Warga Ambon Kembali Masak dengan Kayu Bakar

Warga Ambon Kembali Masak dengan Kayu Bakar

- detikNews
Jumat, 30 Sep 2005 16:20 WIB
Ambon - Buntut kelangkaan BBM dan antrean pada dua SPBU di kota Ambon serta naiknya harga minyak tanah dari Rp 1.200 sampai Rp 1.600, sejumlah warga kota Ambon mulai kembali ke masa lalu: menggunakan kayu bakar!Ditemui di kediamannya, Jumat (30/10/2005), Ahmad Litiloly (40), warga Air Besar desa Batu Merah Kecamatan Sirimau, Ambon, mengungkapkan, sejak dua hari lalu dirinya telah menggunakan kayu bakar untuk memasak. "Sudah dua hari lalu. Minyak mahal. Selain itu susah, di kios tempat jual minyak habis terus. Terpaksa saya menggunakan kayu bakar," ujar Ahmad.Kendati menggunakan kayu bakar, Ahmad kemungkinan tidak akan bertahan lama memasak dengan cara kuno ini. "Hutan di sini dilarang ditebang. Kayu-kayu yang kami ambil juga hanya beberapa potong," ujarnya. Hal yang sama dialami Frits Mattitaputty (37), warga desa Amahusu, Kecamatan Nusaniwe, Ambon. "Kami sejak seminggu lalu sudah gunakan kayu bakar untuk memasak. Minyak tanah susah. Biasanya dijual tapi itu pun sangat terbatas. Jadi daripada antre dan menunggu pasokan minyak tanah yang lama, alternatifnya kami ambil kayu di hutan sekitar desa kami untuk memasak," ungkap Frits.Menurut Frits, selain keluarganya, sejumlah tetangganya juga telah beralih ke kayu bakar. "Kami setiap pagi sekitar jam 06.00 WIT sudah ke hutan cari kayu bakar bersama para tetangga," ujar Susan.Baik Ahmad maupun Frits mengharapkan untuk membuat kebijakan menaikkan harga BBM, pemerintah seharusnya juga memikirkan nasib rakyat kecil. "Kami dengar ada bantuan subsidi. Tapi sampai kapan bantuan itu akan diberikan. Bersyukur bagi para pegawai negeri dan TNI, karena gajinya dinaikkan. Tapi bagi kami rakyat kecil yang tidak memiliki pekerjaan tetap nasibnya bagaimana. Apakah kami hidup dengan bantuan terus-menerus. Itu kan tidak mungkin," ujar Frits pesimis.Terkait bantuan subsidi tersebut, Ahmad juga menyarankan pemerintah secara serius memberikan bantuannya bukan sekedar wacana. "Hingga kini kami sendiri belum terdata sebagai warga miksin yang berhak menerima bantuan itu. Dan ini bukan kami sendiri. Hampir semua warga di sekitar kami juga belum terdata," ujar Ahmad. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads