detikNews
Kamis 21 Maret 2019, 16:02 WIB

Legenda Dukun Beranak Sumba yang Akhiri Bedah Sesar Maut Suku Komodo

Danu Damarjati - detikNews
Legenda Dukun Beranak Sumba yang Akhiri Bedah Sesar Maut Suku Komodo Foto ilustrasi: Komodo (Shutterstock)
Labuan Bajo - Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi perhatian masyarakat Indonesia modern. Sejak zaman dulu, Suku Komodo punya legenda tentang dukun beranak dari Sumba yang mampu mengakhiri kematian ibu hamil.

Kisah ini diceritakan tokoh masyarakat Desa Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni Haji Amin Bakar (64). Cerita ini berkaitan dengan nenek moyang Suku Komodo bernama Ompu Najo.

"Dahulu kala, perempuan Komodo kalau melahirkan pasti mati, karena perutnya akan dibelah untuk mengambil bayinya," kata Amin kepada detikcom di rumah panggungnya, Rabu (27/2/2019).

Putri dari Ompu Najo telah bersuami dan mengandung buah cinta selama sembilan bulan. Sehari-harinya, sang suami gundah memikirkan hari kematian sang istri nanti. Kematian belahan jiwa sudah begitu pasti dan tak dapat diundur.



"Bila perut perempuan yang melahirkan dibelah, hanya ada tiga kemungkinan. Ibunya yang mati, anaknya yang mati, atau mati dua-duanya," kata Amin.

Sang putri sudah siap mental untuk dibelah perutnya, tentu saja tak seaman bedah sesar zaman sekarang. Keluarga besar Ompu Najo mulai menangis, sebagaimana yang selalu dilakukan warga Suku Komodo saat menyambut kelahiran bayi. Sang suami yang tak tega menyaksikan proses kematian istrinya kemudian pergi dari rumah ke tepi pantai. Sesampainya di tepi pantai, dia bertemu orang asing.

"Di pantai, dia bertemu orang-orang asing dengan perahunya. Setelah ditanya, mereka itu memperkenalkan diri berasal dari Sumba dan perahunya terdampar. Orang-orang Sumba itu sedang butuh air bersih," kata Amin.

Legenda Dukun Beranak Sumba yang Akhiri Bedah Sesar Maut Suku KomodoFoto ilustras: Pantai Pink di Taman Nasional Komodo. (Shinta Angriyana/detikTravel)

Orang-orang Sumba yang terdampar di Pulau Komodo ini kemudian diterima di Pulau Komodo untuk mendapatkan air bersih. Namun salah satu dari mereka menangkap suasana lain di Pulau Komodo, yakni semua penduduk desa menangis. Sang suami dari putri Ompu Najo tadi memberi tahu, bahwa penduduk desa sedang menangisi istrinya. Perut istrinya akan dibelah.

"Orang Sumba itu bilang, 'Bila Anda mengizinkan, ibu saya yang sedang ada di perahu bisa membantu proses persalinan. Kita bisa menjemputnya di perahu untuk membantu persalinan istri Anda.'," kata Amin menceritakan.



Maka proses persalinan dibantu oleh dukun beranak dari Sumba. Sang suami tetap tak tega dan masih berpikiran istrinya pasti akan mati. Dari rahim istrinya, telah lahir dengan selamat seorang manusia dan seekor ora (komodo) betina. Manusia itu disebut bernama Gerong, Drom, atau Derum, tergantung penutur ceritanya. Sedangkan nama komodo itu bernama 'Sebai' yang artinya 'sebelah'. Nama Sebai ini menunjukkan kearifan Suku Komodo terhadap reptil itu. Satwa langka itu dijaga bak saudara sebelah manusia.

Namun sang suami yang kini menjadi ayah belum menengok langsung kondisi istrinya. Dia sudah pasrah dan beranggapan istrinya pasti sudah mati. Di tengah tangisnya, teteslah air susu dari lantai rumah panggung ke tangannya. Sejak saat itu dia tahu bahwa istrinya melahirkan dengan selamat berkat keahlian dukun beranak dari Sumba.

Angka Kematian Ibu (AKI)

Kisah legenda yang diceritakan Haji Amin Bakar memuat cerita tentang Angka Kematian Ibu (AKI). Ternyata problem kematian ibu telah dipikirkan sejak era legenda. Bagaimana kondisinnya kini?

Berdasarkan data Jumlah Kematian Ibu Tahun 2017 dalam Profil Kesehatan NTT Tahun 2017 yang dirilis Kementerian Kesehatan, ada 163 ibu yang meninggal dunia di Provinsi NTT pada 2017. Angka itu meliputi jumlah kematian ibu hamil sebanyak 34 jiwa, jumlah kematian ibu bersalin sebanyak 75 jiwa, dan jumlah kematian ibu nifas sebanyak 54 jiwa.

Peringkat Manggarai Barat sebagai kabupaten yang menaungi Pulau Komodo punya angka kematian ibu sebanyak 14 jiwa, terdiri dari jumlah kematian ibu hamil 3 jiwa, jumlah kematian ibu bersalin ada 4 jiwa, dan jumlah kematian ibu nifas ada 7 orang. Angka lahir hidup di Manggarai Barat ada 7.475 jiwa dengan jumlah puskesmas 18 unit.



Jumlah kematian ibu Manggarai Barat sebanyak 14 itu bukanlah yang terendah atau yang tertinggi. Angka kematian ibu terendah dimiliki Kabupaten Sumba Barat dengan 1 angka kematian ibu dan 3.721 jumlah lahir hidup. Jumlah kematian ibu tertinggi ada di Kabupaten Timor Tengah Selatan dengan 33 jiwa dan 12.646 angka jumlah lahir hidup.

Namun data dari Puskesmas Labuan Bajo tahun 2017 yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, jumlah lahir hidup di seluruh wilayah Puskesmas adalah 882. Kematian ibu hamil 1, kematian ibu bersalin 0, dan kematian ibu nifas 1. Di Kelurahan Komodo, jumlah lahir hidup ada 32, dan jumlah kematian ibu hamil 0.

Dilansir detikHealth, tingginya angka kematian ibu dan bayi yang baru lahir terus meningkat. Menurut laporan World Bank tahun 2017, satu ibu meninggal setiap enam jam di Indonesia karena melahirkan. Sedangkan ada 19 bayi meninggal setiap seribu kelahiran.

Secara nasional, angka kematian ibu di Indonesia dinyatakan pemerintah telah menurun dari tahun ke tahun. Namun angka penurunan dinilai masih belum signifikan karena masih belum mencapai target angka yang ada di Millenium Development Goals (MDGs) hasil rembukan negara-negara anggota PBB. Ini disadari Menteri Kesehatan Nila Moeloek sejak dua tahun lalu. Pada pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Kesehatan 2019 di gedung ICE BSD, Tangerang, Banten, Selasa (12/2/2019), Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga berbicara soal hal ini.

"Jangan sampai negara lain sudah berbicara soal virtual reality, internet of things, big data, bitcoin, tapi kita berbicara stunting saja belum selesai. Urusan AKI (Angka Kematian Ibu) belum rampung. Bagaimana negara ini akan bersaing, berkompetensi. Basic-basic seperti ini yang harus kita selesaikan terlebih dahulu," kata Jokowi saat itu.

Baca berita lainnya mengenai Teras BRI Kapal Bahtera Seva di Ekspedisi Bahtera Seva.



(dnu/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed