Fahri Sesalkan Pernyataan Hendropriyono Soal Habib Rizieq-WNI Keturunan Arab

Yulida Medistiara - detikNews
Selasa, 07 Mei 2019 14:28 WIB
Fahri Hamzah (Foto: Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono mengingatkan Habib Rizieq Syihab dan WNI keturunan Arab agar tidak menjadi provokator. Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyesalkan pernyataan Hendropriyono.

"Saya kira dia harus minta maaf kepada bangsa Indonesia bahwa dia dalam usia seperti itu masih melakukan perbuatan yang sangat tidak layak," kata Fahri di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Selasa (7/5/2019).

Fahri mengaku sedih karena di usia Hendropriyono yang senior masih berbicara mengenai rasis. Ia menyebut hal itu tidak boleh dilakukan karena ada undang-undang yang mengatur terkait SARA.

"Saya sedih, karena orang tua, senior seperti beliau tidak seharusnya dia membuat pernyataan yang bernuansa rasialisme. Itu sebenarnya ada deliknya itu. Undang-Undang Antidiskriminasi ras dan etnis," kata Fahri.

"Dia tidak boleh melakukan itu. Saya menyayangkan itu. Dia tidak boleh melakukan itu. Kita sudah memproduksi pasal-pasal dalam konstitusi, dan undang-undang khusus supaya tidak ada diskriminasi SARA itu. Kok tiba-tiba beliau yang mengungkapkan itu. Itu tidak baik," sambungnya.

Sebelumnya, eks Kepala BIN AM Hendropriyono mengingatkan sejumlah WNI keturunan Arab agar tidak menjadi provokator. Hendropriyono tak mau seruan makar itu meluas.


"Saya peringatkan Rizieq, Yusuf Martak, dan orang-orang yang meneriakkan revolusi kan sudah banyak. Itu inkonstitusional, merusak disiplin dan tata tertib sosial, jangan seperti itu," kata Hendropriyono kepada wartawan, Selasa (7/5).

Hendropriyono memandang banyak warga keturunan Arab yang sangat dihormati di masyarakat. Karena itu, dia merasa perlu memperingatkan sebagian warga keturunan Arab untuk tidak memprovokasi revolusi sampai turun ke jalan.

"Kalau kenyataan di masyarakat kita itu sangat menghormati orang-orang Arab, mereka kan juga warga negara Indonesia. Kalau di kampung-kampung kita masih bisa lihat orang Arab datang ke kampung-kampung pada cium tangan. Berarti posisinya mereka kan berada pada tempat yang dimuliakan, mereka kemudian langsung atau tidak langsung terakui sebagai pemimpin informal, informal leader," kata Hendropriyono.

Dengan posisi yang mulia seperti itu, Hendro mengimbau para warga keturunan Arab supaya mengayomi masyarakat. "Jangan malah memprovokasi revolusi, memprovokasi untuk turun melakukan gerakan politik jalanan. itu inkonstitusional," ingatnya lagi. (yld/fjp)