Round-Up

Kans Reshuffle Kabinet Terbuka Sebelum Tenggat Paripurna

Tim Detikcom - detikNews
Jumat, 03 Mei 2019 07:43 WIB
Foto: Ilustrasi Kabinet Jokowi. (Andhika Akbarayansyah/detikcom).
Jakarta - Meski sudah memasuki akhir periode pemerintahan, Kabinet Kerja petahana Joko Widodo (Jokowi) rupanya masih ada kans untuk direshuffle. Perombakan kabinet tersebut terbuka hingga paripurna periode pertama Jokowi pada Oktober mendatang.

Isu reshuffle di Kabinet Jokowi ini merebak menyusul adanya sejumlah menteri yang terseret dalam kasus korupsi. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengungkap Jokowi sudah pernah berbicara soal kemungkinan dilakukannya perombakan kabinet.

"Perombakan kabinet ya presiden sudah mengatakan bisa iya bisa tidak, kita lihat kepentingannya. Intinya kita semuanya berharap jangan sampai terjadi karena waktu kerja kita kan beberapa bulan. Tetapi sekali lagi kalau sudah persoalan hukum, presiden selalu tidak mau intervensi tentang itu. Tergantung dari berprosesnya, apa yang terjadi sekarang ini," ujar Moeldoko di gedung Bina Graha, Jakarta Pusat, Kamis (2/5/2019).

Seperti diketahui, satu menteri Jokowi yang terjerat KPK adalah Idrus Marham yang kini divonis 3 tahun penjara di pengadilan tingkat pertama. Namun sebelum menjadi tersangka, Idrus terlebih dulu mengundurkan diri dari posisi Mensos.


Terkait menteri-menterinya yang berurusan dengan KPK, Jokowi dipastikan tak akan melakukan intervensi. Moeldoko menegaskan, Jokowi menghormati proses hukum yang dilakukan penegak hukum termasuk KPK.

"Intinya begini, pada saat (kasus) menimpa Pak Idrus, presiden juga dalam hal ini sama sekali tidak melakukan intervensi atas proses hukum. Sama juga dengan nanti akan diberlakukan terhadap menteri-menteri yang saat ini mungkin ada kaitannya dengan persoalan hukum. Tapi semuanya ini akan sedang berproses, belum tersangka dan sebagainya," ucap jenderal purnawirawan itu.

Kans Reshuffle Kabinet Terbuka Sebelum Tenggat ParipurnaFoto: Moeldoko. (Matius Alfons/detikcom).

Di akhir-akhir pemerintahan Jokowi pada periode 2014-2019, ada 3 menteri yang berurusan dengan KPK. Lembaga antirasuah itu menggeledah ruang kerja dan kediaman Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita terkait kasus suap anggota DPR Bowo Sidik Pangarso.

Kemudian, KPK juga memanggil Menteri Agama Lukman Hakim terkait dugaan jual beli jabatan di Kementerian Agama (Kemenag). Terakhir, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi dipanggil KPK sebagai saksi dalam persidangan perkara suap terkait dana hibah KONI di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Sehari setelah bersaksi di persidangan, Imam Nahrawi diketahui bertemu Jokowi di Istana. Imam membantah kedatangannya ke Istana di luar jadwal resmi karena akan mengundurkan diri.


KPK sendiri sudah memberi peringatan kepada Jokowi untuk betul-betul mengecek rekam jejak sosok yang membantunya di pemerintahan. Ini menyusul adanya sejumlah menteri di Kabinet Kerja yang sempat dan sedang berurusan dengan kasus korupsi yang ditangani KPK.

Sebelumnya diberitakan, Jokowi mengundang Komandan Kogasma Partai Demokrat (PD) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Kamis (2/5). Usai bertemu Jokowi, AHY menyatakan ingin ambil bagian untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik.

"Kita juga selalu harus bisa membangun semangat untuk menjadi bagian besar mewujudkan Indonesia yang semakin baik ke depan," kata AHY.

Hal senada juga disampaikan Jokowi. Capres petahana yang unggul di Pilpres 2019 versi hitung cepat itu juga berbicara soal semangat bersama membangun Indonesia.

"Pertemuan saya dan Mas AHY ini adalah silaturahmi yang baik, berpayung semangat kebangsaan untuk senantiasa bersama-sama memajukan Indonesia. Terima kasih, Mas AHY," ucap Jokowi.


Simak Juga "Ini Alasan Jokowi Tak Copot Ketum Golkar Airlangga dari Kabinet":

[Gambas:Video 20detik]

Kans Reshuffle Kabinet Terbuka Sebelum Tenggat Paripurna
(elz/bar)