DetikNews
Kamis 09 Mei 2019, 17:16 WIB

Sidang Suap Pejabat Kemenpora, Sekjen KONI Dituntut 4 Tahun Penjara

Zunita Putri - detikNews
Sidang Suap Pejabat Kemenpora, Sekjen KONI Dituntut 4 Tahun Penjara Suasana persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta (Foto: Zunita Amalia Putri/detikcom)
Jakarta - Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (Sekjen KONI) Ending Fuad Hamidy dituntut 4 tahun dan denda Rp 150 juta subsider 3 bulan kurungan. Ending diyakini jaksa memberikan suap kepada sejumlah pejabat di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Pejabat Kemenpora yang disuap adalah Deputi IV Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Mulyana serta dua staf Kemenpora bernama Adhi Purnomo dan Eko Triyanta.

"Menuntut supaya majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang mengadili dan memeriksa perkara ini menyatakan para terdakwa telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut," kata jaksa KPK Ronald Ferdinand Worotikan saat membacakan surat tuntutan dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (9/5/2019).




Jaksa pada KPK mengatakan Ending memberi suap kepada sejumlah pejabat Kemenpora ditujukan untuk mempercepat proses pencairan dana hibah yang diajukan KONI ke Kemenpora. Perbuatan Ending disebut jaksa bersama-sama dengan Johnny E Awuy selaku Bendahara KONI.

Adapun Johnny juga dituntut bersamaan dengan Ending, yakni dengan tuntutan 2 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 3 bulan kurungan.

Berikut suap yang diberikan Ending melalui Johnny kepada pejabat Kemenpora dengan tujuan untuk memperlancar pencairan anggaran KONI;

1. Mulyana diberikan 1 unit mobil Fortuner VRZ TRD warna hitam metalik nomor polisi B-1749-ZJB, 1 buah kartu ATM debit BNI dengan saldo kurang-lebih senilai Rp 100 juta dan uang Rp 300 juta, serta 1 buah ponsel merek Samsung Galaxy Note 9

2. Adhi Purnomo dan Eko Triyanta diberi Rp 215 juta.

3. Miftahul Ulum dan Arif Saputra total yang diberikan Ending senilai Rp 11,5 miliar.

Selain memberikan kepada tiga pejabat Kemenpora, dalam analisisnya jaksa juga menyakini Ending dan Johnny juga memberikan suap kepada staf pribadi Menpora Imam Nahrawi, Miftahul Ulum, dengan tujuan untuk memperlancar. Jaksa menyebut total yang diberikan Ending kepada Ulum adalah senilai Rp 11,5 miliar.

"Maka kami berkesimpulan terdakwa dan Johnny memberikan hadiah kepada Mulyana berupa mobil Fortuner, uang senilai Rp 400 juta, dan handphone Samsung Galaxy Note 9, serta uang Rp 215 juta ke Adhi Purnomo dan Eko Triyanta. Adapun pemberian lain kepada pejabat Kemenpora lain sebesar Rp 11,5 miliar melalui Miftahul Ulum dan Arif Susanto agar membantu pencairan dana hibah KONI," kata jaksa.




Adapun hal yang memberatkan dan meringankan adalah tidak mendukung program pemerintah yang sedang giat melakukan upaya pemberantasan korupsi. Sedangkan hal yang meringankannya adalah kedua terdakwa menyesali perbuatannya dan belum pernah dihukum.

"Hal memberatkan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan korupsi. Untuk hal yang meringankan terdakwa sopan dalam sidang, belum pernah dihukum, terdakwa mengakui perbuatan dan masih ada tanggungan keluarga," ucap jaksa.

Atas dasar ini, keduanya diyakini jaksa melanggar Pasal 5 Ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP juncto Pasal 64 Ayat 1 KUHP.
(zap/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed