BNN Jelaskan Prosedur Asesmen Andi Arief

Farih Maulana - detikNews
Selasa, 12 Mar 2019 16:19 WIB
Foto: Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari. (Farih-detikcom)
Jakarta - Politisi Demokrat Andi Arief sempat menjalani asesmen di RSKO Cibubur setelah tertangkap di Hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat. Hasil asesmen keluar dalam tempo yang cepat dan dinyatakan Andi Arief negatif narkotika.

Deputi Pemberantasan BNN Arman Depari asesmen dilakukan terhadap siapapun yang diduga mengonsumsi narkotika. Ini adalah prosedur baku untuk menentukan apakah orang tersebut mengonsumi narkotika atau tidak.

"Maka prosedur yang harus dijalankan, pertama, karena itu ada kaitannya dengan kasus narkoba, dia akan diberlakukan tes. Apakah betul yang bersangkutan mengkonsumsi narkoba," jelas Arman kepada wartawan di kantor BNN Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (12/3/2019).

Pada saat itu Andi Arief melakukan asesmen dengan tiga tes pemeriksaan, yakni tes darah, tes urine dan tes rambut. Tes urine, kata Arman, adalah cara tercepat untuk mengetahui apakah dia mengonsumsi narkotika.

"Nah di sana akan langsung ketahuan, dengan alat yang kita miliki, apakah urine yang bersangkutan ini mengandung zat-zat narkoba begitu. Nah, kalau itu mengandung zat narkoba, tentu bisa kita simpulkan bahwa dalam waktu tidak berapa lama yang lalu, dia mengonsumsi narkoba," ungkapnya.



"Nah, kemudian, kita lihat juga barang bukti yang ditemukan. Setelah dilakukan tadi tes urine, kita akan lihat barang bukti yang ditemukan. Nah barang bukti yang ditemukan ini, tujuannya apakah yang bersangkutan ini layak untuk ditindaklanjuti ke penyidikan. Gitu ya. Beda ya. Tes urine tadi sebenarnya hanya untuk menentukan apakah yang bersangkutan menggunakan narkoba atau tidak," papar Arman.

Setelah hasil tes tadi diketahui, petugas selanjutnya melakukan penyelidikan terhadap barang bukti. Hal ini untuk menentukan, apakah selanjutnya bisa ditingkatkan ke proses penyidikan atau tidak.

"Yang kedua, untuk menentukan yang bersangkutan dapat ditindaklanjuti, atau ditingkatkan ke penyidikan, maka harus dilihat dari barang buktinya. Nah barang bukti ini bermacam-macam, tetapi tidak semuanya bisa menjadi barang bukti," sambung Arman.



Barang bukti yang dimaksud, sesuai ketentuan undang-undang narkoba, adalah narkoba. Bagi pengguna dengan barang bukti di bawah 1 gram maka tidak dapat dilanjutan ke proses penyidikan.

"Kalau misalnya di sana juga ada narkoba, tetapi karena ketentuan, dia tidak cukup, yang kita sebut biasanya adalah gramisasi. Nah kalau dia misalnya di bawah satu gram, maka itu bukan bukti yang cukup. Kecuali kalau penyidik bisa menentukan atau bisa membuktikan bahwa yang bersangkutan ini terlibat dalam jaringan, bisa saja dia tidak punya barang bukti di tangannya, tetapi ternyata dia menjadi pengedar. Nah itu kan beda," jelas Arman.

"Nah, setelah dilakukan tadi tes urine dan mengumpulkan barang bukti, baru penyidik punya kesempatan untuk melakukan pendalaman selama tiga hari pertama. Tiga hari pertama, bisa diperpanjang lagi, tiga hari berikutnya. Tetapi ini tidak mutlak 6 hari ini harus digunakan, kalau memang dianggap sudah cukup. Itu. Nah, dalam masa tenggang tiga hari ini, di samping tadi dilakukan pendalaman, pengumpulan barang bukti dan saksi, maka yang bersangkutan juga diberikan kesempatan, atau dilakukan pemeriksaan lanjutan yang disebut dengan asesmen itu," lanjut Arman.

Arman mengatakan, hasil dari pemeriksaan terhadap yang diduga pengguna narkotika bisa diketahui dalam waktu 3-4 hari. "Kalau jenis narkoba yang lain mungkin satu minggu, katanya.

"Nah kalau udah lebih dari itu, dari 3 atau 4, 2 atau 3 hari ini, maka akan hilang, seperti kita makan obat, kalau kita minum obat batuk sekarang, kita buang air kecil, pasti terdeteksi jenis obat batuk apa tadi yang diminum. Tapi kalau ditunggu besok setelah kita minum, itu kalau dicek lagi, dia tidak akan terdeteksi. Tetapi, kan kita sudah ada assesmen, gitu lho. Asesemennya itu bukan hanya dari urinenya tadi. Asesemen iti terdiri dari tiga, yang pertama adalah pemeriksaan secara fisik, observasi dan wawancara. Jadi, kalaupun sekarang misalnya tidak positif, ya kan ada hasil asesemennya," pungkas Arman.


Simak Juga 'Andi Arief Jalani Pemeriksaan Kedua di RSKO':

[Gambas:Video 20detik]



(mea/mea)