Gunung Cycloop Botak Picu Banjir Sentani, Polisi Selidiki Izin Pertambangan

Matius Alfons - detikNews
Senin, 18 Mar 2019 15:42 WIB
Brigjen Dedi Prasetyo (Audrey Santoso/detikcom)
Jakarta - BNPB menduga banjir bandang yang terjadi di Sentani salah satunya disebabkan oleh rusaknya ekosistem di Gunung Cycloop, Jayapura. Polisi mengatakan akan melakukan audit komprehensif dengan menggandeng sejumlah ahli untuk menyelidiki penyebab terjadinya bencana.

"Sangat bergantung pada proses penyelidikan yang dilakukan oleh aparat secara terpadu. Jadi nggak bisa kepolisian berdiri sendiri, kepolisian akan bekerja sama dengan (dinas) lingkungan hidup, kemudian bekerja sama dengan saksi ahli lingkungan. Kalau menyangkut kehutanan juga dengan (dinas) kehutanan setempat. Di situ secara komprehensif harus menilai, harus melakukan audit secara komprehensif, apa yang mengakibatkan terjadinya bencana," kata Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Dedi Pasetyo kepada wartawan di kantornya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (18/3/2019).



Salah satu hal yang akan diselidiki adalah terkait pemberian izin pertambangan di kawasan Gunung Cycloop. Dedi mengatakan pihaknya bakal menyelidiki ada atau tidaknya unsur pidana dalam kasus tersebut.

"Misal bencana diakibatkan pembalakan liar, itu sudah ada peta, siapa yang melakukan eksplorasi dan eksploitasi di situ, siapa yang memberikan izin, sudah berapa lama. Kemudian ada audit tentang lingkungan hidup, nanti audit sejauh mana akibat kerusakan itu, itu ada semua. Kalau sudah dilakukan secara masif pembalakan liar atau mengubah kawasan penyangga, diubah jadi kawasan pemukiman, ada pelanggaran pidana. Sangat kompleks, tergantung fakta hukum yang ditemukan para pihak yang berkompeten mengaudit suatu peristiwa tersebut, ada masalah lingkungan hidup, tentang UU Kehutanan, tentang naskah konversi, tidak hanya satu pidana saja," ujarnya.



Namun, menurut Dedi, saat ini pihaknya masih berfokus membantu mengevakuasi korban. Jika evakuasi sudah selesai, polisi kemudian akan melakukan audit dan penilaian secara komprehensif mengenai penyebab bencana.

"Aparat kepolisian saat ini membatu proses SAR dulu yang mengevakuasi semaksimal mungkin korban yang terdampak akibat banjir bandang di Jayapura. Setelah itu tanggap darurat kan selam 2 minggu, kita utamakan selesai dulu. Setelah selesai, ada tim yang dibentuk secara komprehensif untuk melakukan asesmen, penilaian, dan analisis terhadap dampak dari bencana ini diakibatkan oleh apa, nanti akan diteliti, kawasan mana. Misalkan kawasan ini kawasan penyangga, kawasan hijau, kok bisa keluar izin, izin apa, eksploitasi atau apa, untuk perkebunan, perumahan, pertambangan, atau lainnya nanti akan diaudit secara komprehensif," ujar dia.
Sejauh ini sudah ada 80 orang korban yang meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor di Papua. Tim DVI Polda Papua telah mengidentifikasi 22 jenazah dari 80 yang meninggal.

"Semuanya 80 jenazah yang diterima. Dari beberapa jenazah yang sudah diterima, Polri sudah melakukan identifikasi dan sudah menyerahkan 22 jenazah kepada pihak (keluarga) korban. Jadi, dari 80 jenazah, ada 22 jenazah yang sudah diserahkan ke pihak keluarga," imbuh Dedi.

Dedi mengatakan proses identifikasi akan diselesaikan hari ini. Setelah itu jenazah akan diserahkan kepada pihak keluarga.

"Sisanya siang hari ini, dari hasil tim DVI, nanti akan diserahkan kembali, sisanya akan diserahkan setelah proses identifikasi dilakukan oleh tim DVI dari Rumah Sakit Bhayangkara Polda Papua," ungkap Dedi.

Sebelumnya diberitakan Polda Papua telah merilis jumlah korban banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Jayapura, Papua. Per hari ini jumlah korban meninggal dunia dilaporkan mencapai 80 orang.

Selain itu, warga yang terdampak akibat bencana di Jayapura itu berjumlah 11.726 keluarga. Sedangkan korban luka akibat kejadian itu berjumlah 159 orang dengan perincian 84 orang luka berat dan 75 luka ringan.

Sebanyak 4.367 pengungsi ditempatkan di beberapa titik, yakni di halaman kantor Bupati Jayapura dan rumah warga yang tidak terkena banjir. Adapun rincian pengungsi yakni:

a. BTN Bintang Timur: 600 orang
b. BTN Gajah Mada: 1.450 orang
c. Doyo Baru: 153 orang
d. Panti jompo: 23 orang
f. HIS Agus Karitji: 400 orang
g. Siil: 300 orang
h. Gunung Merah (Posko Induk) : 1.391 orang
i. Asrama Himles : 50 orang

(knv/rvk)