DetikNews
Jumat 29 Maret 2019, 17:25 WIB

Cegah Prostitusi, KPAI Tekankan Pentingnya Pendidikan Kesehatan Reproduksi

Jefrie Nandy Satria - detikNews
Cegah Prostitusi, KPAI Tekankan Pentingnya Pendidikan Kesehatan Reproduksi Foto: KPAI menggelar konferensi pres tentang prostitusi online. (Jefrie-detikcom)
Jakarta - KPAI prihatin dengan terjadinya kasus eksploitasi anak dalam prostitusi online. KPAI menekankan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi untuk pencegahan.

"Menginjak triwulan pertama di tahun 2019, KPAI mengawasi dan memantau 8 kasus, yang sekiranya menonjol yang sudah ditangani kepolisian. Kasus-kasus tersebar hampir merata di berbagai penjuru Indonesia dengan prosentase jumlah korban pada setiap kasus rata-rata di atas 3 orang. Pada Januari 5 anak dilibatkan dalam prostitusi etalase seks di Bali," kata Komisioner Bidang Trafficking dan Eksploitasi Anak, Ai Maryati Solihah di kantor KPAI, Menteng, Kota Jakarta Pusat, Jumat (29/03/2019).


Selain itu, ada juga kasus prostitusi online yang menyediakan 8 anak di sebuah rumah di Ambon. Lalu, kasus prostitusi online yang menjajakan perempuan dewasa hingga anak SMA di Jakarta Barat pada awal Februari, dan lainnya.

"Hal ini menampakkan fenomena gunung es yang terus mengeras dan sulit untuk diurai," ujarnya.

Ai Maryati pencegahan dalam ruang pengasuhan keluarga yang baik dan pemenuhan hak anak mengenyam pendidikan formal merupakan kunci menutup rapat peluang anak menjadi korban prostitusi. Ai menuturkan, anak korban prostitusi menerima kerugian luar biasa seperti dari segi kesehatan, reproduksi, terpapar HIV AIDs serta kehamilan tidak diinginkan (KTD), dan lainnya.

"KPAI merekomendasikan dalam aspek pencegahan, pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi dan pendidikan literasi di era digital untuk anak dan orang tua adalah hal yang mendesak untuk dilakukan," ucapnya.

Baca juga: Tergiur Kerja di Bali, 5 Gadis 'Dijual' ke Pria Hidung Belang

Kedua, dalam memutus mata rantai prostitusi, pemerintah memerlukan optimalisasi peran dalam rehabilitasi sosial dan pemulihan anak dengan mengutamakan layanan pemulihan fisik, psikologis dan mental anak. Tujuannya agar anak mampu bangkit dan tidak kembali pada lingkungan semula.

"Pada Fase ini KPAI meminta Kemensos: RPSA dan RPSW, serta KPPPA yang membidani P2TP2A sebagai lembaga rujukan pemulihan memiliki standarisasi pemulihan anak korban TPPO, secara spesifik anak korban ESKA (Eksploitasi seksual komersial anak) dan prostitusi di dalamnya," tuturnya.

KPAI juga terus mendorong terpenuhinya hak pendidikan dan penguatan life skill agar mereka memiliki bekal dan modal sosial dalam menjalani kehidupan di masyarakat. Dalam penegakan hukum dan restitusi, KPAI terus berkoordinasi dengan kepolisian, kejaksaan dan LPSK agar pemenuhan hak korban eksploitasi perdagangan manusia dapat terealisasi.

Sementara itu, Plt. Kepala Biro Humas Kominfo Ferdinandus Setu mengatakan melawan eksploitasi kejahatan seksual pada anak ini merupakan upaya bersama. Sejak 2 September 2019 hingga 28 Maret 2019, Kemenkominfo telah memblokir 11.282 akun media sosial yang secara terang-terangan menyampaikan prostitusi online.

"95% itu adalah twitter. Yang secara terang-terangan mempromosikan untuk kegiatan prostitusi online dan sudah kami lakukan pemblokiran," kata Ferdinandus di lokasi yang sama.


Saksikan juga video 'Libatkan Orang Tua, Cegah Prostitusi Online':

[Gambas:Video 20detik]


(idh/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed