Kisah Ibu dan Anak Lansia di Polewali Bertahan Hidup di Rumah Reot

Abdy Febriady - detikNews
Kamis, 14 Mar 2019 11:03 WIB
Atap rumah nenek Huda dan anaknya. (Abdy/detikcom)
Polewali Mandar - Nasib malang ini dialami Huda (85 tahun) dan anaknya, Rohani (50 tahun), warga Desa Parappe, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar. Huda dan anaknya harus tinggal di rumahnya yang mirip gubuk reot selama belasan tahun.

Sudah belasan tahun pasangan ibu dan anak ini, harus bertahan hidup di atas rumah panggung yang reot, bahkan nyaris ambruk. Belitan kemiskinan membuat keduanya hanya dapat pasrah melihat rumah satu-satunya tempat mereka bernaung dari panas dan hujan, perlahan hancur.

"Mau bagaimana lagi nak, untuk biaya makan sehari-hari saja susah, apalagi mau perbaiki rumah," ucap Rohani saat ditemui wartawan, Kamis (14/3/2019).

Saat berkunjung pada Rabu kemarin (13/03/19), wartawan harus melangkahkan kaki dengan sangat hati-hati, lantaran hampir semua balok penopang dan papan lantai rumah kedua lansia ini sudah lapuk.


Pada bagian dapur, terlihat hanya diberi lantai menggunakan potongan bambu yang sebagian besar sudah terlepas. Bahkan dindingnya hanya ditutupi menggunakan kain usang, dengan harapan bisa menahan panas dan dinginnya udara malam.

Kondisi tidak kalah memprihatinkan terlihat pada bagian atap yang hanya diberi daun rumbia lantaran tidak pernah mendapat perhatian, pada beberapa terlihat rumput liar yang mulai merambat. Saat hujan mengguyur, air hujan dipastikan akan membasahi ruangan dapur rumah kedua lansia malang ini.

"Sebenarnya kondisi kami telah berulang kali mendapat kunjungan dari pemerintah dan dijanjikan akan segera mendapat bantuan, namun nyatanya sudah bertahun-tahun bantuan yang dijanjikan tidak kunjung didapatkan," ungkap Rohani.


Selain mengandalkan bantuan dari warga sekitar, agar mendapatkan sedikit uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Rohani kerap mendapat upah dari hasil bekerja serabutan membantu warga dengan jumlah yang tidak seberapa.

"Dulu saya pernah menjahit, hasilnya lumayan, tapi sekarang mesin jahitnya sudah tidak ada, diambil pemiliknya, jadi sekarang sudah tidak ada pekerjaan tetap," jelasnya.

Dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, Rohani juga harus berjuang merawat sang ibu Huda, yang kerap sakit-sakitan akibat usia tua. Rohani, yang mengaku tidak pernah menikah, sebenarnya memiliki dua saudara dan telah berkeluarga. Namun sayang, kemiskinan lagi-lagi menjadi alasan sehingga keduanya tidak dapat berbuat banyak, untuk meringankan penderitaan yang dijalani Rohani dan ibunya Huda.

Sebelum beranjak meninggalkan rumahnya, Huda, yang mengalami gangguan pendengaran dan rabun pada kedua matanya, menitip pesan kepada wartawan agar kembali mengunjunginya.

"Saya tidak bisa melihat, Nak, saya tidak kenalki, tapi kembaliki lagi nanti ke sini," harap Huda dengan suara serak yang nyaris tidak terdengar.


Sejak kabar keberadaan Huda dan anaknya, Rohani, yang bertahan hidup di atas rumah yang nyaris ambruk di-posting di akun media sosial Polman Update, langsung dibagikan oleh ratusan warga, dan mendapat beragam komentar sebagai bentuk keprihatinan. Beberapa mengabarkan bahwa rumah Huda dan Rohani, yang berada di pinggir jalan kampung, akan mulai direhab pada Kamis, hari ini (14/03/19). (rvk/rvk)