DetikNews
Rabu 24 April 2019, 12:59 WIB

5 Orang Tim Hore Capres Depresi Gara-gara Klaim Hasil Pilpres

Aditya Mardiastuti - detikNews
5 Orang Tim Hore Capres Depresi Gara-gara Klaim Hasil Pilpres dr I Gusti Rai Putra Wiraguna Sp KJ (Foto: Dita/detikcom)
FOKUS BERITA: Mantap Memilih!
Denpasar - Panasnya proses penghitungan suara Pemilu masih menyisakan perang opini dan pernyataan antarkubu paslon. Bahkan pendukung salah satu paslon di Bali didiagnosis gangguan jiwa ringan.

"Banyak kecemasan, merasa sudah menang kok musuhnya bilang menang juga, kesel istrinya dimarah-marahin, istrinya konsultasi, saya bilang ajak suaminya. Korban pemilu deh saking fanatiknya sama calon yang menang," kata dr I Gusti Rai Putra Wiraguna Sp KJ saat ditemui di Rumah Berdaya, Sesetan, Denpasar, Bali, Rabu (24/4/2019).



Rai, yang juga salah satu founder Rumah Berdaya, menyebut dia menerima lima pasien usai Pemilu berlangsung. Para pasiennya itu rata-rata malah membahas soal perang status di Facebook terkait Pilpres saat konsultasi.

"Saya kan di RSUD itu dua orang, di praktik saya pribadi 3 orang. Itu yang baru belum lagi temen-temen yang gangguan, belum pulih gara-gara kampanye, berita di tv muncul lagi. Kalau yang begitu dari sebelum kampanye saya suruh puasa medsos, nanti milih-milih aja pak nggak usah ngikutin beritanya," tuturnya.

"Jadi konsultasi itu cuma nunjukkin statusnya 'ada orang balesnya gini dok, saya nggak terima saya ajak ketemu' itu kan gangguan. Yang dilawan juga belum tentu ada orangnya," imbuhnya.



Dari hasil assesmentnya para pasiennya ini sudah menunjukkan tanda-tanda sebelum pencoblosan. Hanya saja penghitungan quick count rupanya menjadi trigger kejiwaan para pasiennya mulai terganggu.

"Setelah saya tanya sebelum pencoblosan, tapi memuncaknya antara hasil nggak sesuai harapan atau sesuai ekspektasi cuma yang lainnya bereaksi sebaliknya jadi sebaliknya. Kalau dibilang bukan relawan atau timses tapi tim hore-hore Pilpres, di Bali banyak kebetulan tim 01. Di Bali bigest ya katanya 93 persen," paparnya.

"Tapi sebenarnya ini kan bukan soal menang kalah, yang ngersa menang juga terganggu kan. Ngerasa menang terganggu juga dengan respons-respons itu. Digital selesai kan, masih nunggu lagi (hasil) katanya di berita di sana curang hal-hal yang gitu. Lima itu kebetulan ya," jelas Rai.



Berkaca pada pemilu 2014 lalu, Rai mengaku pasiennya tak sebanyak pemilu kali ini. Dia pun menganggap ini sebagai hal positif karena orang makin peduli dengan kesehatan jiwa.

"2014 nggak sebanyak sekarang. Kalau pendukung seingat saya dua yang saya tangani dan memang rasanya nggak kayak sekarang. Entah karena orang lebih aware harus konsultasi atau situasi lebih panas aja dengan berbagai macam," paparnya.

Lalu bagaimana mengenali ciri-ciri gangguan jiwa usai Pemilu 2019 ini? Rai menyebut mulanya kebanyakan pasiennya mengeluh sulit tidur hingga sakit maag.

"Awalnya datang keluhannya lebih banyak fisik, susah tidur, berobat maag tapi kok nggak baik-baik. Emosional menurut orang-orang terdekat jadi sudah ada yang mulai skip kerja, izin kerja, berpikir kita nggak sama entah fokusnya atau konsentrasinya, lebih melow daripada sebelumnya. Atau gejala fisik banyak tapi kok diobatin sampai minum maag tiga bulan kok nggak sembuh, itu bisa psikologi. Kadang kita nggak sadarin, setelah ngobrol-ngobrol baru ketahuan," tuturnya.

Kalau sudah mengalami gejala serupa, Rai menyarankan agar segera berobat. Dia mengingatkan proses penyembuhan juga harus didukung oleh lingkungan alias orang-orang di sekitar.

"Proses penyembuhannya kita lihat bukan hanya obat, partisipasi lingkungan. Sudah berobat dulu, puasa-puasa dululah (medsos)," pesan Rai.


(ams/knv)
FOKUS BERITA: Mantap Memilih!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed