detikNews
Senin 18 Maret 2019, 21:35 WIB

Round-Up

Siapa Gunduli Gunung Cycloop Penyebab Banjir Sentani?

Tim detikcom - detikNews
Siapa Gunduli Gunung Cycloop Penyebab Banjir Sentani? Kondisi Sentani, Jayapura, setelah diterjang banjir bandang. (Wilpret Siagian/detikcom)
FOKUS BERITA: Banjir Bandang Sentani
Jayapura - Botaknya Pegunungan Cycloop di Jayapura, Papua, diduga menjadi penyebab banjir bandang di Sentani. Para penambang, pembalak liar, dan warga yang bermukim di gunung pun dijadikan penyebab kerusakan.

Dirangkum detikcom, Senin (18/3/2019), rusaknya ekosistem di Gunung Cycloop sudah berlangsung lama. Padahal kawasan tersebut adalah kawasan cagar alam.

Bupati Jayapura Mathius Awaitaouw mengaku sudah berulang kali mengingatkan warga agar tak mendirikan bangunan di Pegunungan Cycloop karena masuk wilayah cagar alam. Namun peringatan Bupati itu tak pernah diindahkan.



"Sebenarnya sudah ada perda terkait perlindungan kawasan penyangga cagar alam Cycloop sejak tiga tahun lalu dan telah disosialisasi atau disampaikan di berbagai kesempatan, tapi tidak didengarkan," kata Mathius dalam jumpa pers di Kota Jayapura seperti dilansir Antara.

Dia mengatakan imbauan perlindungan dan pelestarian kawasan cagar alam Cycloop di Provinsi Papua, baik oleh pemerintah, instansi terkait, maupun aktivis lingkungan, tidak didengarkan dan diindahkan oleh warga. Dia pun mengamini rusaknya Pegunungan Cycloop sebagai pemicu banjir di Sentani.

"Kami juga menggandeng para aktivis lingkungan untuk menggaungkan perlindungan, tetapi hal ini juga tidak diindahkan. Termasuk lewat Festival Cycloop yang dibuat oleh para aktivis yang bertujuan menggugah dan mengajak warga agar peduli Cycloop," katanya.

Polisi pun akan melakukan audit komprehensif dengan menggandeng sejumlah ahli untuk menyelidiki penyebab bencana. Para pelaku usaha tambang di sana akan diselidiki perizinannya. Jika mereka terbukti bersalah, tindakan tegas akan diberikan.

"Misal bencana diakibatkan pembalakan liar, itu sudah ada peta, siapa yang melakukan eksplorasi dan eksploitasi di situ, siapa yang memberikan izin, sudah berapa lama. Kemudian ada audit tentang lingkungan hidup, nanti audit sejauh mana akibat kerusakan itu, itu ada semua. Kalau sudah dilakukan secara masif pembalakan liar atau mengubah kawasan penyangga, diubah jadi kawasan permukiman, ada pelanggaran pidana. Sangat kompleks, tergantung fakta hukum yang ditemukan para pihak yang berkompeten mengaudit suatu peristiwa tersebut, ada masalah lingkungan hidup, tentang UU Kehutanan, tentang naskah konversi, tidak hanya satu pidana saja," kata Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Dedi Pasetyo kepada wartawan di kantornya.

Sedangkan BNPB menduga pegunungan yang seharusnya jadi resapan air itu malah dirusak untuk dibikin permukiman hingga pertanian. Kerusakan di pegunungan yang terkenal dengan batu cyloop ini bahkan masih berlangsung.

"Kerusakan di Pegunungan Cycloop ternyata sudah berlangsung sejak 2003. Perambahan cagar alam oleh 43.030 jiwa atau 753 keluarga sejak 2003. Terdapat penggunaan lahan permukiman dan pertanian lahan kering campur pada DTA (DAS Sentani) banjir 2.415 hektare," ucap Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Graha BNPB.
(rvk/dkp)
FOKUS BERITA: Banjir Bandang Sentani
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed