DetikNews
Kamis 09 Mei 2019, 19:58 WIB

WN China Diupah Rp 60 Juta Antar Sabu Produk Amerika ke Indonesia

Adhi Indra Prasetya - detikNews
WN China Diupah Rp 60 Juta Antar Sabu Produk Amerika ke Indonesia Foto: Adhi Indra Prasetya/detikcom
Jakarta - Dua orang WN China ditangkap karena menjadi kurir sabu asal Amerika Serikat. Mereka diberi upah Rp 60 juta untuk satu kali pengiriman barang ke Indonesia.

"(Upah) RMB 30 ribu, setara Rp 600 juta. Hotel, tiket semua ditanggung, tapi bayaran belum diterima," kata tersangka Li Xiufen yang diterjemahkan penerjemah di Polres Jakbar, Slipi, Jakarta Barat, Kamis (9/5/2019).

Li Xiufen mengaku disuruh oleh bosnya untuk mengambil paket di Indonesia. Dia datang ke Indonesia pada 30 April 2019.

Tersangka lainnya, Cui Ming, mengaku diutus langsung oleh bosnya dari China ke Indonesia untuk mengambil barang setiba di Jakarta. Ming diperintahkan mengambil barang di Kantor Pos Daan Mogot, Jakarta Barat, pada 11 April 2019.

"Jadi waktu kita tangkap, boarding pass-nya pun masih ada sama mereka," kata Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Barat AKBP Erick Frendriz.

Erick mengatakan jaringan ini tergolong unik. Di jaringan ini sang pengendali dari China terus mengontrol barang untuk memastikan barang telah diterima jaringannya di Jakarta.

"Ini agak unik jaringannya, biasanya sudah dikirim, dilepas oleh penjual. Ini penjual masih mengawal sampai ke lokasi untuk memastikan barang diterima, lalu dikasih ke pembeli lokal," tutur Erick.



Kedua kurir ini tidak bisa berbahasa Indonesia. Sang pengendali dari China memberikan petunjuk kepada kedua kurir agar bisa menjalankan tugasnya sampai ke pembeli.

"Jadi dia pengambilan barang--dia nggak bisa bahasa Indonesia--dia diarahkan oleh pengendali dari China yang sudah pernah ke Indonesia, sudah paham bahasa Indonesia, sehingga mengarahkan, misal kamu cari tulisan (menyebut ojek online) dikasih resi, disuruh ambil barang, kasih duit Rp 100 ribu (ke ojek online), misalnya seperti itu," lanjutnya.

Sang pengendali mengatur hingga akomodasi kurir selama di Indonesia.

"Dia mau nginep di mana, mau pakai apa, semua dikendalikan dari China, karena nggak bisa bahasa Indonesia," tambah Erick.

Erick mengatakan kedua kurir tersebut menginap di hotel di kawasan Glodok, Tamansari, yang memang banyak berpenghuni warga keturunan China. Hal ini agar memudahkan mereka berkomunikasi dengan penduduk lokal ketika perlu mencari informasi.

"Makanya hotel yang dipilih daerah Tamansari, karena di Glodok banyak warga Chinese, sehingga mereka akan lebih mudah menemukan komunikasi dengan penduduk lokal yang bisa berbahasa Chinese, itulah alasan kenapa dipilih Tamansari," tuturnya.

Dua WN China ini ditangkap pada 11 April dan 30 April 2019. Keduanya ditangkap dengan barang bukti 19 kilogram sabu.


(mea/mea)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed