pemerintahan Orde Baru Presiden Soeharto tahun 1998. Saat itu, Soeharto digoyang masalah krisis moneter yang berkepanjangan. Sehingga, di sejumlah daerah muncul protes untuk menuntut agar Soeharto segera lengser.

Dalam buku "Mereka Mengkhianati Saya: Sikap Anak-Anak Emas Soeharto di Penghujung Orde Baru" yang ditulis oleh Femi Adi Soempeno, dijelaskan bahwa Kivlan Zen bersama para jendral lain ingin merebut gedung parlemen yang diduduki oleh para mahasiswa.

"Pada 20 Mei 1998, di luar kediaman Soeharto, Mayor Kivlan Zen, bekas Kepala Staf Kostrad itu berada di kelompok Prabowo bersama sejumlah Jendral lain. Ketika ribuan mahasiswa menduduki gedung parlemen, ia mengaku menggalang sejumlah organisasi massa pro-Soeharto untuk merebut kembali gedung parlemen dari tangan mahasiswa. Hanya saja, massa ini batal beraksi karena Soeharto mundur lebih cepat," tulisnya.

Kivlan Zen / Kivlan Zen / Foto: Dok detikcom


Selain itu, berdasarkan pengakuannya, Kivlan berusaha mati-matian mencegah demonstrasi atau aksi 'people power' yang digalang oleh Amien Rais yang saat itu masih Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, pada 20 Mei di kawasan Monas. Kemudian, dia memerintahkan pasukannya membawa peluru tajam untuk menghadang massa.

"Saya sempat meminta Prabowo menemui Amien agar membatalkan niatnya. Jika tidak, dia bisa ditembak anak buah saya atau saya tangkap," ujar Kivlan di Majalah Tempo, seperti yang dikutip dalam buku tersebut.



Kivlan juga mengaku, dirinya pula yang mengatur agar tank dan panser ditempatkan di pusat kota. "Lindas mereka yang memaksa masuk Monas dengan tank!" ujar Kivlan kepada pasukannya saat itu.

Namun, aksi 'people power' sejuta orang di Monas urung terlaksana. Sementara Soeharto semakin dekat dengan masa lengsernya. Hingga pada akhirnya 21 Mei 1998, Soeharto melepaskan jabatannya. Buntut dari lengsernya Soeharto ini, Prabowo dicopot dari jabatannya. Sedangkan Kivlan dimutasi ke Mabes TNI AD.


Terseret Kerusuhan Ambon


Kivlan Zen juga sempat diduga ikut terseret dalam permasalahan kerusuhan di Ambon, Maluku pada tahun 1999. Disebutkan dalam buku 'Ge-geran bersama Gus Dur (2010)', Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua PB NU menyebut dalam kerusuhan Ambon adalah 'Mayjen K'. Sosok 'Mayjen K' ini mengarah pada Kivlan Zen berpangkat jabatan Mayor Jenderal TNI.

Karena merasa sosok 'Mayjen K' itu mengarah pada dirinya, Kivlan langsung mendatangi Gus Dur. Setelah itu, Gus Dur menjelaskan kepada pers bahwa yang dia maksud 'Mayjen K' itu bukan merujuk pada Kivlan Zen. Dia pun meminta supaya masalah ini tak usah diperpanjang lagi. Namun, orang masih penasaran dengan identitas asli 'Mayjen K', lantas akhirnya Gus Dur menjawabnya. "Mayjen K itu maksudnya Mayjen Kunyuk (monyet). Habis, apa namanya kalau kerjanya jadi dalang kerusuhan...," ucap Gus Dur.



Menjadi Negoisator


Bukan hanya kontroversi, Kivlan juga pernah menuai prestasi. Pada tahun 2016, Kivlan Zen menjadi salah satu tokoh dalam upaya pembebasan 10 WNI ABK kapal Brahma 12 yang disandera kelompok bersenjata di Filipina.

Kivlan menjadi negosiator dengan kelompok bersenjata yang disebut berafiliasi dengan Abu Sayyaf tersebut. Kivlan turun langsung ke Filipina atas inisiatif pribadi mewakili PT Patria Maritime Lines, operator Brahma 12. Dia datang bersama tujuh anggota timnya sejak 27 Maret 2016.

"Saya tidak dibayar sepeser pun oleh Maritime," kata Kivlan saat berbincang dengan detikcom, Rabu (4/5/2016).

Di Filipina, Kivlan mendapat bantuan dari Gubernur Sulu Abdsakur Toto Tan II. Sang Gubernur adalah keponakan dari mantan pimpinan The Moro National Liberation Front (MNLF) Nur Misuari. Kivlan mengaku berteman dengan Nur Misuari saat dirinya bertugas di pasukan perdamaian Filipina Selatan tahun 1995-1996. Kala itu Indonesia memang terlibat dalam proses perdamaian di wilayah konflik tersebut.



Pada suatu ketika, Nur Misuari dan Kivlan pernah bertemu dan sejak saat itu keduanya menjadi teman. Lewat Nur Misuari, Kivlan berhasil melakukan kontak dengan pimpinan penyandera yang disebut bernama Al Habsyi Misa. Al Habsyi Misa pernah menjadi pengawal Nur Misuari saat menjabat Gubernur Otonomi Muslim di Mindanao atau ARMM pada 1996-2001.

Syahdan, Kivlan pun berhasil menghubungi kelompok penyandera untuk melakukan negosiasi. Pada Minggu (1/5/2016), 10 WNI ABK Kapal Brahma 12 yang disandera kelompok bersenjata di Filipina berhasil dibebaskan tanpa uang tebusan sepeser pun.

Dituduh Makar dan Sempat Dicekal Keluar Negeri


Pada tahun 2019, Kivlan dituduh melakukan tindakan makar. Kivlan dilaporkan atas tuduhan makar dan penyebaran berita bohong oleh Jalaludin. Pelaporan tersebut terdaftar dengan nomor LP/B/0442/2019/Bareskrim tertanggal 7 Mei 2019.

"(Laporan) Sudah diterima Bareskrim tadi malam," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (8/5/2019).

Kivlan Zen / Kivlan Zen / Foto: Lamhot Aritonang



Dedi menyampaikan pelapor menyerahkan sebuah flashdisk berisi video Kivlan dan Lieus sedang berbicara di depan banyak orang. Pernyataan Kivlan dan Lieus itulah yang dituding sarat akan pelanggaran makar.

"Laporan itu dugaan penghasutan kemudian mengajak untuk berbuat makar. Barang bukti yang dilampirkan pelapor adalah flashdisk isi ceramah," ucap Dedi.

Lantas, pada Jumat (10/5) polisi melakukan pencekalan terhadap Kivlan. Polri menyebut Kivlan Zen hendak ke Brunei Darussalam lewat Batam. Kivlan Zen sempat ditemui personel Bareskrim Polri yang menyerahkan surat panggilan atas laporan dugaan makar.

"Kami sudah kirimkan surat cekal itu ke Imigrasi agar yang bersangkutan dicegah untuk bepergian ke luar negeri dan permohonan cekal itu sudah dilakukan Imigrasi. Yang bersangkutan mau ke Brunei melalui Batam di Bandara Soetta," ujar Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra saat dihubungi, Jumat (10/5).


Pada akhirnya, pencekalan terhadap Kivlan ini dicabut. Kivlan lalu memenuhi panggilan polisi.

Kivlan menepis tuduhan yang menyebutnya ingin melarikan diri ke Batam. Kivlan menjelaskan bahwa kepergiannya ke Batam hanya untuk bertemu dengan anak dan istrinya.

"Saya ke Batam mau ketemu anak istri saya. Kemudian datang Lettu Azis dari Bareskrim menyerahkan surat panggilan. Oke saya datang tanggal 13 (Mei)," kata Kivlan saat memenuhi panggilan di Bareskrim Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (13/5/2019).

"Jadi jelas kok bahwa waktu itu saya kooperatif, nggak mau lari. Bagaimana saya mau lari? Saya ini perwira, jenderal. Masa kabur dari tanggung jawab?" sambungnya.



Simak Juga 'Laporkan Balik Jalaluddin, Kivlan Zen Bantah Tuduhan Makar':

[Gambas:Video 20detik]


(rdp/imk)
FOKUS BERITA: Kasus Makar Jilid II
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed