DetikNews
Senin 29 April 2019, 08:55 WIB

PBNU Setuju Pemerkosa dari Tokoh Agama Dihukum Lebih Berat, Ini Alasannya

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
PBNU Setuju Pemerkosa dari Tokoh Agama Dihukum Lebih Berat, Ini Alasannya Alissa Wahid (Foto: Usman Hadi/detikcom)
FOKUS BERITA: Membedah RUU PKS
Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) setuju tokoh agama yang melakukan pemerkosaan dihukum lebih berat sebagaimana tertuang dalam draf RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS). Hukuman lebih berat itu diharapkan dapat menimbulkan efek jera bagi masyarakat.

"Kalau jumlah tahunnya itu serahkan pada proses kesepakatan di DPR tapi bahwa pada prinsipnya adalah sebagai tokoh agama dan tokoh masyarakat, mereka perlu mendapatkan hukuman yang lebih besar untuk menimbulkan efek jera dan juga untuk efek jera kepada masyarakat lebih luas. Dan juga untuk memberikan pembelaaan kepada korban, iya," kata Sekretaris Umum Lembaga Kemaslahatan Keluarga PBNU, Alissa Wahid, saat dihubungi, Minggu (29/4/2019) malam.



Dalam pandangan Alissa, jika orang biasa melakukan pemerkosaan atau pelecehan seksual, itu tidak mempunyai pengaruh sosial. Namun, pengaruh itu akan berdampak besar jika tokoh agama yang menjadi pelaku pemerkosaan.

"Tapi kalau tokoh agama, ketika dia punya pengaruh sosial, itu ketika dia melakukan dia bisa memberikan normalisasi. Artinya orang lain kemudian menganggap, boleh. Karena panutannya adalah, tokoh agama," tuturnya.



Selain itu, Alissa melanjutkan, tokoh agama yang menjadi pelaku pemerkosaan mempunyai efek yang lebih besar terhadap korban. Hukuman lebih berat untuk tokoh agama ini dinilai sebagai bentuk pembelaan untuk korban.

"Pengaruhnya dia kepada si calon korban sendiri atau korban tepatnya, itu jauh lebih besar. Korban itu lebih tidak berdaya ketika yang memaksa dia hubungan seksual itu si tokoh agama. Jadi itulah yang menyebabkan tokoh agam perlu untuk mendapatkan hukuman ekstra dan juga karena efek jera," imbuh dia.

Alissa kemudian menyampaikan kaidah usul fikih yang mempunyai arti mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mendapatkan maslahat. Dalam konteks kekerasan seksual, Alissa berpendapat kerusakan yang dilakukan oleh seorang tokoh agama akan berdampak lebih besar sehingga perlu dicegah dari awal.

"Kalau di NU kiai-kiai itu selalu menggunakan kaidah fikih, kalimatnya darul mafasid, muqoddam ala jalbil masolih, mencegah merusakan itu diutamakan dibandingkan mendapatkan kebaikan. Jadi kerusakan yang ditimbulkan oleh seorang tokoh agama itu jauh lebih besar," tuturnya.

Seperti diketahui, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) memperluas makna pemerkosaan, termasuk hukuman hukuman minimal penjara. Bila di KUHP tidak ada hukuman minimal, di RUU PKS muncul pidana minimal. Bahkan tokoh agama yang melakukan tindakan pemerkosaan dihukum minimal 12 tahun!

Dalam Pasal 16 RUU PKS yang dikutip dari website DPR, disebutkan mengenai definisi pemerkosaan dalam RUU PKS:

Perkosaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf e adalah Kekerasan Seksual yang dilakukan dalam bentuk kekerasan, ancaman kekerasan, atau tipu muslihat, atau menggunakan kondisi seseorang yang tidak mampu memberikan persetujuan untuk melakukan hubungan seksual.

Lalu apa hukuman bagi pemerkosa dalam RUU PKS? Dalam Bagian Ketujuh RUU PKS diberikan ancaman pemerkosaan secara berjenjang sesuai derajat perbuatan, yaitu:

1. Pemerkosa minimal 3 tahun penjara dan maksimal 12 tahun penjara.
2. Pemerkosa anak, minimal dihukum 5 tahun penjara dan maksimal 13 tahun penjara.
3. Pemerkosa orang disabilitas, minimal dihukum 6 tahun penjara dan maksimal 14 tahun penjara.
4. Pemerkosa anak disabilitas, minimal dihukum 7 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara.
5. Pemerkosa orang tak sadar/tak berdaya/hamil, minimal dihukum 8 tahun penjara dan maksimal 16 tahun penjara.
6. Pemerkosa yang korbannya mengalami goncangan jiwa, minimal dihukum 9 tahun penjara dan maksimal 17 tahun penjara.
7. Pemerkosa yang korbannya mengalami luka besar dan gangguan kesehatan berkepanjangan, dihukum minimal 10 tahun penjara dan maksimal 18 tahun penjara.
8. Pemerkosa yang korbannya meninggal dunia, minimal dihukum 11 tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara.
9. Pemerkosaan yang dilakukan beramai-ramai, minimal dihukum 12 tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara.
10. Pemerkosaan yang dilakukan oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan atau pejabat, minimal 12 tahun dan maksimal 20 tahun penjara.
11. Pemerkosaan yang dilakukan oleh orang tua/keluarga, pelaku minimal dihukum 15 tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara.
12. Orang yang melakukan percobaan pemerkosaan, minimal dihukum 3 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara.



Saksikan juga video 'Merasa Tidak Terwakili, Para Wanita Ini Tolak RUU PKS':

[Gambas:Video 20detik]


(knv/fai)
FOKUS BERITA: Membedah RUU PKS
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed