Round-Up

Sensasi Gabut Award untuk DPR

Tsarina Maharani - detikNews
Senin, 01 Apr 2019 20:32 WIB
PSI memberikan 'Gabut Award' kepada anggota DPR. (Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memberikan 'Gabut Award' kepada anggota Dewan karena kinerja DPR periode 2014-2019 dinilai terburuk sepanjang sejarah reformasi. 'Gabut Award' PSI dianggap hanya mencari sensasi.

PSI mendatangi gedung DPR hari ini untuk menggelar 'bersih-bersih'. Dipimpin salah satu anggota tim 'Bersih-bersih DPR' PSI, Daniel Tumiwa, PSI berencana menyampaikan 'Gabut Award' kepada pimpinan DPR.

"Kami niatnya datang untuk menyampaikan sebuah award. Award ini karena kami prihatin atas kualitas dan kuantitas yang dihasilkan dalam 5 tahun periode kerja. Kami prihatin, kami sebagai anak muda yang mewakili aspirasi itu, menyatakan sikap bahwa kami betul-betul prihatin," kata Daniel di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (1/4/2019).

'Gabut Award' yang diberikan PSI berupa alat pemindai sidik jari (finger scan) yang biasa digunakan untuk merekam kehadiran. Award itu bertulisan 'Gabut Award untuk DPR Terburuk Sejak Reformasi. PSI Bersih-bersih DPR'.


Daniel mengatakan PSI prihatin atas kinerja DPR yang terus memburuk. Ia pun mengatakan PSI siap menghadirkan perubahan jika berhasil lolos ke parlemen.

"Kami sekelompok orang yang prihatin dan siap juga masuk ke DPR untuk terus dijaga dan untuk memegang akuntabilitas dan keterbukaan. Bahkan kami siap dipecat jika tidak melakukan tugas kami," ujarnya.

Namun 'Gabut Award' dari PSI itu tidak diterima pimpinan DPR hari ini. Salah satu alasannya, PSI belum sempat meminta izin untuk bertemu dengan pimpinan DPR. Daniel mengatakan PSI akan berkoordinasi agar bisa memberikan award tersebut secara langsung kepada pimpinan DPR.

"Akan kita teruskan karena sekarang belum bisa bertemu pimpinan DPR. Karena memang tidak bisa diterima. Seterusnya akan kita minta waktu agar bisa menyampaikan aspirasi dengan baik," ucap Daniel.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengkritik PSI yang memberikan 'Gabut Award' itu. Menurut Fadli, bukan kapasitas PSI memberikan award kepada lembaga legislatif.

"Setahu saya, parpol itu bukan lembaga pembuat award. Bawa pulang saja. Lagi pula kalau dia orang politik, seharusnya mengerti kalau sekarang lagi reses. Biasa itu cari sensasi, karena nggak dapat dukungan rakyat," kata Fadli saat dihubungi, Senin (1/4).


Terkait PSI yang tidak bisa bertemu pimpinan DPR, Fadli mengatakan saat ini DPR tengah memasuki masa reses. Masa reses DPR berlangsung sejak 28 Maret hingga 7 Mei 2019.

Andai PSI mengajukan permohonan pertemuan dengan pimpinan DPR di kemudian hari, Fadli mengatakan mau menerima kedatangan mereka. Fadli mengatakan ada saran yang ingin dia sampaikan kepada PSI. Apa itu?

"Boleh, nanti bulan Mei ketika masuk. Kan sekarang masih reses. Nanti kita lihat," ujarnya.

"Nanti saya akan sarankan kepada mereka, sudah, jangan parpol. Lebih baik bikin ormas atau apa," imbuh Fadli.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menertawakan 'Gabut Award' yang diberikan PSI itu. Fahri menyebut PSI tidak tahu apa-apa tentang kerja lembaga legislatif.

"Bagusnya terpilih dulu, biar ada anggotanya nanti di sini. Baru nanti berjuang. Sekarang belum paham apa-apa," kata Fahri di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (1/4).


Dia menduga aksi pemberian award itu merupakan cara PSI menaikkan popularitas partai. Fahri menyebut 'Gabut Award' merupakan akal-akalan PSI.

"Dugaan saya mereka ingin belokin karena survei belum ada, jadi pengin agak punya... ha-ha-ha.... Saya tahu akal-akalnya. Tapi ya sudahlah. Ya makanya masuk DPR dulu. Insyaallah bisa masuk," ujarnya.

Fahri pun berjanji akan mengajari PSI tentang tugas kedewanan jika partai yang diketuai Grace Natalie itu lolos ke Senayan. Namun dia enggan mengomentari lebih jauh soal 'Gabut Award' PSI itu.

"Ini usaha saja biar mereka ada berita terus, setidaknya sampai minggu tenang. Ini saya nyumbang (komentar) nih, ha-ha-ha.... Ya sudahlah, kasihan," ucapnya. (idh/idh)