DetikNews
Selasa 19 Maret 2019, 11:47 WIB

Akhir Cerita Kawin Berbayar Rp 150 Juta dari Kalbar

Andi Saputra - detikNews
Akhir Cerita Kawin Berbayar Rp 150 Juta dari Kalbar Foto: Thinkstock
Pontianak - Warga Kalimantan Barat (Kalbar), Hakung, 'dijual' Rp 150 juta sebagai syarat agar bisa dinikahi oleh WN Taiwan, Cho Yuan Ho. Ternyata, pernikahan itu kedok perdagangan manusia.

Kasus bermula saat Cho menghubungi Thang Meu Fung alias Afung. Ia mengutarakan niatnya agar dicarikan jodoh. Afung mengiyakan dengan syarat disediakan uang operasional sekitar Rp 150 juta. Cho menyanggupi dan uang pun berpindah tangan.

Sejurus kemudian, Afung mencari korban di Singkawang, Kalbar. Dan ditemui keluarga Hakung. Afung kemudian membujuk keluarga Hakung agar anaknya mau dinikahi Cho. Karena terlilit kemiskinan, keluarga merelakan Hakung menikah.


Sebagai syarat, dibuat perjanjian dengan bahasa huruf dan bahasa Mandarin, di mana Hakung tidak memahaminya. Salah satu bunyinya:

"...bila tidak puas dan membatalkan pernikahan ini, maka harus memberikan konpensasi berupa pengembalian uang mak comblang, dandan, foto preweding, transportasi luar negeri PP, biaya pengurusan, biaya administrasi di Taiwan dkk, termasuk mahas sebesar NT 150 ribu Yuan (+/- Rp 60 juta),"

Keluarga Hakung yang tidak mengetahui arti perjanjian itu mengiyakan. Acara digelar disiapkan di sebuat hotel pada 13 Mei 2015.

Polisi yang mengendus gelagat tidak wajar kemudian menangkap sindikat tersebut. Akhirnya, pernikahan Cho dengan Hakung pun batal.

Afung digiring ke Polres dan terungkap ia telah melakukan 10 kali perkawinan sebagai modus perdagangan manusia. Afung akhirnya diadili.

Pada 19 Januari 2016, PN Pontianak membebaskan Afung dari jeratan tindak pidana Perdagangan Orang. Jaksa tidak terima dan kasasi.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa selama 3 tahun penjara dan denda Rp 120 juta, dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar maka diganti kurungan 3 bulan," ujar majelis kasasi sebagaimana dilansir website MA, Selasa (19/3/2019).


Duduk sebagai ketua majelis Salman Luthan dengan anggota Sumardjiatmo dan Margono. Afung dinilai terbukti melanggar Pasal 2 jo Pasal 10 UU Tindak Pidana Perdagangan Orang.

"Terdawa memanfaatkan posisi rentan korban yang kekurangan, serta bunyi perjanjian/pernyataan dari kroban, merupakan eksploitasi wanita untuk dikawinkan yang memberatkan korban/ Isi perjanjian bukan nilai perjanjiannya yang dititikberatkan, tetapi pelaksanaan perjanjian yang sangat memberatkan korban karena belum melalui penjajagan, perkenalan untuk penyesuaian sikap mental dan perilaku, akan tetapi semata-mata dengan iming-iming harta kepada korban yang relatif lemah ekonominya," ujar majelis dengan suara bulat.


(asp/aan)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed