DetikNews
Rabu 03 April 2019, 16:23 WIB

Bawaslu Tunggu Bukti Lain Terkait 'Cap Jempol' Amplop Bowo Sidik

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Bawaslu Tunggu Bukti Lain Terkait Cap Jempol Amplop Bowo Sidik Rahmat Bagja (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - KPK menemukan 'cap jempol' di amplop 'serangan fajar' yang disita dalam perkara dugaan suap anggota DPR Bowo Sidik Pangarso. Bawaslu tak mau menduga-duga mengenai keterkaitan 'cap jempol' itu dengan salah satu paslon sebelum ditemukan bukti yang lebih kuat.

"Yang jelas kita harus berdasarkan alat bukti yang kuat, tidak bisa kemudian Bawaslu. Karena ini harus, karena ada satu ini, dia kena pasangan calon ini," kata anggota Bawaslu Rahmat Bagja, saat dihubungi, Rabu (3/4/2019).


Bagja mengatakan pihaknya masih menunggu bukti lain terkait 'cap jempol' dalalm perkara Bowo Sidik. Jika ditemukan bukti yang kuat, Bawaslu akan bergerak untuk menindaklanjutinya.

"Kalau ada bukti lain bahwa yang bersangkutan berhubungan tim kampanye paslon itu dan kemudian ada bukti percakapan misalnya pasangan pilpres itu di KPK. Kita lihat dulu, alat bukti di KPK, kalau ada kita tindaklanjuti," imbuh dia.


Bagja menjelaskan, pengusutan suatu kasus harus disertai dengan alat bukti yang kuat. Dia kemudian mencontohkan mengenai penanganan kasus camat di Makassar, Sulawesi Selatan.

"Misalnya kasus camat Makassar, itu jelas ada unsur pidananya walaupun kemudian sama... tidak diiyakan.
Tapi jelas namanya siapa, ininya siapa, dan apakah hubungan dengan calon yang bersangkutan, itu harus dicari apakah berhubungan atau tidak berhubungan, bukan termasuk kaitan dengan itu. Karena siapa tahu ini terpisah dengan calon yang ada," jelasnya.

Sebelumnya, KPK mengamankan 400 ribu amplop berisi uang pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu dalam 84 kardus bernilai total Rp 8 miliar. Uang dalam 400 ribu amplop itu diduga bakal digunakan untuk serangan fajar pemilu.

Uang Rp 8 miliar dalam 400 ribu amplop itu terdiri atas Rp 1,5 miliar yang diduga merupakan suap dari Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Asty Winasti lewat seorang bernama Indung, serta Rp 6,5 miliar yang diduga berasal dari gratifikasi. Asty dan Indung juga sudah ditetapkan sebagai tersangka.

KPK menduga Asty memberi uang senilai total Rp 1,5 miliar dan Rp 89,4 juta kepada Bowo dalam 7 kali pemberian. Uang itu diduga diberikan supaya Bowo membantu PT HTK agar kapal-kapalnya kembali digunakan untuk distribusi pupuk PT Pupuk Indonesia Logistik.

Dalam proses penyidikan, KPK kemudian mengatakan ada 'cap jempol' pada amplop yang telah disita terkait kasus dugaan suap Bowo ini. 'Cap jempol' itu disebut ditemukan di amplop yang berasal dari 3 kardus yang telah dibuka, sementara 79 kardus dan 2 boks kontainer lainnya belum dibuka. Sejauh ini, KPK mengatakan uang dalam 400 ribu amplop itu ditujukan untuk 'serangan fajar' pemilu legislatif yang diikuti Bowo.
(knv/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed