DetikNews
Kamis 02 Mei 2019, 18:53 WIB

MUI Tak Sependapat dengan Habib Bahar soal 'Peniru Habib Harus Dipukul'

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
MUI Tak Sependapat dengan Habib Bahar soal Peniru Habib Harus Dipukul Masduki Baidlowi (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Habib Bahar bin Smith menyitir sebuah hadis yang menyebutkan bahwa siapa pun yang mengaku-aku sebagai habib harus dipukul keras. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan hadis yang diungkap Habib Bahar dalam sidang kasus penganiayaan dua remaja itu perlu ditelusuri tingkat kesahihannya. Meski begitu, MUI menyatakan tidak boleh ada aksi main hakim sendiri dengan landasan hadis sekalipun karena sudah ada hukum positif di Indonesia.

"Pertama, status hadis yang dibacakan oleh Habib Bahar bin Smith dalam persidangan itu harus didalami, seperti apa kedudukannya. Apakah termasuk hadis shohih, hasan, atau dhoif. Itu mesti dikaji terlebih dahulu lewat mustholah hadis (ilmu khusus untuk memverifikasi keabsahan sebuah hadis)," kata Ketua MUI Bidang Infokom Masduki Baidlowi, Kamis (2/5/2019).



Terlepas dari itu, Masduki berpendapat hadis yang disampaikan Habib Bahar tidak relevan dijadikan rujukan untuk bertindak di Indonesia. Pasalnya, menurut Masduki, Indonesia mempunyai hukum tersendiri.

"Apa pun status dari hadis tersebut, sebenarnya tidak relevan dijadikan landasan bertindak di negara Indonesia, karena negara kita sudah mempunyai hukum positif tersendiri," ujar dia.



Masduki menilai Habib Bahar seharusnya melaporkan dugaan pemalsuan status habib itu ke polisi. Dalam pemahaman Masduki, tidak boleh ada main hukum sendiri di Indonesia.

"Ada pasal-pasal yang jelas terkait dengan tindakan pidana yang berhubungan dengan peristiwa yang dialami Habib bahar bin Smith. Artinya, secara hukum positif hadis tersebut tak bisa dijadikan landasan pembenaran untuk menindak seseorang. Adanya hadis yang secara pemahaman keagamaan menghendaki adanya tindakan bagi orang yang memalsukan status habib dengan cara mengaku sebagai keturunan Rasulullah. Mestinya hal itu dilaporkan saja kepada aparat penegak hukum positif di Indonesia. Tidak boleh melakukan tindakan sendiri karena hal seperti itu akan melanggar hukum," urai Masduki.

"Itu ibarat ada orang Islam melihat terjadinya kemungkaran di depan mata. Secara hukum agama, jika melihat kemungkaran yang bertentangan dengan agama, kan harus ditindak. Tetapi tindakan langsung tidak diperbolehkan karena bertentangan dengan hukum positif Indonesia. Maka, caranya kita harus melaporkan adanya kemungkaran tadi kepada aparat hukum," sambung dia.



Menurut Masduki, gelar habib di Indonesia banyak disalahgunakan untuk kepentingan status sosial dan keuntungan ekonomi. Padahal, sambung Masduki, istilah habib tidak digunakan di luar Indonesia. Keturunan Rasulullah biasanya disebut 'sayid'.

"Di Indonesia banyak keturunan Rasul yang justru menyembunyikan identitasnya dan mereka terus rajin berdakwah dan memperdalam ilmu agama. Saya kira hal demikian ini yang sangat baik. Para habib yang menyembunyikan diri itulah yang justru menjadi tuntunan umat karena dari mereka umat dapat contoh-contoh keteladanan Rasul," imbuh Masduki.

Sebelumnya, dalam sidang yang digelar Pengadilan Negeri Bandung di Gedung Arsip dan Perpustakaan, Kota Bandung, Kamis (2/5/2019), Bahar diberi kesempatan menanggapi sekaligus memberikan pertanyaan kepada ahli pidana, Nandang Sambas, yang dihadirkan jaksa dalam persidangan. Saat diberi kesempatan, Habib Bahar lantas membacakan hadis Imam Malik dalam kitab Az-Zahirah.

"Artinya, kalau ada orang yang mengaku sebagai cucu Nabi, barang siapa yang mengaku-aku sebagai habib ibarat kata, maka menurut Imam Malik berarti kata beliau harus dipukul. Bukan pukulan biasa, tapi pukulan keras, itu menurut Imam Malik," tutur Bahar.

Masih dalam hadis tersebut, sambung Bahar, selain dipukul secara keras, orang yang mengaku-aku sebagai habib itu harus diumumkan kepada publik.

"Bukan hanya dipukul, diumumkan bahwasannya dia ini habib palsu agar menjadi pelajaran bagi orang-orang supaya ke depan tidak mengaku-aku. Lalu dipenjara lama sehingga dia bertobat ke Allah," kata Bahar.


Tonton juga video Habib Bahar Persoalkan Umur Korban di Persidangan:

[Gambas:Video 20detik]


(knv/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed