DetikNews
Rabu 20 Maret 2019, 17:42 WIB

Denny JA Beri Analisis Soal Survei Litbang Kompas

Tim detikcom - detikNews
Denny JA Beri Analisis Soal Survei Litbang Kompas Ilustrasi surat suara Pilpres 2019 (Foto: Dok. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)
Jakarta - Founder LSI Denny JA, Denny Januar Ali, ikut menganalisis hasil survei Litbang Kompas terkait elektabilitas Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Dia mengkritisi metodologi survei tersebut.

Survei Litbang Kompas menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 49,2% kemudian Prabowo-Sandiaga sebesar 37,4%. Sementara itu, responden yang merahasiakan pilihannya sebesar 13,4%.

Survei ini digelar pada 22 Februari-5 Maret 2019 dengan melibatkan 2.000 responden yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi Indonesia. Margin of error survei ini plus-minus 2,2 persen dengan tingkat kepercayaan 95%.

"Walau dikabarkan menang, kecemasan datang di banyak kubu Jokowi. Kompas menggambarkan Jokowi belum di angka psikologis 50 persen (elektabilitas yang tidak diekstrapolasi). Jokowi juga digambarkan menurun trendnya, hampir di semua kantong pemilih. Walau dikabarkan kalah, harapan datang dari banyak kubu Prabowo. Tren Prabowo digambarkan menaik. Masih ada satu bulan lagi tren menaik itu terjadi untuk melampaui Jokowi," kata Denny JA kepada wartawan, Rabu (20/3/2019). Tulisan ini juga diunggah di Facebook Denny JA.



Denny JA mengomentari metodologi dan cara menarik kesimpulan dari survei Litbang Kompas. Menurutnya, keterangan soal metodologi kurang lengkap. Denny JA membandingkan dengan survei yang dia adakan sendiri.

"Tak ada keterangan dalam metodelogi misalnya, apakah survei menggunakan simulasi kertas suara atau tidak? Pemilih yang ditanya akan memilih siapa secara oral oleh peneliti, selalu mungkin memberi jawaban berbeda jika ia diminta melihat kertas suara yang ada foro pasangan Jokowi dan foto pasangan Prabowo," ungkapnya.

Dia lalu mempertanyakan response rate atau responden yang bersedia menjawab. Denny JA menjelaskan bahwa survei yang memiliki response rate 95 persen (hanya 5 persen yang menolak menjawab) akan memberikan kualitas yang berbeda dengan survei yang memiliki response rate 45%.

"Pasti ada sejumlah responden yang menolak atau berhalangan. Terhadap mereka yang menolak, apakah dicari pemilih pengganti? Bagaimana cara memilih penggantinya? Tanpa panduan sistematis, response rate dapat membuat hasil survei tak akurat," papar Denny JA.



Denny JA menyoroti tidak adanya keterangan soal kontrol kualitas survei. Dia juga mempertanyakan cara Litbang Kompas menarik kesimpulan survei dan mempermasalahkan penyebutan margin of error plus minus 2,2 persen.

"Tapi Kompas menyatakan tren dukungan Jokowi menurun dari 52,6 persen menjadi 49,2 persen. Secara statistik itu kesimpulan yang salah. Jika margin of error plus minus 2,2 persen, maka ada rentang margin of error dari plus 2,2 persen dan minus 2,2 persen. Margin of error itu sebenarnya punya rentang 4,4 persen," ungkapnya.

Dia menganggap selisih elektabilitas Jokowi pada Oktober 2018 sebesar 52,6% menjadi 49,2% di Maret 2019 sebesar 3,4% masih di bawah margin of error 4,4%. Menurutnya, secara statistik hal itu tidak signifikan dikatakan turun.

Denny JA juga berpendapat kata tren tidak tepat diberikan ke dua data survei Litbang Kompas. Menurutnya harus ada minimal 3 waktu data.



Dia kembali mempertanyakan asumsi di survei Litbang Kompas yang menyebut dengan tambahan 6 persen, maka posisi Prabowo akan berubah dari runner up menjadi pemenang Pilpres. Baginya, kesimpulan itu salah.

