Bawa Alat Dapur, Ratusan Perempuan Tolak Harga BBM Naik

Bawa Alat Dapur, Ratusan Perempuan Tolak Harga BBM Naik

- detikNews
Minggu, 25 Sep 2005 12:37 WIB
Jakarta - Ratusan perempuan yang terdiri dari kaum muda dan ibu rumah tangga melakukan aksi demonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Aksi ini dimaksudkan untuk menolak kenaikan harga BBM pada awal Oktober mendatang.Aksi yang digelar pada Minggu (25/9/2005) pukul 11.30 WIB ini menimbulkan jalan di sekitar Bundara Hotel Indonesia, JL Jenderal Sudirman, Jakarta, tersendat.Aksi menjadi menarik karena para perempuan tua-muda itu membawa alat-alat rumah tangga seperti kompor, panci, alat penggorengan, telenan dan lainnya. Bahkan ada juga yang memakai kostum bak orang hamil.Menurut Koordinator Lapangan Vivi Widyawati, naiknya harga BBM berarti makin beratnya ongkos ekonomi keluarga. Kenaikan BBM selalu diikuti naiknya harga sembako, biaya transportasi, biaya kontrakan rumah dan sebagainya. "Ibu-ibu harus pusing memikirkan kebutuhan keluarga yang tidak mungkin terpenuhi," ujar Vivi.Menurutnya dana kompensasi Rp 100 ribu dianggap tidak akan membantu sama sekali. Sejumlah wanita yang menggunakan pakaian menyerupai orang hamil meneriakan yel-yel yang menyatakan biaya rumah sakit mahal sehingga harus melahirkan ke dukun dan kesehatan anak pun tidak bisa terpenuhi.Peserta aksi juga menggelar spanduk bertuliskan: BBM naik, SBY-JK gagal. Tolak Kenaikan BBM. Kenaikan BBM = Barang Bakal Mahal, PHK Merajela, Upah Buruh Rendah.Aksi yang digalang oleh sejumlah organisasi perempuan seperti Perempuan Mahardika, Srikandi Demokrasi Indonesia, IKOHI, KSPI dan lainnya menuntut adanya kesehatan gratis bagi perempuan terutama bagi ibu hamil dan melahirkan.Mereka juga meminta adanya pendidikan gratis bagi rakyat miskin, penghapusan utang luar negeri, dan meminta pertanggungjawaban pemerintah SBY-JK atas kebijakan ekonomi politiknya yang represif dan merugikan kaum perempuan.Dalam aksi itu sempat digelar happening art oleh Titi Kadarsih. Titi dan kawan-kawan seolah-olah masuk jaman batu, dan terpaksa harus makan batu. (san/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini