DetikNews
Rabu 01 Mei 2019, 18:34 WIB

Denda Overstay Naik Rp 1 Juta/Hari Dikeluhkan Para Ekspat

Aditya Mardiastuti - detikNews
Denda Overstay Naik Rp 1 Juta/Hari Dikeluhkan Para Ekspat Foto: Ilustrasi turis (Thinkstock)
Jakarta - Aturan denda baru bagi warga negara asing (WNA) yang tinggal melebihi batas waktu alias overstay bikin ekspatriat geleng-geleng kepala. Denda Rp 1 juta per hari dinilai terlalu mahal.

"Iya mahal. Ini lebih mahal dari di Eropa. Beberapa orang tidak akan punya uang untuk membayar denda dan akan ketinggalan pesawatnya," kata WN Belgia Olivier Decoster kepada detikcom di Denpasar, Bali, Rabu (1/5/2019).

Decoster juga menyesalkan aturan baru ini tidak tersosialisasikan dengan baik. Dia mengaku baru tahu dari unggahan di Facebook maupun Twitter sesama ekspat yang tinggal di Bali.

"Informasi aturan baru ini tidak tersosialisasi dengan baik. Aku tahu dari forum di FB dan Twitter, sangat disayangkan. Imigrasi harus menginformasikan ini ke media sosial dalam bahasa inggris. Saya pikir banyak turis bakal terkejut saat meninggalkan Indonesia," tutur pria yang sudah 9 tahun tinggal di Bali ini.


Menurutnya besaran denda Rp 1 juta per hari ini bakal dirasa terlalu mahal bagi para turis. Dia tidak yakin semua turis bisa membayar denda overstay ini.

"Saya sendiri pernah overstay, maksimal 6 hari. Tidak masalah soal aturan ini, karena saya paham dan bisa membayarnya. Tapi untuk beberapa orang mungkin bakal minta tolong orang lain untuk membayar denda ini karena Imigrasi tidak menerima kartu kredit," ujar pria yang punya villa di Bali ini.

Hal senada juga disampaikan WN Amerika Serikat (AS) Josh. Pria yang sudah tinggal 10 tahun di Indonesia ini menilai kebijakan ini bakal berdampak negatif untuk pariwisata Indonesia.

"Menurut saya ini bisa membahayakan pariwisata di Indonesia, terutama daerah-daerah terpencil di luar Bali atau Batam. Kebijakan visa 30 hari sudah membuat segala hal menjadi sulit dan menyebabkan para turis hanya berdatangan ke daerah wisata yang sudah terkenal seperti Bali," kata Josh.

"Indonesia negara yang besar dan butuh banyak waktu untuk dieksplor, dibandingkan kebijakan bebas visa 90 hari di Singapura dan Malaysia, negara-negara yang jauh lebih kecil dari Indonesia, ini adalah kebijakan yang disayangkan. Semuanya ini ditambah lagi dengan mahalnya penerbangan domestik, saya tidak yakin target kunjungan turis yang ditetapkan pemerintah bisa tercapai," sambungnya.


Josh menyebut kebijakan ini membatasi para turis yang ingin mengeksplorasi keindahan alam Indonesia. Apalagi dia pernah punya pengalaman buruk saat mengurus perpanjangan izin tinggal saat kedatangan atau visa on arrival (VOA) bersama keluarganya.

"Aku pernah mencoba memperpanjang VOA sama keluarga, tapi di sistem imigrasi banyak masalah. Jadi mereka bilang tak bisa di sini, harus ke kota lain dan mulai proses lagi dari awal. Untunglah di momen terakhir berhasil, padahal saya dengan keluarga 5 orang mahal banget jika masalah (overstay) terjadi," kisahnya.

Menurutnya kebijakan lama atau denda Rp 300 ribu per hari sudah cukup efektif untuk memberi efek jera. Dia berharap kebijakan ini benar-benar sudah dikaji baik dampak positif maupun negatifnya.

"Untuk turis biasa Rp 300 ribu sudah efektif (memberi efek jera), pasti mereka tidak mau overstay lama. Saya berharap Kementerian Hukum/Imigrasi berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata untuk mengkaji dampak dari kebijakan ini," tutur pria yang tinggal di Kerinci, Jambi itu.


Aturan mengenai biaya yang dibebankan kepada WNA overstay itu tertuang dalam PP Nomor 28 Tahun 2019 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Kabag Humas dan Data Ditjen Imigrasi Agung Sampurno mengatakan beban Rp 1 juta itu diterapkan untuk memberikan efek jera kepada WNA yang tinggal melebihi batas waktu. Aturan tersebut berlaku mulai Mei 2019 ini.

"Alasannya adalah memberikan efek jera kepada WNA yang melanggar," kata Agung saat dimintai konfirmasi, Selasa (30/4).
(ams/gbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed