Tentang Ekstrapolasi Elektabilitas di Survei Kompas yang Disyukuri TKN Jokowi

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 21 Mar 2019 11:58 WIB
Surat suara Pilpres 2019 (Foto: Dok. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)
Jakarta - Sejumlah anggota timses Jokowi-Ma'ruf memilih menyoroti ekstrapolasi elektabilitas dari survei Litbang Kompas yang dirilis kemarin. Apa itu ekstrapolasi elektabilitas?

Anggota TKN Jokowi Ridlwan Habib mengatakan hasil survei Litbang Kompas sangat baik, terlihat dari ekstrapolasi elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Amin sebesar 56,8%. Dia menyebut tidak banyak lembaga survei yang menampilkan angka ekstrapolasi ini.

"Alhamdulillah, puji Tuhan, prediksi secara ilmiah dari Litbang Kompas biasanya sangat akurat. Kemenangan Pak Jokowi jauh lebih besar dari 2014," ujar Ridlwan, Rabu (20/3/2019) kemarin.



Hal yang sama disorot Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jawa Timur, Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin. Menurutnya, data ekstrapolasi itu jarang diperhatikan tapi justru bisa memperlihatkan prediksi hasil akhir Pilpres 2019.

"Jadi alhamdulillah, ekstrapolasi ini kan sebuah metode ilmiah, proyeksi data ke depan berdasarkan pola kecenderungan data yang tersedia saat ini. Bahasa awamnya ini semacam prediksi hasil akhir. Kalau berdasarkan ekstrapolasi survei Kompas, selisih 01 dan 02 itu 13,6 persen, cukup tebal dan sulit dikejar dalam sisa waktu kurang-lebih sebulan," paparnya.

"Justru setelah melihat ekstrapolasi itu kita tambah semangat untuk ngebut, 'gaspol' agar margin makin tebal," imbuh Machfud.



Bagaimana sebenarnya hasil ekstrapolasi elektabilitas Jokowi-Ma'ruf di Survei Litbang Kompas?

Survei Litbang Kompas digelar pada 22 Februari-5 Maret 2019 dengan melibatkan 2.000 responden yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi di Indonesia. Margin of error survei ini plus-minus 2,2 persen dengan tingkat kepercayaan 95%.

Hasilnya, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf 49,2 persen dan Prabowo-Sandiaga 37,4 persen, dengan 13,8% responden merahasiakan pilihannya. Selisih di antara kedua pasangan calon sebesar 11,8%.


Di sisi lain, ada pula hasil ekstrapolasi elektabilitas. Hasil yang dirilis pada Maret 2019 ini juga dibandingkan dengan hasil survei sebelumnya pada Oktober 2018. Berikut ini perbandingannya:

Ekstrapolasi elektabilitas Oktober 2018
01. Jokowi-Ma'ruf: 61,7%
02. Prabowo-Sandiaga: 38,3%

Ekstrapolasi elektabilitas Maret 2019
01. Jokowi-Ma'ruf: 56,8%
02. Prabowo-Sandiaga: 43,2%


Apa itu ekstrapolasi elektabilitas?

Litbang Kompas menyatakan angka hasil ekstrapolasi dilakukan dengan mengasumsikan kelompok yang belum memutuskan pilihannya (undecided voters) akan terbagi secara proporsional menurut perolehan suara. Dengan mengasumsikan undecided voters akan terbagi secara proporsional menurut perolehan survei, potensi kemenangan Jokowi-Ma'ruf saat ini 56,8% lebih tinggi daripada Prabowo-Sandi dengan 43,2%.

"Meskipun selisih keterpilihan semakin sempit, posisi Jokowi-Amin diperkirakan masih cukup aman untuk memenangi pilpres. Hasil ekstrapolasi elektabilitas menunjukkan peluang kemenangan Jokowi-Amin lebih besar ketimbang Prabowo-Sandi," kata peneliti Litbang Kompas, Bambang Setiawan, seperti dikutip dari Harian Kompas.



Meski demikian, hasil tentu saja masih bisa berubah. Dalam catatan Litbang Kompas selama 6 bulan, angka elektabilitas hasil ekstrapolasi menunjukkan penurunan 4,9% untuk Jokowi-Ma'ruf, sedangkan kenaikan 4,9% untuk Prabowo-Sandiaga. Dengan demikian, elektabilitas Jokowi turun 0,82% tiap bulan.

"Kalau laju penurunan ini konstan, diprediksi potensi akhir perolehan Jokowi-Amin akan berkurang menjadi 56% saat pemungutan suara bulan depan. Dengan margin of error 2,2 persen, perolehan suara Jokowi-Amin bisa berkisar 53,8-58,2%. Sebaliknya, perolehan Prabowo-Sandi menuju kisaran 41,8-46,2%," papar Bambang Setiawan.

Pemred Harian Kompas, Ninuk Pambudy, menjelaskan hasil survei Litbang Kompas ini tentu saja masih bisa berubah hingga pencoblosan 17 April 2019. Ke mana suara undecided voters berlabuh juga bisa menjadi penentu.

"Masih ada waktu sebulan lagi, semuanya bisa berubah. Masih ada undecided voters, mungkin yang bilang iya masih bisa berubah-berubah. Jadi itu masih bisa berubah. Masih ada selisih 11,8%. Itu kan selisih yang besar. Apa pun bisa terjadi, dalam artian bisa naik," kata Ninuk kepada detikcom.

"Ada ekstrapolasi. Kalau semua memilih ke Prabowo jadi berapa, kalau semua memilih Jokowi jadi berapa. Potensinya masih itu," pungkasnya.


Saksikan juga video 'Prabowo Rendah di Survei SMRC, Sandi: Jadi Tambahan Informasi':

[Gambas:Video 20detik]

(imk/fjp)