"Kompas langsung berasumsi tambahan 6 persen pada Prabowo otomatis berarti berkurangnya 6 persen pada Jokowi. Jika Prabowo 37,4 persen ditambah 6 persen menjadi 43,4 persen. Jokowi berkurang 6 persen dari 49,2 persen menjadi 43.2 persen. Sim salabim, Prabowo unggul: 43,4 persen vs Jokowi 43,2 persen! Inipun kesimpulan yang salah secara statistik," ungkap Denny JA.

"Bertambahnya dukungan pada Prabowo, katakanlah 6 persen, tak otomatis dari dukungan Jokowi. Kompas sendiri menggambarkan ada suara yang belum menentukan pilihan sebanyak 13,4 persen. Bisa saja Prabowo bertambah 6 persen menjadi 43,4 persen, tapi Jokowi tetap 49, 2 persen karena tambahan Prabowo dari suara yang belum menentukan. Jokowi tetap menang!" sambungnya.



Denny JA mengatakan lembaga survei seperti LSI Denny JA, SMRC, Indikator, dan Charta Politika, mendapat hasil yang mirip. Elektabilitas Jokowi sekitar 52-58 persen dan Prabowo sekitar 30-35 persen. Dia lalu menyebut ada hal yang jadi titik lemah survei Litbang Kompas.

"Kurang memberi informasi soal metodologi dan problem teknis dalam membuat kesimpulan, itu yang bisa saya komentari. Itulah titik lemah display survei litbang Kompas," pungkas Denny JA.

Penjelasan Pemred Kompas

Pemred Kompas, Ninuk Pambudy, telah memberikan penjelasan soal metodologi hingga hasil survei itu. Kompas menegaskan independen dalam menyelenggarakan survei.

"Kami memang dari waktu ke waktu selalu melakukan polling dan survei untuk elektabilitas. Survei ini pertama kita lakukan Oktober tahun lalu. Pertama-tama pertanyaannya tentang tendensi. Kompas selalu menjaga profesionalitasnya dan mencoba untuk terus menerus independen dalam liputannya," kata Ninuk saat dihubungi detikcom, Rabu (20/3/2019)

Ninuk menjelaskan posisi Litbang Kompas yang ada di bawah redaksi, namun tetap independen. Litbang Kompas menentukan metodologinya sendiri, memilih tenaga survei sendiri, dan pembiayaan berasal dari Kompas sendiri.

"Bahkan pimpinan di atas saya pun tidak bisa apa-apa terhadap survei ini," ucapnya.

Ninuk menjelaskan soal perbedaan survei Litbang Kompas dengan hasil survei lembaga lain. Sampel survei Litbang Kompas sebanyak 2.000 responden, bisa jadi sama dengan jumlah responden survei lainnya.

"Metodologi yang dipakai oleh Kompas itu sampelnya memang 2.000 responden, terus kita memilih 500 kelurahan dan desa. Di tiap kelurahan dan desa itu kita ambil 4 responden dengan sebaran itu. Sebarannya berdasarkan proporsi penduduk dan ditambah juga ada data-data dari BPS. Jadi potensi-potensi desa dan kelurahan itu kita ambil dari data resminya BPS," jelas Ninuk.

Ninuk menolak survei Litbang Kompas ini dibandingkan dengan lembaga survei lainnya. Dia menjelaskan perbedaannya.

"Saya tidak mau dibandingin dengan lembaga survei lain. Kompas kan bukan lembaga survei, survei yang dilakukan Kompas ini untuk mendukung jurnalismenya Kompas sehingga menjadi lebih akurat dan presisi. Jadi kalau mau dibandingin dengan lembaga survei lain, ya kita sebetulnya bukan lembaga survei," ungkapnya.



Tonton juga video Selisih Survei Jokowi-Prabowo Menipis, Sandiaga: Alhamdulillah:

[Gambas:Video 20detik]


(imk/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed