DetikNews
Rabu 24 April 2019, 17:41 WIB

Perjuangan Emy, Driver Taksi Online 'Bertangan Tak Sempurna'

Aditya Mardiastuti - detikNews
Perjuangan Emy, Driver Taksi Online Bertangan Tak Sempurna Foto: Emy Karmila (42) (Dita-detikcom).
Denpasar - Memiliki cacat fisik sejak lahir tak jadi penghalang bagi Emy Karmila (42) untuk bekerja. Meski hanya memiliki satu tangan yang sempurna secara fisik, Emy percaya diri menjadi driver taksi online, Go-car.

Emy bercerita sudah delapan tahun ini menjadi sopir freelance. Dia biasa membawa turis-turis mancanegara berkeliling menikmati wisata di Pulau Dewata. Di saat bisnisnya jatuh, Emy akhirnya memutuskan menjadi driver taksi online dengan harapan mendapatkan pemasukan yang stabil.

"Sopir travel freelance 8 tahun, cuma kalau freelance kan bawa kalau ada tamu, kalau nggak ada nganggur. Terus mikir kan biasa naik Go-car kok kayaknya enak ya ketemu orang baru terus, mulanya saya sudah harap-harap cemas pihak Gojek mau nerima saya. Pokoknya saya bismillah aja, ini sudah 9 bulan saya gabung Go-car," kata Emy saat ditemui di sela perayaan Hari Kartini di kantor Gojek, Jl Teuku Umar, Denpasar, Bali, Rabu (24/4/2019).

Sebelumnya Emy merupakan pebisnis di bidang garmen dan pakaian, bahkan bisnis garmennya juga sudah melayani ekspor. Jatuh bangun bisnis merupakan hal biasa untuknya, terlebih ketika usaha butiknya jatuh dan ditinggalkan rekannya dengan utang dan para pegawai yang harus digaji.

"Hidup saya nggak semudah orang lain, usia 15 tahun bapak ninggalin ibu dan saya anak tertua dari empat bersaudara. Tamat SMA saya kerja art shop untuk adek-adek saya sekolah. Berkembang akhirnya punya garmen sendiri sekitar 7 tahun bisnis bangkrut ditipu tamu. Lalu buka toko dengan temen saya mulai naik lagi ditinggal. Saat sudah jatuh, utang numpuk ditinggal sendirian, pegawai harus digaji saya jual-jualin mesin jahit pokoknya pegawai semua harus digaji," kenangnya.

"Di saat itulah gimana caranya kita survive dengan diri sendiri. Akhirnya dari situ mulai gabung jadi driver. Alhamdulilah mobil masih leasing, bulanan lumayan dan nutup pokoknya kencangkan ikat pinggang," tuturnya sambil tertawa.

Emy mengaku memang tak mudah menjadi driver taksi online, apalagi wanita. Meski begitu, dia bersyukur para pelanggannya bisa menerima keadaan dirinya.

"Kalau dapat bule lebih respect, kalau orang kita sering khawatir saya jelasin sudah biasa travel akhirnya ya mengerti. Saya nggak pernah ngancel trip, apapun saya ambil," ucap wanita tamatan SMA itu.


Hampir setahun bergabung, Emy mengaku nyaman menjalani profesinya sebagai driver taksi online. Dia mengaku banyak belajar dari para pelanggannya.

"Sukanya ketemu banyak orang, setiap hari kan saya belajar hal baru, karena yang naik mobil saya kan dari profesi banyak macem. Pemasukan juga lumayan," ujarnya.

Setiap harinya Emy bekerja sejak pukul 07.00-21.00 Wita. Salah satu yang menjadi pelecut motivasinya adalah ibu kandungnya yang kini tinggal bersamanya.

"Enaknya Go-car nentuin jamnya sendiri. Ibu saya selalu pesen hati-hati jangan ambil trip jauh akhirnya paling malem ya jam 21.00 Wita. Saya berjuang seperti ini nggak lepas dari doa ibu saya, cuma satu tujuan saya bahagiain ibu yang sekarang usianya 62 tahun," tuturnya.


Dia berharap para penyandang difabilitas lainnya juga pantang menyerah. Cacat fisik bukan halangan untuk beraktifitas dan mengekspresikan diri.

"Motivasinya jangan pernah menyerah dengan benda mati. Apapun bisa kita lakukan, sampai kita nggak bisa bener nggak sanggup. Bisa," pesannya.
(ams/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed