Round-Up

Ngeri Isu People Power Ditunggangi Teroris

Tim - detikNews
Selasa, 07 Mei 2019 20:03 WIB
Ilustrasi perburuan teroris (Fuad Hasyim/detikcom)
Jakarta - Polisi mengungkap teroris berencana memanfaatkan momen people power dengan melakukan serangan bom. Rencana serangan di momen pemilu itu disusun teroris untuk menciptakan konflik yang lebih besar.

Dirangkum detikcom, Selasa (7/5/2019), hal ini diungkapkan Karo Penmas Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. Dedi mengatakan teroris berencana meledakkan bom di kerumunan massa saat ada protes-protes terkait pemilu.


"Dia itu membaca konstelasi dan dinamika yang terjadi di masyarakat. Mereka bergerak terus. Dan mereka ketika memanfaatkan momentum misalnya dalam keterangan yang bersangkutan akan melihat, apabila ada people power yang ada di Jakarta, mereka hajar di dalam," kata Dedi di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (7/5/2019).

Setelah terjadi ledakan yang memakan korban dari massa aksi, akan timbul kecurigaan antarkelompok. Kemudian situasi akan memicu terjadinya bentrok massa yang besar.


Dedi mengatakan cara ini dilakukan kelompok teroris di negara yang tengah mengalami konflik besar, seperti di Suriah dan Irak. Sebagaimana diketahui, krisis kemanusiaan terjadi di Irak dan Suriah setelah kelompok teroris ISIS muncul.

Polisi menyebut, SL, yang ditangkap di Bekasi, berbaiat kepada ISIS. SL jadi buron Densus 88 sejak 2014.

"Bisa suicide bomber, bisa melakukan aksi terorisme yang lain mengakibatkan fatalitas banyak korban yang meninggal. Akhirnya terjadi kecurigaan di antara kelompok ini dengan kelompok ini. Jadi saling curiga. Dan jadi bentrok massa yang lebih keras lagi. Itu yang dimaui oleh mereka. Seperti halnya kejadian di Suriah, kemudian di Irak, kemudian di Malawi. Jadi menunggu massa chaos dulu. Menunggu massa betul-betul kumpul, meledakkan, ledakan besar, mereka akan ambil alih," ungkapnya.