Eks Ketua Sebut Serangan ke KPU Sangat Berat dan Sistematis

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 12 Apr 2019 17:34 WIB
Juri Ardiantoro (ari/detikcom)
Jakarta - Mantan Ketua KPU Juri Ardiantoro menyatakan serangan ke KPU pada Pemilu 2019 sangat berat dan sistematis. Targetnya menimbulkan ketidakpercayaan publik dan chaos di masyarakat.

"Upaya delegitimasi paling mutakhir adalah informasi yang diviralkan video 'penggerebekan' pencoblosan surat suara ilegal yang seolah-olah untuk memenangkan pasangan 01 dan calon dari Anggota DPR RI dari Partai NasDem oleh tim sukses pasangan nomor 02 di sebuah ruko di Selangor Malaysia," kata Juri kepada wartawan, Jumat (12/4/2019).


Menurut Juri, meskipun banyak kejanggalan yang dapat dilihat dari video tersebut dan belum ada investigasi secara mendalam dari pihak yang berkompeten, namun masyarakat sudah digiring untuk mempersepsi bahwa penyelenggara pemilu sudah melakukan kecurangan.

Selain catatan di atas, berikut catatan Juri soal narasi mendelegitimasi KPU, yaitu:

1. Soal 7 kontainer berisi 70 juta surat suara dari China yang telah tercoblos yang pada saat itu. Para pelaku hoax sedang diadili.
2. Video pencoblosan dini di Medan yang diframing sebagai kecurangan. Padahal peristiwa yang divralkan itu adalah kejadian pilkada Medan tahun 2015.
3. Muncul kembali informasi penting tentang kecurangan pemilu 2014 yang disimpan dalam flashdisk almarhum Husni Kamil Manik Ketua KPU saat itu
4. Kotak suara dari kardus. Padahal kotak serupa sudah dipakai sejak Pemilu 2014 dan berlanjut pada Pilkada tahun 2015, 2016, 2017, dan 2018.
5. KPU juga baru-baru ini diserang dengan pernyataan Amien Rais yang menyerukan 'people power' jika terjadi kecurangan untuk memperotes hasil pemilu.
6. Video penjelasan tim 02 yang mengklaim bahwa KPU sudah menyeting server KPU dengan mematok kemenangan pasangan #01 sebesar 57 persen. Kasus ini sudah dilaporkan ke Polri.
7. Barisan Masyarakat Peduli Pemilu Adil dan Berintegritas (BMPPAB) yang mengklaim telah menemukan sebanyak 17,5 juta Daftar Pemilih Tetap (DPT) dinilai bermasalah.
8. Viral informasi hasil penghitungan suara di LN dengan kemenangan mutlak pasangan 02.

"Sebagai mantan penyelenggara pemilu, saya memandang upaya-upaya sistemik seperti di atas sangat berbahaya, bukan saja kepada konteks kontestasi yang adil tetapi juga membangun ketidakpercayan masyarakat," cetus Juri.


Ujung dari upaya-upaya ini dikhawatirkan masyarakat akan mudah disulut untuk memprotes hasil pemilu dengan cara-cara di luar koridor hukum. Bahkan ada ancaman-ancaman akan ada chaos.

"Saya menghimbau masyarakat untuk memberikan kepercayaan kepada penyelenggara pemilu, KPU dan Bawaslu untuk berkerja professional, terbuka dan mandiri serta melawan setiap upaya sekelompok orang yang akan merusak proses pemilu ini, semata-mata demi pemilu yang berkualitas dan hasilnya kita akui sebagai prestasi bangsa," pungkasnya. (asp/elz)