DetikNews
Kamis 18 April 2019, 17:21 WIB

LSI Denny JA Kritik Pemilu Serentak: Pileg Jadi Anak Tiri

Eva Safitri - detikNews
LSI Denny JA Kritik Pemilu Serentak: Pileg Jadi Anak Tiri Denny JA (Foto: Eva Safitri/detikcom)
Jakarta - Momentum pemilu serentak tahun ini dikritik lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Sebab, pemilihan calon anggota legislatif (Pileg) dinilai seolah menjadi 'anak tiri'.

"Kita melihat ternyata buruknya pemilu yang digabung. Jika pemilu presiden digabung dengan pemilu legislatif, kita melihat lebih detail buruknya kultur politik yang akan tercipta," ujar Denny JA yang mendirikan lembaga tersebut di kantornya, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (18/4/2019).

"Apa yang terjadi bila pemilu digabung. Yang pertama kalinya, yang terjadi pemilu legislatif segera jadi anak tiri. Kita lihat 70 persen percakapan publik. Legislatif hanya dapat porsi anak tiri saja," lanjutnya.

Padahal menurutnya, pileg dan pilres berada pada tingkatan yang sama dalam sistem pemerintahan. Jika pileg tidak dianggap serius, maka pemerintahan, jelas Denny, tidak akan berjalan kokoh.

"Pemerintah yang sehat itu adalah meja yang berdiri di tiga kaki, kaki pertama adalah eksekutif, kaki kedua legislatif dan kaki ketiga yudikatif. Jika satu kaki tidak kokoh karena pemilunya tak diperhatikan, tak kokoh pula meja itu. Jadi kita melihat dari sini bahwa ketika digabung yang terjadi pemilu legislatif tidak mendapatkan porsi yang seharusnya," ucapnya.




Selain itu, nuansa dominan momen pilpres juga memiliki efek tidak adanya pertarungan antar partai. Partai-partai teratas kini sudah otomatis terisi oleh partai yang memiliki capres atau cawapres.

"Dengan sendirinya equal pertarungan tak terjadi karena sudah ada partai yang terlebih dahulu punya asosiasi yang kuat yang buat pemilih lebih memberikan nilai lebih. Jadi sekarang ini Gerindra dapat bonus karena Prabowo, PDIP dari Jokowi, dan PKB dari Ma'ruf Amin," kata Denny.

Lebih lanjut, Denny menjelaskan pemilu serentak ini juga memunculkan pengkhianatan antara caleg dengan partainya. Ia menyebut bahwa pada momen pemilu kali ini, ada beberapa caleg yang tak mempromosikan capres pilihan koalisinya.

"Jika caleg itu dia menemukan dapil yang capresnya tak populer seperti misalnya caleg partai pro Prabowo harus berkampanye di Bali, yang Prabowo tidak terlalu populer. Maka caleg itu akan membuat manuver yang tak ingin dirinya terkait dengan Prabowo. Karena semakin dirinya terkait, semakin tidak terpilih," ujarnya.

"Bahkan, di beberapa lokasi dia jelas-jelas harus memperjuangkan Prabowo tapi dia mengkampanyekan Jokowi. Itu yang terjadi. Kita bisa baca di Google beberapa caleg Demokrat jelas-jelas mengkampanyekan Jokowi," lanjut Denny.



Tonton video QC LSI Denny JA: 9 Partai Lolos Parlemen, Siapa Saja?:

[Gambas:Video 20detik]


(eva/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed