DetikNews
Senin 06 Mei 2019, 14:34 WIB

Pejabat Kemenpora Didakwa Terima Suap Rp 400 Juta-Mobil dari Sekjen KONI

Faiq Hidayat - detikNews
Pejabat Kemenpora Didakwa Terima Suap Rp 400 Juta-Mobil dari Sekjen KONI Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Mulyana didakwa menerima Rp 400 juta dan mobil Fortuner dari Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy/Foto: Faiq Hidayat-detikcom
Jakarta - Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Mulyana didakwa menerima Rp 400 juta dan mobil Fortuner dari Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy. Pemberian suap dimaksudkan untuk mempercepat proses pencairan dana hibah yang diajukan KONI ke Kemenpora.

"Telah menerima hadiah berupa 1 unit mobil Fortuner VRZ TRD warna hitam metalik nomor polisi B-1749-ZJB, uang sejumlah Rp 300 juta, 1 buah kartu ATM debit BNI dengan saldo kurang-lebih senilai Rp 100 juta, serta 1 buah handphone merek Samsung Galaxy Note 9," ujar jaksa KPK Ronald Ferdinand Worotikan saat membacakan surat dakwaan tersebut dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jl Bungur Besar, Jakarta Pusat, Senin (6/5/2019).





Selain itu, staf Kemenpora Adhi Purnomo dan Eko Triyanta juga didakwa terpisah dalam perkara ini. Adhi dan Eko didakwa menerima suap Rp 215 juta dari Ending Fuad Hamidy. Perbuatan pemberian suap yang dilakukan Hamidy bersama-sama dengan Bendahara KONI Johny E Awuy.

Kasus ini bermula saat KONI mengajukan proposal dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga nasional pada multi-even Asian Games dan Asian Para Games 2018. KONI pun mengajukan proposal bantuan hibah ke Kemenpora dengan usulan dana Rp 51,529 miliar.

Menindaklanjuti proposal itu, Menpora Imam Nahrawi mendisposisikan Mulyana dan tim verifikasi untuk dilakukan penelitian apakah proposal tersebut layak untuk diberikan kepada KONI Pusat. Agar pencairan itu dipercepat, Mulyana meminta mobil yang disanggupi Hamidy.





"Kemudian masih pada bulan April 2018 terdakwa menerima mobil Fortuner VRZ TRD di rumahnya yang terletak di Jalan A Yani No 14C, Jakarta Timur yang diserahkan Widhi Romadoni," ujar jaksa.

Setelah proposal disetujui, jaksa mengatakan Mulyana dan Ketua Tim Verifikasi Adhi Purnomo memberi arahan kepada Hamidy untuk berkoordinasi Asisten Pribadi Menpora Imam Nahrawi, Miftahul Ulum terkait komitmen fee.

KONI harus memberikan komitmen fee kepada Kemenpora agar seger dicairkan bantuan dana hibah itu.

Ending Fuad Hamidy dan Miftahul Ulum sepakat besaran komitmen fee untuk pihak Kemenpora kurang lebih 15%-19% dari total nilai bantuan dana hibah yang diterima KONI.

"Setelah dana tersebut dicairkan oleh KONI, selanjutnya Mulyana kembali menerima uang Rp 300 juta dari Ending Fuad Hamidy melalui Johny E Awuy," jelas jaksa.




Untuk proposal pengawasan dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih berprestasi, jaksa mengatakan, Hamidy meminta bantuan Eko menjadi penghubung KONI dengan Kemenpora. Agar proposal itu bisa dicairkan, Mulyana menerima Rp 100 juta handphone Samsung Galaxy Note 9 dari Hamidy.

Atas perbuatan itu, Mulyana didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 Ayat 1 KUHP.
(fai/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed