Pasca-Bom Sri Lanka, Polri Perkuat Monitoring dan Pengamanan

Audrey Santoso - detikNews
Senin, 22 Apr 2019 14:06 WIB
Foto: Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo (Farih Maulana/detikcom)
Jakarta - Polri meminta masyarakat tetap tenang pasca-bom di Sri Lanka yang menewaskan sedikitnya 290 orang. Polri mengatakan ancaman teroris dalam negeri sudah diantisipasi sejak jauh hari oleh Densus 88 Antiteror dan Satgas Antiteror di jajaran polda.

"Pasca kejadian teroris di Sri Lanka, Kepolisian Republik Indonesia jauh sebelum kejadian itu atau pasca di Sibolga (Sumatera Utara), sudah melakukan mapping, profiling dan identifikasi terhadap sleeping-sleeping cell yang ada di Indonesia," terang Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (22/4/2019).



Dedi menuturkan kegiatan monitoring telah diperkuat sejak jaringan teroris Abu Hamzah diungkap. Dedi menegaskan Densus 88 Antiteror telah berpengalaman dalam hal memitigasi pergerakan teroris.

"Penguatan terhadap monitoring terus dilakukan baik dari seluruh Satgas Antiteroris dan radikalisme di polda-polda dengan Densus 88, dan stakeholder terkait, terus melakukan monitoring sleeping cell maupun di beberapa wilayah," jelas Dedi.

"Masyarakat diharap untuk tenang dan percayakan kepada kepolisian yang sudah memiliki pengalaman puluhan tahun untuk melakukan antisipasi dan penegakkan hukum terhadap kelompok teroris yang ada di Indonesia," sambung Dedi.

Sebelumnya rentetan ledakan bom di Sri Lanka menewaskan sedikitnya 290 orang, terjadi dalam waktu nyaris bersamaan sepanjang Minggu (21/4) waktu setempat. Enam ledakan pertama terjadi dalam waktu 20 menit, sebelum dua ledakan lainnya menyusul beberapa jam kemudian.



Terkait rentetan ledakan bom mematikan itu, Kepolisian Sri Lanka saat ini telah menangkap sekitar 24 tersangka. Para tersangka dilaporkan berkewarganegaraan Sri Lanka, dengan kebanyakan ditangkap di Colombo dan wilayah sekitarnya.

Sejauh ini belum ada kelompok maupun pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas ledakan-ledakan bom ini. Para penyidik akan memeriksa apakah ada keterkaitan 'jaringan luar negeri' pada mereka yang ditangkap.

Namun diketahui bahwa aparat keamanan Sri Lanka sebenarnya telah mendapatkan informasi dan peringatan soal rencana serangan bom bunuh diri di negara tersebut. Peringatan itu dilaporkan telah diterima polisi sekitar 10 hari sebelumnya dan disebarkan kepada otoritas terkait di Sri Lanka.


Simak Juga "Hormati Korban Bom Sri Lanka, Menara Eiffel Gelap Gulita":

[Gambas:Video 20detik]

(aud/rvk)